
“Baik, jika begitu tolong buatkan janji bertemu dengannya besok.” Iseng Detektif Carl mengatakannya.
Pria itu kemudian segera pergi setelah berkata demikian.
“Tuan, tunggu!” Petugas security memanggil. “Siapa namamu?” Dengan setengah berteriak.
“Carl,” ujar Detektif Carl singkat, berbalik sebentar dan berlalu pergi.
“Carl siapa? Tuan, tunggu! Informasi yang kau berikan tidak lengkap!” Namun sayangnya, Detektif Carl sudah menghilang saat ia mengejarnya.
Petugas security kemudian kembali ke posnya. Ia lalu menyampaikan tapi tidak tahu apakah tuan mudanya mau menemui Detektif Carl atau tidak besok. Karena informasinya tidak jelas sama sekali. Sedangkan Octo meminta data tamu yang akan menemuinya harus selengkap mungkin.
***
Detektif Carl kini berada di depan sebuah kantor kepolisian wilayah Prancis.
“Terima kasih, sudah mengantarku kemari.” Detektif Carl menyerahkan selembar uang pada sopir taksi setelah turun dari mobil.
Dia sengaja naik taksi ke kantor polisi. Mungkin jika saja ia menelepon agen polisi di sana akan dijemput oleh rekannya, tapi ia lebih suka naik taksi sendiri daripada di jemput.
Dia tak ingin terikat oleh apapun baik itu waktu, atau pun sebuah balas budi.
__ADS_1
Detektif Carl kemudian mengetuk pintu tiga kali. Pintu terbuka setelahnya. Seorang agen polisi menyembul dari balik pintu.
“Bonjour, Carl.”
“Bonjour, Sherif Tasman.”
“Kenapa tak bilang saja? Aku akan datang menjemputmu.” Sherif Tasman menepuk bahu Detektif Carl berulang kali lalu mengajaknya untuk masuk.
Pria berambut blonde itu terlihat senang ada yang mengunjungi nya. Mungkin karena mereka teman lama dulunya saat pendidikan dulu. Selain itu mereka sebaya.
Saat awal pendidikan dulu detektif Carl tak hanya mengikuti kelas di Swiss tapi juga dikirim ke beberapa negara. Ternyata hubungan mereka tetap terjaga dengan baik sejak saat itu sampai sekarang.
“Apa yang membawamu kemari?” tanya Sherif Tasman.
“Oh, si merah dari laut, Octopus maksudmu?” Detektif Carl mengangguk, kembali mengulas senyum tipis.
Dengan santai dia menyandarkan bahu ke kursi. Sebelumya dia sudah membahas semua tindak kriminal Octopus dengan rekannya itu.
Ia lalu membawa berkas juga barang bukti serta kronologis kejadian kasus pembunuhan Octo, menyodorkannya pada Sherif Tasman.
“Apa rencanamu?” tanya Sherif Tasman.
__ADS_1
Octopus sendiri sebenarnya masih dalam pengawasan oleh pihak kepolisian secara bebas dari sel tahanan setahun yang lalu. Beberapa waktu ini catatannya bersih, namun pihak kepolisian kembali mengawasinya setelah adanya laporan dari Detektif Carl.
“Aku bisa menangkapnya untukmu, Sherif Tasman. Tapi aku ingin bermain sedikit dengannya sebelum menyerahkannya padamu.” Detektif Carl senyum tipis di ujung bibirnya, dan Sherif Sherma tahu maksudnya.
“Jangan sampai membunuhnya.”
“Tentu, aku hanya akan bermain sebentar saja dengannya.”
“Kenapa kau begitu menginginkan dia?” Sherif Tasman penasaran. Tak biasanya rekannya ini bertindak begitu.
“Dia menyentuh asistenku. Setidaknya aku hanya ingin dia sedikit merasa cemas saja.”
“D'accord. Lakukan saja sesukamu. Kau sudah tahu aturan mainnya. Sekarang kita susun rencana cantik penangkapannya.”
Detektif Carl tak menyangka rekannhanya itu akan dengan mudah meloloskan rencananya.
“Begini rencananya...” Ia kemudian menjelaskan rencana kerjasama mereka agar semuanya berjalan lancar.
“Aku suka rencana cerdasmu itu. Baik aku akan buat persiapannya sekarang. Senang bekerja sama denganmu, Detektif Carl.” Sherif Tasman pun merasa sangat terbantu sekali dengan kerjasama itu.
Tentu saja itu memudahkan pekerjaannya sekaligus tetap menjaga hubungan baik di antara mereka.
__ADS_1
Octopus, tunggu saja kau. Kita akan segera bermain.
Dua jam setelahnya detektif Carl keluar dari kantor polisi. Tak sabar ia ingin segera bermain- main dan menjadi executor.