
Tak lama kemudian detektif Carl tiba di sebuah kantor polisi yang ada di distrik A. Ia memarkir mobilnya kemudian berjalan menuju ke pintu sebuah bangunan dan lantai yang terbuat dari kayu dan di poles cantik dengan plitur warna coklat gelap mengkilap.
Di sebelah kantor polisi tersebut terdapat banyak bangunan gedung tinggi dan jalanan di depannya terlihat padat merayap.
Udara di sana terasa panas Meskipun banyak pohon hijau yang berada di sekitar kantor kepolisian tersebut.
Hampir saja detektif Carl menarik cuckoo merah yang ada di pintu, seseorang membuka pintu terlebih dulu.
“Detektif Carl ?!” sapa seorang polisi berseragam biru muda polos dengan bawahan celana panjang hitam menatapnya.
“Apakabar Sherif Dawson.” sapa detektif Carl tersenyum tipis.
“Ada apa kemari setelah 3 bulan lebih kau tak pernah muncul kemari. Apa ada kasus baru ?” cerocos pria berambut blonde keriting itu.
“Aku ingin bertemu Scarlet.”
“Scarlet ada yang mencari mu, red cuckoo mu.” Sherif is a Dawson berbalik ke belakang dan berteriak lantang memanggil wanita yang dicari oleh detektif.
Ya, red cuckoo adalah julukan untuk Detektif Carl di antara para agen kepolisian. tentunya mereka memberinya julukan seperti itu karena adanya suatu alasan.
Semua itu karena ketangkasan detektif Carl dalam menangani setiap kasus yang ada dan bergerak cepat dalam mengintimidasi tersangka kasusnya selama ini seperti cuckoo kebanggaan warga Swiss yang bahkan mengalahkan pamor seekor singa dan menjadi iconic di sana.
Dari sebuah ruangan di sisi timur yang berseberangan dengan dua ruangan lainnya keluar seorang wanita setelah pintu terbuka dan langsung menuju ke sumber suara yang memanggilnya.
__ADS_1
“Sherif Dawson.” sapa wanita seksi, tinggi dan cantik itu menyikut lengan pria bertubuh sedikit tambun.
“Yah, aku mengerti maksudmu. Aku juga ada tugas di luar.” balas pria itu mengerti maksud kode mata yang Scarlet lempar padanya.
Sherif Dawson kemudian segera pergi dari sana dengan membawa berkas menuju ke tempat parkir untuk menjalankan tugas.
“Carl, ada apa kau kemari ? Apa kau sedang mengerjakan sebuah kasus ? Atau ada urusan denganku ?” ucap wanita berusia 26 tahun dan 2 tahun lebih muda dari detektif Carl, membuka pintu lebar agar pria itu bisa masuk.
“Aku sudah mengerjakan kasus dan aku butuh bantuan mu.” jawabnya ikut berjalan masuk saat Scarlett masuk.
Mereka berdua kemudian masuk ke ruangan Scarlet dan duduk berhadapan.
“Jadi kasus apa yang sedang kau kerjakan saat ini ?” tanya wanita bermata coklat itu to the point sembari menatap monitor komputer di depannya.
Scarlet menautkan kedua alisnya. Karena nama yang disebut oleh pria itu sudah lama menghilang dari peredaran.
“Tapi sebelum kau memberikan data dapat itu padaku, aku ingin membahas tentang kita. Kau tahu sudah lama kita tak berkencan. Lebih dari empat bulan ini kau selalu sibuk hingga tak ada waktu untuk kita berdua.” ucap pria itu panjang lebar menjelaskan kerinduannya pada sosok kekasihnya tersebut.
“ehm... Carl aku bisa membantumu memberikan data Ashley Cole.” jawab Scarlet dengan tatapan tajam sembari menggeser kursinya maju agar lebih dekat lagi dengan pria itu.
Bahkan ia juga mencondongkan tubuhnya ke depan dan mendekatkan wajahnya sedekat mungkin hingga hidung mancung mereka berdua beradu.
“Untuk masalah kencan kita, bisa kita bahas di luar kantor saja.” ucap Scarlet tegas meskipun dia hanya diam saja saat detektif Carl mengusap pipinya.
__ADS_1
Tepat di saat bibir mereka berdekatan dan detektif Carl akan mencium bibir merah itu, Scarlet naik tubuhnya mundur dengan cepat sembari menggeser kursinya ke belakang.
“haah.” detektif Carl mendengus kesal dengan tingkah wanita di hadapannya itu yang membuatnya kecewa karena gagal menciumnya, namun hal itu sudah biasa baginya.
“Baiklah aku butuh bantuanmu dan aku akan menunggu data tersebut.” pria itu langsung memalingkan muka ke arah lain agar tidak fokus terus pada Scarlet.
Scarlet Tiffany kemudian segera menatap monitor di depannya dan mengetikkan nama yang dicari oleh detektif Carl.
“Ini berkasnya.” tak perlu waktu lama dan hanya butuh waktu 5 menit saja wanita itu kemudian mencetak hasil data yang memang terekap di data kepolisian lalu memberikannya pada detektif Carl.
Detektif Carl menerima data tersebut dan langsung membacanya.
“Empat bulan terakhir ini dia vacuum ?” pekiknya membaca data yang di terimanya.
“Aku mau bilang hal itu tadi padamu tapi sebaiknya kau baca sendiri.” Scarlet menimpali dengan singkat dan bersikap profesional.
“Aneh sekali seorang pencuri besar seperti dia vakum dalam 4 bulan ini ?” batinnya merasa ada sesuatu yang janggal. “Atau mungkin polisi tak mengetahui aktivitas pria itu 4 bulan belakangan ini ?” batinnya lagi karena tak mungkin seorang pencuri besar akan berhenti ketika sedang berada di puncaknya.
“Scarlet terimaksih atas data yang kau berikan padaku.” detektif Carl kemudian berdiri. “Ini dariku sebagai ganti dari kebaikan mu.” ia mengeluarkan sekuntum mawar merah yang tadi dibelinya di jalanan lalu menaruhnya ke meja.
Ia segera keluar dari ruangan itu dan bergegas menuju ke tempat parkir.
“Carl, tunggu !” Scarlet berusaha mengejar namun pria itu sudah tak ada di tempat parkir dan terpaksa ia kembali lagi ke ruang kerjanya. “Padahal aku juga rindu padanya dan ingin...” gumamnya kecewa.
__ADS_1
Ia pun duduk kembali sembari mengambil sekuntum mawar merah dari mejanya dan menciumnya.