Super Sistem Detektif Kaya

Super Sistem Detektif Kaya
Eps. 160 Tuan Dawn Terpojok


__ADS_3

Tuan Dawn tak bisa berkilah memang sapu tangan miliknya hilang entah ke mana, ternyata ada di ruangan Tuan Fredy.


Bagaima bisa sapu tanganku itu ada di sana? Aku benar-benar tidak membawa sapu tangan saat pergi ke ruangan Tuan Fredy.


Tuan Dawn semakin gemetar mendengar apa yang dituduhkan pada dirinya. Kali ini bagaimana dia menyangkal. Apakah ucapannya akan dipercaya oleh Detektif Darcy dan juga semuanya?


“T-tolong semuanya tenang dan jangan menghakimiku seperti ini,” ucap Tuan Dawn. Ia tak bisa berkilah lagi saat beberapa orang maju mendekatinya dan menyudutkan dirinya.


“Apa lagi yang bisa kau jelaskan, Tuan Dawn? Bukankah semuanya sudah jelas?” Bukan Detektif Darcy yang menyudutkannya seperti itu, tapi tamu undangan yang lain.


Dengan mudahnya mereka percaya pada semua ucapan detektif Darcy, meskipun semua argumen itu belum selesai. Bagi mereka tak ada yang salah dengan apa yang diucapkan oleh seorang detektif. Jadi apa yang diucapkan dan keluar dari mulut seorang detektif mutlak benar adanya.


“Sungguh sapu tangan itu memang milikku. Aku memang mencarinya karena menemukan di kamar. Sapu tangan itu penting bagiku, karena aku penderita sinus dan gampang flu jika suhu udara di sekitarku dingin. Perlu diketahui aku memakai sapu tangan karena alergi dengan tisu,” papar Tuan Dawn panjang lebar.


“Alasan saja kau!” hardik tamu undangan.

__ADS_1


“Selama ini kau tampak sehat dan tak pernah sedikitpun aku melihatmu flu. Kurasa alasan itu hanya akal-akalanmu saja, Tuan Dawn!”


Tuan Dawn sampai membuka lebar kedua tangannya kemudian menggoyang sebagai tanda menolak tuduhan mereka. Ia berpikir keras bagaimana lagi caranya menjelaskan pada mereka semua agar mengerti.


Dia memang pengidap sinusitis. Meskipun sebelumnya dinyatakan sudah sembuh setelah menjalani operasi meski tak menutup kemungkinan bisa kambuh kembali terlebih di cuaca dingin. Namun gejala flu itu bisa mereda kembali jika tubuhnya hangat. Dan flu itu pun segera reda.


“Tuan Dawn. Kau mencampurkan nitrat dan oksalat pada kopi Tuan Fredy,” ucap Detektif Darcy kembali menyerangnya.


Berdasarkan hasil investigasi, di ketahui jika Tuan Fredy dua jam sebelum ambruk sempat meminum kopi di kamarnya. Dan saat itu Tuan Dawn yang mengajaknya minum kopi bersama. Bahkan kopi yang diminum oleh Tuan Fredy adalah kopi pemberiannya.


“Tidak! Campuran apa? Aku memang membawakan kopi untuk Tuan Fredy, tapi kopi itu aku memintanya pada pelayan bukan aku sendiri yang membuatnya,” sangkalnya kembali.


Penyangkalan itu kembali membuat Detektif Darcy meradang. sama bukti sudah ditemukan dan mengarah padanya kenapa masih belum mau mengaku juga?


“Tuan Dawn! Mengakulah! Agar hukuman untukmu nanti lebih ringan,” hardik salah satu tamu undangan, dengan geram.

__ADS_1


Tuan Dawn menggelengkan kepalanya dengan berkeringat dingin. Kenapa yang terjadi padanya tak bisa disangkalnya. Bahkan seolah sudah direncanakan oleh seseorang.


Apa memang ada yang merencanakan semua ini dan menjebak diriku? Siapa? Dan kenapa?


“Tuan Dawn! Apa kau masih ingin berkelit?” hardik Detektif Darcy. “Baiklah aku akan tunjukkan bukti lainnya padamu. Apa kau masih akan tetap bisa menyangkal seperti yang sebelumnya?”


Ia lalu mengungkap tentang kasus yang menimpa Tuan Jason. Dari hasil investigasinya, Tuan Dawn terlihat bicara dengan Tuan Jason 30 menit sebelum pria itu ambruk. Dan sebelumnya mereka berdua sempat beradu mulut, entah apa urusan sebenarnya. Hanya itu yang nampak pada rekaman CCTV tanpa audionya.


“Oh! Astaga... aku benar memang bicara dengan Tuan Jason. Aku tak memberinya apapun saat itu dan kami hanya bicara seputar bisnis saja. Tuan Jason menyinggung hingga membuatku marah,” terang Tuan Dawn, masih berkeringat dingin.


Ia benar-benar bingung seperti terpojok dan tak ada tempat lagi untuk lari meskipun ia merasa tak melakukan semua itu. Sebenci apapun dia pada orang Dia takkan pernah kalap mata apalagi sampai meracun dan membunuh orang. Akal sehatnya masih berfungsi dengan normal.


Dari kejauhan, seorang pria mengulas senyum lebar. Sepasang mata hazelnya menatap Tuan Dawn.


Pria itu kemudian melenggang pergi dari sana, tak ada bolehnya mendengarkan paparan Detektif Darcy.

__ADS_1


“Tunggu! Anda tak bisa pergi dulu, Tuan. Paparan belum selesai.” Leo menghadang pria tersebut, setelah sebelumnya mendapatkan perintah dari Detektif Carl untuk mengawasinya.


__ADS_2