
Beberapa detik setelahnya, agen polisi yang ditelepon oleh Briptu Scarlet datang ke Abby Fast Food. Tak hanya mereka saja yang datang, tapi Sherif Sherma juga datang.
Pria itu datang masih dengan membawa barang belanjaan pesanan putrinya.
“Dimana dia?” gumamnya, dengan mata yang bergerak liar menatap setiap kursi yang ada di tempat makan.
Hingga akhirnya dia mengunci pandangan pada sebuah meja yang ramai sekali. Tak hanya Briptu Scarlet yang ada di sana, tapi agen polisi dan Detektif Carl juga.
Gawat, mereka semua datang kemari. Tamatlah sudah aku. batin pria tersangka pembunuhan melihat satu lagi agen polisi datang.
Ia bahkan sampai memejamkan mata tak percaya akan bernasib sial hari ini, bisa tertangkap setelah sebelumnya selalu lolos dari tangan polisi.
“Tunggu apa lagi, cepat seret dia ke kantor polisi sekarang juga!” titah Sherif Sherma, tak ingin menunggu lebih lama lagi.
“Siap!”
Satu agen polisi kemudian membawa pria tersangka pembunuh tadi dengan menyeretnya kasar.
“Woo! Tunggu dulu!” teriak Detektif Carl, sampai ikut terseret dengan kasar karena borgolnya belum dia lepas.
Bahkan ia pun sampai ikut berdiri dan kini rencana di samping pria tersangka pembunuh tadi.
Agen polisi lain baru sadar jika ternyata Detektif Carl terikat bersama buruan mereka.
“Hey, setidaknya berikan aku sedikit waktu untuk melepas borgol ini,” protesnya tak terima diperlakukan seperti seorang tahanan saja.
__ADS_1
Terdengar gelak tawa para agen polisi yang melihat hal itu.
“Haah!” Detektif Carl menarik nafas Tengah ketika ditertawakan seperti itu.
Ia pun segera mengeluarkan kunci borgol dan membukanya. Agen polisi lain segera mengeluarkan borgol dan membongkar pria tadi agar tak lepas.
Agen polisi kali ini berpesta pora setelah mendapatkan buronan yang sekian lama ia nantikan.
“Carl, kau tidak ikut ke kantor polisi?” tanya Briptu Scarlet, setelah berada di luar tempat makan.
“Tidak. Rasanya jenuh lima hari ini terus mendatangi kantor polisi. Aku ingin kembali ke biroku saja,” balasnya dengan menggelengkan kepala.
Ia hanya menatap saja para agen polisi yang masuk ke mobil patroli bersama pria yang dia tangkap tadi, juga kekasihnya. Rasanya menyelesaikan kasus ini waktunya panjang sekali dan ia ingin bersantai sejenak sebelum menjalankan misi selanjutnya.
“Terima kasih sudah membantu kami, Detektif Carl. Kau memang bisa diandalkan.”
“Baiklah, aku pergi sekarang. Aku tak akan melupakan bantuanmu ini. Dan aku akan berikan hadiah rencana padamu nanti,” Sherif Sharma lalu menepuk pelan bahu Detektif Carl dan segera masuk ke mobilnya.
“Akhirnya, aku bisa kembali tidur dengan nyaman seperti biasanya.” cicitnya, lalu masuk ke mobil putihnya.
Dua jam kemudian.
Di kantor polisi, para agen polisi sedang melakukan interogasi di ruang interogasi. Mereka melepas topeng yang dikenakan pria itu.
Terlihat wajah aslinya yang merupakan keturunan campuran dengan ras Asia, yang membuat matanya sedikit sipit dari warga Swiss.
__ADS_1
“Apa motifmu melakukan semua pembunuhan ini? Katakan!” bentak polisi tak ada lembutnya sama sekali.
Pria bermata sipit itu hanya diam saja, meskipun agen polisi lain menghajarnya dengan mencambuknya menggunakan besi yang bisa saja meremukkan tulang punggungnya setelah beberapa kali pukulan.
“Lalu apa maksud kau meninggalkan inisial 'DN', jelaskan!” hardik agen polisi lain.
Tetap saja, tak ada balasan dari pria tersebut.
Tak hanya tiga agen polisi yang ada di ruangan itu tapi jika dihitung lebih dari 10 orang agen di sana.
Mereka yang kesal segera memberikan hukuman fisik langsung pada mereka.
“Kenapa kau tak cukup membunuhnya saja dan menjual organ nya?” tanya agen polisi lain.
Agen polisi tadi kembali melayangkan pukulan ke muka pria tadi. Pria itu benar-benar terlihat babak belur sekarang.
Di kantor Detektif Carl, terlihat pria itu kita duduk di sofa kesayangannya di ruangannya tentunya.
Mission complete. 100.000 poin berhasil ditambahkan.
“Lega sekali mendengar poin sebanyak itu masuk,” gumam Detektif Carl tersenyum lebar, mendapatkan reward sesuai dengan jerih payahnya.
Di luar ada seorang klien yang datang dan bicara dengan Leo. Dia bukan klien baru, tapi sudah tiga hari ini kemari dan menyerahkan kasusnya.
“Tuan, tolonglah bantu kami. Setidaknya kami tahu apa masalah putri kami hingga meninggal dengan cara mengenaskan seperti ini.” desak seorang wanita yang datang bersama suaminya.
__ADS_1
Leo sendiri tak berani mengambil keputusan meskipun sebenarnya ia ingin menangani kasus tersebut. Selama tiga hari ini, dia tak bertemu dengan Detektif Carl, jadi lebih memilih untuk menunggu keputusan pria tersebut daripada mengambil keputusan sendiri.