Super Sistem Detektif Kaya

Super Sistem Detektif Kaya
Eps. 253 Interogasi Exclusive


__ADS_3

Detektif Carl mempercayakan semua tugas pada agen polisi yang ditunjuk oleh Sherif Tasman, dan dia cukup berada di kantor menggali informasi sedalam-dalamnya.


“Louis Sanderman, saatnya kita berbincang-bincang pagi sekarang.” Detektif Carl tiba di depan sel tahanan Louis Sanderman.


Terlihat pria itu sama sekali tak menyentuh menu sarapan paginya, bahkan sarapan itu masih utuh dan juga dingin.


“Kau lagi?! Kenapa datang kemari?” Louis Sanderman yang bersandar ke dinding, menoleh ke arah Detektif Carl dengan sikap tenangnya menurut kedua tangannya pada saku baju. Cuek. Khas gaya seorang artis.


Klik! Detektif Carl membuka kunci sel tahanan Louis Sanderman berada. Dia bahkan masuk dalam tahanan tersebut.


“Apa yang perlu kubicarakan denganmu?” Louis Sanderman masih berlagak seperti artis bukan seorang tahanan. Dia melipat tangan di depan dada.


“Apa kau kenal Darwin Hemington?”


Pria itu diam tak merespon, membuat Detektif Carl mengulangi pertanyaannya.


“Kau kenal Darwin Hemington?” tegas Detektif Carl.


“Siapa itu Darwin Hemington? Aku tidak mengenalnya.” Bahkan mimik muka Louis datar seperti sebelumnya tidak berubah sedikitpun.

__ADS_1


“Astaga! Kau tak mau buka mulut rupanya. Baik, aku tak akan memaksamu. Seorang artis pendatang baru berkolaborasi dengan seorang asisten dosen matematika jenius yang tak hanya pintar dalam hitungan saja tapi juga pandai merakit bom.”


Sebenarnya itu hanya dugaan Detektif Carl saja, karena Sherif Tasman sendiri masih menunggu hasil investigasi dari anggota diutusnya. Berbekal rekaman CCTV pada kotak hitam di pesawat, menunjuk jika dua penumpang itu ada dalam satu pesawat, kemungkinan besar dua orang itu terkait. Meski belum ada bukti.


“Omong kosong apa yang kau ucapkan?” sahut Louis, kemudian mengalihkan pandangan. Dia menghindari berhadapan mata langsung dengan Detektif Carl. Entah sengaja atau memang tidak suka.


Detektif Carl mengulas senyum seringai. Ini sudah ia prediksi sebelumnya, jika melakukan interview pada tahanan seorang artis, berbeda dengan menginterview tahanan biasa pada umumnya.


“Baiklah. Kita akan tes kebohongan saja dengan alat ini.”


Detektif Carl mengeluarkan sebuah alat lie tester, yang dia beli dari sistem. Harganya dia memilih kisaran yang paling mahal sendiri. Sengaja, itu dia lakukan untuk membalaskan dendam Briptu Scarlet.


“Alat pendeteksi kebohongan macam apa yang kau bicarakan? Mana ada alat seperti itu?” Louis mencebik.


“Kau lihat saja sendiri baru bicara.”


Detektif Carl kemudian mengeluarkan sebuah gelang titanium. Sekilas dengan tersebut nampak biasa saja seperti gelang pada umumnya, hanya ada tambahan sensor dan alat penghitung, juga berbagai tombol lainnya.


Louis kembali mencebik saat gelang itu sudah terpasang di tangan kirinya.

__ADS_1


“Kau pergi ke Swiss tanggal 15 ini,” ujar Detektif Carl.


“Tidak. Aku ada di lokasi syuting pada tanggal itu,” jawab Louis.


Namun sensor pada gelang menyala merah yang artinya jawaban itu bohong.


“Kau bohong.” Detektif Carl mengurai senyum tipis kemudian melanjutkan ke pertanyaan selanjutnya.


“Kau memalsukan alibi agar semua mengira kau ada di lokasi syuting.”


“Aku tidak memalsukan alibi, tapi memang aku benar ada di sana.”


Sensor merah kembali menyala, senyum kembali terbit di bibir Detektif Carl.


“Kau naik pesawat membawa bom.”


“Tidak. Bom apa yang kau maksud?”


Sensor pada gelang titanium kembali menyala merah, dan kali ini tak hanya lampu sensor saja yang menyala, tapi terdengar sebuah tombol tertekan secara otomatis.

__ADS_1


Akh! Tiba-tiba saja Louis menjerit, kemudian meringis di saat ada sebuah jarum yang tiba-tiba menembus tangannya.


__ADS_2