Super Sistem Detektif Kaya

Super Sistem Detektif Kaya
Eps. 225 Kembalinya Detektif Carl


__ADS_3

“Kau?” Baik Detektif Darcy dan Briptu Scarlet terkejut menatap sosok yang kini masuk rumah, tanpa undangan.


“Carl? Apa aku bermimpi?” pekik Briptu Scarlet terkejut.


Ia benar-benar tak percaya melihat sosok yang dilihatnya kali ini, memang sosok lelakinya. Bahkan ia sampai mencubit tangannya berulang kali dan merasakan sakit setelahnya.


“Aku tidak bermimpi. Itu artinya kau memang nyata.” Briptu Scarlet mengulas senyum lebar dan disaat bersamaan sepasang bola matanya berembun.


“Carl!” Briptu Scarlet langsung berhambur pada pria itu. Ia langsung mendekapnya erat.


“Kau dari mana saja? Aku sudah mencarimu berulang kali.”


Detektif Carl tak merespon pertanyaan wanitanya. Ia hanya membalas pelukan Briptu Scarlet.


“Bagaimana kau bisa selamat? Semua tim pencarian yang dikerahkan tidak menemukanmu,” ujar Briptu Scarlet.


Ia penasaran sekali pada lelakinya terlebih kondisinya saat ini sama sekali tidak terluka sedikit pun. Itu aneh sekali dan mengejutkan, di mana semua korban yang ditemukan di sana kondisi yang selamat saja buruk. Mereka terluka parah atau yang lainnya malah meninggal. Tapi Detektif Carl? Dia seperti bukan korban kecelakaan jatuhnya pesawat Canary Airlines saja.


Flash back on


“Di mana aku?” rintih Detektif Carl membuka mata saat mendengar ponselnya yang berdering nyaring.


Kesadarannya belum sepenuhnya pulih saat ia menyapukan sepasang bola matanya ke sekitar.

__ADS_1


“Pohon lebat? Di mana aku?”


Ia mencoba tenang dan berpikir dengan jernih. “Ya, aku terjun dari pesawat dengan parasut. Ini... Berati aku ada di hutan.”


Pikirannya sudah sepenuhnya kembali. Ia kemudian melihat posisinya sendiri. Dia berada di sebab pohon yang menjulang tinggi sekali, entah berapa tingginya. Yang jelas pohon itu setinggi langit di angkasa jika dilihat dengan mata kasar.


Ia terjepit di antara empat pohon yang mengapit tubuhnya. Untuk bergerak saja dia tidak bisa, apalagi turun dari pohon tersebut.


“Apa lagi yang terjadi padaku?” Detektif Carl mencoba menggeser kakinya, namun tak sedikitpun kakinya itu bergerak.


Di tengah pikirannya yang kaca Dia teringat ponselnya tadi berdering. Beruntung, pasti kedua kakinya terjepit tak bisa digerakkan tapi kedua tangannya bebas bisa bergerak.


Ia lalu mengeluarkan ponsel dari saku bajunya yang masih utuh dan memeriksanya.


“Scarlet meneleponku?” Sengaja ia tak mengangkat panggilan dari wanitanya saat ponsel itu berdering kembali.


“Aku tidak tahu sudah berapa lama aku berada di sini dan tak sadarkan diri?”


Detektif Carl kembali menatap ponsel di tangannya untuk melihat kalender. Ternyata dia sudah dua hari berada di sini dalam keadaan tak sadarkan diri.


Di tengah pikirannya yang teringat pada sistem. Maka ia pun mencoba mencari item yang bisa digunakan untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Mungkin saja itu tersedia di sana.


“Sistem, aku butuh alat yang bisa kupakai untuk melepaskan diriku dari sini. Aku butuh alat pemotong atau sejenisnya.”

__ADS_1


Sistem pada layar ponselnya pun kemudian aktif.


Pesan dikonfirmasi. Ditemukan alat sesuai dengan permintaan. Ada sepuluh item yang merupakan satu rangkaian yang bisa digunakan untuk memotong.”


“Apa? Jadi aku harus membeli 10 item ini sekaligus? Apa tidak ada satu item langsung yang berfungsi untuk memotong?”


Harga per item yang tertera tergolong mahal, apalagi jika ada 10 item yang harus dibelinya. Tinggal mengalikan saja berapa totalnya.


Harga mahal karena item yang dicari bukanlah item yang diperlukan oleh seorang detektif dalam menjalankan sebuah misi.


“Bahkan poin yang kudapatkan dari misi ini pun sampai habis, malah akan mengambil poinku yang lain. Tapi tak apalah, yang penting aku bisa keluar dari sini dulu. Aku mau sepuluh item itu.”


Pada akhirnya, Detektif Carl kan pun harus merelakan 200.000 poinnya untuk membayar item tadi.


Butuh waktu lama ternyata untuk melepaskan dirinya dari sana. Medannya begitu sulit meski dia sudah menggunakan item canggih. Butuh lima hari baginya untuk keluar dari sana.


Selain itu dia juga memakai poinnya untuk keperluan perut dan perjalanannya yang juga tidak murah biayanya.


Flash back off


“Aku tak menyangka nyawamu banyak seperti kucing. Kukira kau sudah mati di hutan sana,” sindir Detektif Darcy.


“Aku tidak akan mati terlebih saat kau sedang merayu wanitaku seperti ini. Langkahi dulu mayatku jika kau berani menggodanya. Bahkan meski aku mati sekalipun, aku akan tetap mendatangi mu Darcy.”

__ADS_1


**


Slow update. Karena makin dikit like nya, comment nya juga... Jujur penulis lemaess gaes...


__ADS_2