
Dua agen polisi tadi kemudian membiarkan Okto begitu saja dan pergi bersama rekan yang lain.
Hiss! Octo yang kini terkapar dengan penuh luka tembak berusaha untuk duduk. Dengan peluru yang bersarang di paha, membuatnya kesusahan untuk duduk.
Bahkan para napi yang melihat itu pun tak menolong Octo. Bukan mereka tak mau menolong, tapi takut dan segan mau menolongnya karena tatapan mata dari Sherif Tasman sangat menakutkan.
“Kasihan sekali kau, tak ada yang berani menolongmu. Aku akan menolongmu.” Detektif Carl menghampiri Octo.
Ia kemudian berjongkok dan membantunya berdiri. Tanpa menunggu jawaban dari Octo, dia pun menyeret pria itu.
Hiss! Tentu saja Octo merasa lengan dan kakinya nyeri saat diseret kasar dan cepat begitu.
Melihat Octo yang meringis kesakitan, bukannya Detektif Carl memperlambat, namun malah mempercepat langkahnya. Dan tentu saja, Octo kembali merintih.
Tapi ia hanya bisa pasrah saat diseret karena sudah tak berdaya lagi.
“Sherif Tasman akan menghukum kalian karena lalai seperti ini. Bawa dia.” Detektif Carl menyerahkan Octo pada agen polisi di depan mobil patroli.
“Apa kau punya pesan untuk saudara kembarmu?” tanya Detektif Carl menatap Octo sebelum pintu mobil tertutup.
“Tapi pria itu menjawab dan hanya menatapnya tajam saja hingga pintu mobil tertutup dan meluncur dengan cepat.
“Hah! Akhirnya selesai juga misi ini.”
Detektif Carl berjalan menuju ke mobil Sherif Tasman yang menunggunya di ujung jalan pintu keluar hutan.
__ADS_1
“Lama sekali kau jalan. Apa mengatasi mereka saja tenaga mu sudah habis?” ujar Sherif Tasman.
Pria itu sampai menunggu di luar mobil dan bersandar ke mobil.
“Santai dulu. Aku ingin bernapas sebentar.” Detektif Carl mengeluarkan sebatang rokok lalu menyulutnya. “Kau mau, Sherif?” Ia mengeluarkan sebatang rokok lagi dan memberikan pada rekannya itu.
Sherif Tasman menerima rokok itu dan segera menghimpitnya diantara kedua bibirnya lalu menyulutnya.
“Agen kepolisian di sini turut terbantu dengan aksimu, Detektif Carl. Aku tak tahu harus memberimu apa sebagai ganti dari rasa terima kasih kami.”
“Kau ini seperti sedang bicara dengan siapa saja? Kita kan rekan. Mungkin suatu saat kau yang membantuku di saat aku membutuhkan bantuan.”
Tampak asap rokok dari dua pria itu memenuhi udara sekarang.
“Ini sebuah tawaran untukmu. Ada tawaran kerja sama dari kantor polisi sini untukmu menjadi rekan dalam misi penangkapan hiu besar. Apa kau mau ambil?”
“Kurang tahu. Mungkin paling cepat satu bulan dan paling lama enam bulan.”
Detektif Carl diam berpikir sembari membentuk gumpalan asap berbentuk lingkaran yang ia lepaskan ke udara dengan teratur.
Ia teringat pada kantornya. Jika dia meninggalkannya siapa yang akan menangani kasus para klien yang datang? Tak hanya itu saja yang dia ada masker jika menerima tugas dari Sherif Tasman.
Jika aku pergi, maka Darcy akan semakin berkuasa di sana. Lalu tentang Scarlet, aku sangat khawatir padanya. Jika aku pergi maka Darcy akan menggodanya.
“Bagaimana, apa kau mau bergabung dengan kami?” Sherif Tasman kembali menegaskan karena belum ada respon.
__ADS_1
Detektif Carl membuang puntung rokok ke tanah lalu menginjaknya. Sejujurnya, jiwa berpetualangnya tinggi. Dia suka jika ada misi yang menantang Terlebih jika sampai di luar daerah kekuasaannya.
Tapi satu alasan, tak selamanya dia dalam usia muda terus. Dan bukan saatnya berpetualang lagi. Sekarang saatnya memantapkan diri.
“Maaf, Sherif Tasman. Bukannya aku tak mau bergabung denganmu dalam misi ini. Tapi aku barusan berbenah mengurusi kantorku, aku tak bisa meninggalkannya dalam waktu lama. Kau tahu itu,” papar Detektif Carl.
Nampak kekecewaan di wajah Sherif Tasman dengan penolakan itu. Sebenarnya bukan tanpa alasan dia menawarkan kerjasama itu pada Detektif Carl.
Ia menilai kinerja Detektif Carl bagus, cepat dan tepat. Hal itu cocok untuk menangkap gembong ******* kelas kakap di Perancis yang meresahkan dan sudah lama mereka buru.
“Jika kau butuh bantuan dan tak bisa mengatasi aku akan membantumu,” tukas Detektif Carl, menepuk bahu Sherif Tasman.
***
“Pesawat tujuan Swiss akan tinggal landas dalam waktu 15 menit lagi. lBgi penumpang yang belum naik ke pesawat, diharapkan segera merapat.”
Sore hari setelah Detektif Carl selesai berkemas dan beristirahat sebentar di hotel, dia memesan tiket untuk kembali.
Sherif Tasman ikut mengantar Detektif Carl ke Airport meskipun Sebenarnya dia sibuk sekali hari ini di kantor. Dia akan meluangkan sedikit waktunya untuk rekannya.
“Sampai jumpa, Sherif Tasman.” Detektif Carl segera melangkah pergi menuju ke pesawat, meninggalkan Sherif Tasman yang masih berdiri di samping mobil.
“Sampai jumpa.”
Di dalam pesawat, Detektif Carl langsung menuju ke tempat kursi yang kosong. Beberapa saat setelahnya pesawat mengudara.
__ADS_1
“Tidurlah kalian semua. Sebentar lagi semua penumpang yang ada di pesawat ini akan tidur terlelap untuk selamanya.” Seorang pria misterius mengulas seringai tipis dari sebuah ruangan dengan membawa bom.