
Detektif Carl kembali menatap ke depan. Enam orang peserta sudah tak terlihat sama sekali, bahkan kini sudah tak terdengar suara kembali.
“Bagus lah jika sepi begini, tak ada yang tahu apa yang akan kulakukan.” Detektif Carl kemudian mengeluarkan ponselnya.
Dia lalu masuk ke aplikasi shop sistem. Bukan bermaksud untuk curang dalam acara ini, tujuan utamanya bukan menjadi pemenang, tapi membawa Octo dalam lubang perangkapnya, dan dia butuh sebuah item.
“Sistem aku butuh item untuk membuat binatang buas menjadi jinak. Atau sebuah item yang bisa membuat binatang buas terpikat hingga mau melakukan apapun.”
Sistem akan mengkonfirmasi perintah. Mohon ditunggu, sistem akan bekerja mencarikan yang Anda minta.
Detektif Carl hari ini kembali melihat ke arah belakang, khawatir dan ada yang melihatnya. Semisal salah satu dari peserta kembali dan melihatnya, tamat sudah dia.
Perintah dikonfirmasi. Ada tiga item, ramuan pemikat semua jenis binatang. Harga tertera bisa dipilih sekarang.
Detektif Carl melihat kandungan yang terkandung pada item tersebut dan membacanya dengan mendetail.
Kenapa item yang bagus harganya selalu mahal?” decaknya kesal.
Tak ada item yang murah di sana harganya mulai dari 5.000 poin sampai 10.000 poin. Sedangkan kandungan di tiap item mengandung festamol yang merupakan sejenis pemikat dalam tingkat yang beragam dimulai dari tingkat terendah sampai tingkat tertinggi.
“Tak apalah jika begitu. Hanya satu item saja tak akan mengurangi poinku yang banyak. Lagi pula sudah lama aku membeli item di sini.”
Detektif Carl kemudian memilih satu item yang berharga paling tinggi, 10.000 poin. Agar mendapatkan manfaat dengan kualitas terbaik.
__ADS_1
“Sistem, aku mau item yang ini.” Detektif Carl lalu menuju item yang dipilihnya lalu memasukkannya dalam keranjang.
Perintah dikonfirmasi. Selamat, Anda berhasil membeli item Blood Admirer ini.
Setelah jumlah poinnya terpotong, muncul sebuah item di tangan Detektif Carl. Item itu berupa cairan sebanyak 60 mili saja.
“Baiklah, aku siap berburu sekarang.”
Setelah memasukkan item Blood Admirer ke balik saku baju, Detektif Carl lalu segera masuk ke dalam hotel untuk menyusul enam orang lain yang sudah masuk lebih dulu.
“Di mana mereka semua? Sudah tak terlihat dari sini.”
Hanya ada pepohonan yang dapat di depannya, sedangkan lima eks napi lainnya tidak terlihat mungkin sudah sampai ke tengah hutan atau lebih dalam lagi.
Malahan kini dia mengeluarkan mikrofon kecil dari balik saku bajunya. Mikrofon dengan ukuran super mini, 0.5 senti. Tapi meskipun kecil dia sangat kuat dan tahan pukul, jadi aman di saku.
Mikrofon itu memang alat komunikasinya dengan Sherif Tasman. Sedari tadi dia belum menghubungi atau pun memberitahu rekannya itu jika acara perburuan telah dimulai.
“Semut 01 masuk, si merah dari laut masih terpantau,” ucap Detektif Carl menekan mikrofon mini miliknya.
Semut adalah kode untuk dirinya dan Sherif Tasman. Sedangkan se merah adalah kode untuk Octopus.
“Semut 02 terima. Menunggu info si merah dari laut terciduk, ganti.” balas Sherif Tasman.
__ADS_1
Setelah berbicara tak sampai satu menit lamanya, Detektif Carl lalu memasukkan kembali mini chipnya itu dalam saku baju.
Ia kembali berjalan untuk menyusul enam orang lainnya.
“Aku belum tahu ke efektifan item yang ke beli tadi. Tak ada salahnya aku coba, kan?”
Detektif Carl hanya ingin menguji saja seberapa efektif item yang dibelinya tadi. Ia kemudian mengeluarkan item tersebut dan meneteskannya sedikit, satu tetes saja. Lalu mengulas pada bagian punggung tangannya.
Tak ada aroma, juga tak berwarna, mirip seperti cairan biasa namun agak pekat seperti lem cair.
“Di mana Carl? Dia tak kelihatan? Apakah dia benar bisa berburu?” Octo bertanya pada yang lainnya.
“Apa mungkin dia sudah di telan harimau di depan?”
“Atau bisa jadi celananya basah saat melihat singa melompat?”
Terdengar gelak tawa dari enam orang tersebut setelahnya. Hanya Alex saja yang diam, tak tertawa. Dia malah tertekan plus takut. Sebenarnya apa yang sedang direncanakan Detektif Carl. Ia yakin pria itu sedang merencanakan sesuatu di belakang sana.
Dor! Terdengar suara peluru melesat di udara.
Seketika tujuh orang itu menoleh ke belakang.
"Carl?!”
__ADS_1
“Maaf, aku terlambat datang. Ada sedikit masalah. Aku belum kalah, bukan?”