
“Kenapa mereka belum juga menemukan Carl?” Mood Briptu Scarlet naik turun seperti ombak menggulung.
Beberapa waktu yang lalu moodnya bagus, dan sekarang tiba-tiba berubah cemas lagi.
Briptu Venus tak berani berkomentar sama sekali. Ia takut salah ucapin akan memperburuk kondisi dan situasi saat ini.
Mungkin saja Detektif Carl sudah meninggal jauh di dalam hutan sana. Sadarlah Scarlet, dan kau harus menerima kenyataan itu.
Tentunya semua itu hanya Briptu Venus ucapkan dalam hatinya saja. Dia hanya menepuk bahu familinya itu berulang kali.
“Kita lanjutkan pencarian sampai satu jam ke depan,” ujar salah satu anggota tim.
Keputusan itu dibuat bukan sembarangan tapi setelah berdiskusi dengan anggota tim semuanya yang ada. Area hutan semakin sulit untuk ditembus.
Bukan hanya karena banyaknya pepohonan yang tumbuh tidak beraturan saja, tapi juga karena kondisi sekitar yang semakin gelap. Sedangkan mereka tak membawa sentrer atau penerangan lainnya.
“Apa?Tidak, Tolong jangan hentikan pencarian ini. Aku datang jauh-jauh kemari untuk mencari seseorang. Jangan hentikan pencarian sebelum dia ditemukan.” Briptu Scarlet langsung menghampiri salah satu anggota. Ia memohon pada mereka dengan tatapan iba.
Salah satu anggota tim menghela napas berat, mendengar permintaan Briptu Scarlet.
“Nona, kami tahu bagaimana perasaanmu. Tapi kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Semoga keluarga yang kau cari ditemukan satu jam ke depan jika tidak kami akan melanjutkan pencarian di esok hari.”
__ADS_1
Briptu Scarlet ikut menarik napas panjang. Dia tak bisa memaksa, karena sesama agen dia mengetahui seperti apa aturan yang berlaku. Sebuah perintah adalah keputusan yang tak bisa diganggu gugat. Suka ataupun tidak suka, tetap harus dijalankan sesuai perintah.
“Kita lakukan pencarian sekarang.” Seorang anggota tim pencarian kemudian bergegas dan diikuti oleh anggota tim lainnya.
Setelah melakukan pencarian selama satu jam mereka kembali lagi.
“Bagaimana, apakah kalian menemukan Detektif Carl?” Kali ini yang bertanya Briptu Venus, bukan Briptu Scarlet.
Dari raut muka apa Tim sebenarnya adalah sudah terlihat dan bisa dibaca meski mereka tak menjawab, hanya dengan menunjukkan raut sedih mereka.
“Oh, tolong besok cari lagi Carl sampai ketemu,” pinta Briptu Scarlet.
Setelah para tim keluar dari hutan, Briptu Scarlet pun kembali Bersama Briptu Venus.
***
Dia hanya mendapatkan cuti selama dua hari kerja saja, mengingat cuti yang sebelumnya sudah dia ambil. Jadi meskipun pencarian belum selesai dia harus segera kembali ke Swiss untuk bekerja.
Dari pencarian hari ini sampai sore pun, tetap saja mereka belum menemukan Detektif Carl.
“Carl, kau ke mana?” Briptu Scarlet hanya meremat kedua tangannya saat pesawat mengudara menembus awan tebal yang bergumpal.
__ADS_1
***
“Kami turut berduka atas apa yang terjadi pada Detektif Carl,” ujar Nyonya Paula dan Tuan Colton di kantor Detektif Carl.
Mereka merasa senang dan lega pria itu berhasil menangkap pelaku pembunuhan putri mereka. Tapi mereka juga Terpukul dengan berita mengenai hilangnya detektif Carl yang hingga tujuh hari setelah kejadian belum ditemukan juga.
Bahkan pencarian pun resmi ditutup oleh pihak dari Perancis. Karena mereka sudah tak menemukan korban lagi sampai detik ini.
“Terima kasih, Tuan dan Nyonya. Tapi Detektif Carl masih hidup, aku yakin itu,” balas seorang pria dengan beberapa luka di tangan yang sudah mengering.
Pria itu tak lain tak bukan adalah Leo. Dia sudah dinyatakan boleh dan tinggal menunggu luka luar kering saja.
Dia benar-benar syok mendengar berita hilangnya Detektif Carl.
“Baik, kami pergi dulu. Terima kaish atas semuanya. Semoga Detektif Carl segera di temukan.”
Nyonya Paula dan Tuan Colton keluar dari kantor setelah menyerahkan amplop coklat pada Leo.
Dia pun mengulas senyum tipis sebelum orang tua Amy itu menghilang dari pandangannya.
“Detektif Carl, kau bilang padaku akan pulang kembali dengan membawakan hadiah untukku. Aku percaya kau akan menepati janjimu dan segera kembali ke sini.”
__ADS_1
Leo masuk kembali ke kantor dengan raut kesedihan yang tergambar jelas di wajahnya.