
Agen polisi lain takjub dengan kinerja Detektif Carl yang sungguh berbeda dari yang lain. Di saat yang lain tidak bisa membuka mulut Louis, dia bisa dengan mudahnya membuat pria itu bicara dan mengakui semua perbuatannya.
“Kalian masuk dan urus dia,” ujar Sherif Tasman, berbalik kemudian menatap layar di depannya.
Dalam hitungan detik saja, dua agen polisi kemudian masuk ke ruangan investigasi.
“Pindahkan dia ke sel tahanan khusus,” perintah Sherif Tasman berbalik, menatap dua anggotanya yang barusan masuk.
“Siap, Sherif!”
Dua agen polisi kemudian menghampiri Louis. Mereka lalu segera menyeret Louis pergi dari sana.
“Tunggu!” Detektif Carl menghentikan dua agen polisi tadi.
“Ada apa, Detektif Carl?” Salah satu agen polisi menimpali dan berhenti.
“Ada sesuatu yang tertinggal.”
Topi hitam miliknya tadi masih tersemat di kepala Louis. Dan dia segera mengambilnya kembali. Anehnya, topi itu mudah sekali ditarik, saat Detektif Carl yang mengambilnya. Tidak seperti saat Louis menariknya.
Kenapa tadi aku susah sekali menariknya? Jangan sampai aku bertemu dengannya lagi atau aku akan hancur berkeping-keping di tangannya, batin Louis Sanderman melihat topi hitam itu kini sudah berpindah tempat di kepala Detektif Carl.
__ADS_1
“Sudah, bahwa dia kembali,” tutur Detektif Carl.
Dua agen polisi kemudian kembali menyeret Louis Sanderman. Mereka memasukkan pria itu ke ke dalam sel tahanan khusus, sel tahanan diperuntukkan khusus untuk tahanan dengan kasus jerat hukum berlapis.
“Di sini tempatmu!” Agen polisi mendorong Louis Sanderman ke sebuah sel dengan kasar, hingga pria itu jatuh tersungkur.
“Tidak! tempatku bukan di sini! Keluarkan Aku dari sini!” Louis Sanderman segera berdiri dan menuju ke tepi sel.
Sayangnya sel tahanan tersebut sudah dikunci rapat oleh agen polisi, dan hanya ada petugas sipir yang menjaganya di sana.
Di dalam sel itu, Louis tidak menuruni tempat itu sendirian, ada beberapa penghuni lainnya dalam satu sel tersebut.
“Hei, kau penghuni baru, kemari!” Seorang pria menggunakan pakaian tahanan nomor 2504 memanggil.
Siapa kau? Jangan harap bisa dekat-dekat denganku. Aku tak sama dengan kalian, aku ini seorang artis.
Louis berbalik dan melempar pandangan arah lain, yang membuat badan itu murka.
Dalam sel itu ada aturan yang mereka buat sendiri. Aturan tidak tertulis yang harus dipatuhi oleh semua penghuni sel. Untuk penghuni sel baru, harus mengetikkan diri dan melayani mereka yang sudah senior.
“Sombong sekali kau pria berkulit mulus seperti artis. Aku akan jelaskan peraturannya di sini.” Tahanan nomor 2504 itu menghampiri Louis.
__ADS_1
Tanpa bisa mengelak, juga menghindar, Louis Sanderman pun mendapatkan pukulan dari pria itu.
Akh! Bahkan tak hanya tahanan nomor 2504 saja yang memberi pelajaran Louis, namun tahanan lainnya yang ada di sana pun, ikut maju dan memukuli Louis Sanderman.
Ada lima orang lainnya yang turut memukuli Louis.
***
Brak! Beberapa agen polisi berada di depan sebuah bangunan tua. Mereka mendobrak bangunan itu dengan paksa.
Bangunan itu seperti bekas hotel yang sudah lama tidak terpakai. Di sana banyak kamar-kamar kosong yang tak terpakai.
Hotel itu dicurigai sebagai tempat Louis menyandera para korbannya, para gadis anak kecil.
“Di sini nampak sepi,” ujar seorang agen polisi sudah menyapukan pandangan ke sekitar ruangan.
“Kita periksa setiap ruangan yang ada dulu. Mungkin saja ada sesuatu yang kita temukan di sini.”
Sepuluh agen polisi yang ada di sana kemudian segera bergerak memeriksa setiap ruangan yang ada di sana.
“Tolong! Tolong!” Terdengar suara teriakan seorang anak kecil dari lantai atas.”
__ADS_1
***
Terima kasih untuk kak aru yang selalu kasih tonton iklan, pembaca teraktif. Juga kak penulis lainnya yang kasih koin. Plus pembaca lain yang juga kasih dukungan...