
Di Manor Gym terlihat Briptu Scarlet bersama dibagian polisi lainnya sedang menunggu target datang.
Mereka mengawasi dengan teliti para pengunjung gym yang datang kala itu.
Sudah tiga jam berlalu tapi belum ada tanda kemunculan pria tersebut di sini. Apa Mungkin dia merubah waktunya, batin Briptu Scarlet.
Berulang kali dia melihat jam tangan hitam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.
Satu agen polisi yang mengetahui kecemasan rekannya itu dan juga dia rasakan memberikan saran untuknya.
“Coba hubungi saja salah satu dari mereka.”
“Kau benar. Aku akan menghubunginya, sekarang.”
Setelah menjawab begitu, Briptu Scarlet keluar dari area gym. Sengaja. Agar pengunjung yang lain tidak mendengar percakapannya juga resah mendengarnya.
“Sebaiknya aku hubungi Carl saja. Dia pasti juga bersama dua agen polisi tersebut,” gumamnya lirih.
Ia mengeluarkan ponselnya dan dengan cepat menghubungi nomor Detektif Carl.
“Kenapa, dia tak kunjung mengangkatnya juga?” protesnya, hingga pada jaringan terakhir telepon masih belum diangkat juga.
“Halo, Scarlet. Aku hampir saja meneleponmu untuk memberitahumu.” jawab suara di ujung sambungan telepon setelah 3 kali mengulangi panggilan.
“Carl, kami sudah menunggu target datang kemari tapi hingga saat ini belum ada tanda-tanda kemunculannya sama sekali.” balasnya cepat.
“Menurutku target tak akan datang ke Manor Gym kali ini.”
“Kenapa?” tanya Briptu Scarlet penasaran.
“Target datang kemari namun lagi-lagi dia lepas di saat kami sudah merasa membuka topengnya. Meskipun begitu aku sudah meninggalkan tanda luka di telapak tangan kanannya, dan itu memudahkan untuk mencari pelakunya,” tuturnya panjang lebar menjelaskan.
__ADS_1
Panggilan berakhir beberapa saat setelahnya dengan senyum tersungging di sudut bibir Briptu Scarlet. Sungguh, Sebuah usaha keras tak akan menghianati hasilnya.
***
Pada hari keempat misi, tampak Detektif Carl berusaha keras mencari pelaku sesungguhnya. Ia harus menyelesaikan misinya sebelum deadline berakhir.
Ditemani dengan tiga agen polisi, ia menyesal restoran tempat ia makan sebelumnya dan bertemu dengan chef yang dia duga sebagai pelakunya.
“Mau pesan apa, Tuan?” tanya waiter menatap Detektif Carl.
“Aku tidak ingin memesan sesuatu tapi aku ingin bertemu dengan seseorang.”
Waiter tadi mengangkat kedua alisnya tak mengerti siapa yang dicari.
“Aku ingin bertemu dan bicara langsung secara pribadi dengan chef yang ada di sini.”
“Tapi, Tuan saat ini chef kami sedang sibuk. Anda bisa lihat sendiri banyaknya pengunjung kali ini.” larangnya, membuat Detektif Carl jengah.
“Kami polisi. untuk penyelidikan cepat antarkan kami pada Chef yang dimaksud oleh Detektif Carl!” hardiknya tanpa segan-segan lagi.
“Po-polisi?! Ba-baik. Aku akan mengantar kalian.” jawab waiter ketakutan mendengar kata polisi disebut.
Waiter lalu mengantar mereka berempat menemui chef.
“Chef Watson, ada yang ingin bertemu denganmu,” ucapnya.
Chef tadi segera berbalik dan menatap 4 orang yang datang mencarinya. Antara rasa terkejut juga takut, dia memberanikan diri untuk bertanya.
“Ada apa agen polisi datang kemari mencariku?”
“Kami perlu memastikan sesuatu. Tolong bekerja samalah dengan kami untuk keperluan penyelidikan.” ujar agen polisi.
__ADS_1
Meski takut dan ingin menolak namun chef dari restoran tersebut menerima perintah dari agen polisi.
Dua agen polisi lain kemudian maju dan memeriksa telapak tangan juru masak tersebut.
“Tak ada luka di telapak tangan kanan pria ini, seperti yang kau bilang,” ucapnya lalu menatap detektif Carl.
“Chef Watson, aku ingin bertanya padamu Bagaimana kau mendapatkan luka di telapak tangan kiri itu?”
Ia menatap telapak tangan kiri juru masak yang masih terbelit oleh perban.
“Ini akibat kecelakaan saat memasak. Telapak tangan kiriku tak sengaja terkena spatula panas setelah membalik pizza,” tuturnya.
“Sebentar.” Detektif Carl kurang yakin saja dan ia menggulung kedua lengan Chef Watson.
Tak ada tato ular di lengan ataupun gelang bersimbol ikan menelan bom.
“Kau tak mempunyai aksesoris seperti ini?”
Seorang agen polisi menunjukkan foto gelang anggota Black Jack.
Chef Watson menggalang dengan cepat karena memang tak mempunyai item seperti itu.
Setelah satu jam lamanya mereka melakukan interogasi, barulah mereka melepas juru masak restoran tadi. Juga menyatakan pria itu tak bersalah.
Di lain tempat para agen polisi menyebar untuk melakukan pencarian semua tempat. Mencari pria dengan kedua telapak tangan terluka.
Siang hari.
Sherif Sherma keluar dari kantor polisi untuk pergi ke supermarket. Putrinya yang berusia 15 tahun baru saja mengirimnya pesan kita bahan masakan di rumah habis, terpaksa ia belanja.
Pria berseragam itu berjalan di tengah keramaian menuju ke supermarket terlengkap yang ada di sana.
__ADS_1
Dai jarak tiga meter di depannya ada seorang pria yang berjalan dengan santai dengan kedua telapak tangan terbelit perban.