Super Sistem Detektif Kaya

Super Sistem Detektif Kaya
Eps. 83 Pembunuhan Seri Pertama


__ADS_3

Lima agen polisi tampak meluncur di jalan menuju ke Kantor Polisi sektor A.


“Kenapa Sherif Sherma menyuruh kita kembali lagi ke kantor? Sementara tugas tadi belum selesai.” celetuk seorang agen kepolisian dalam mobil.


“Entahlah, tugas, tugas dan tugas saja yang kita dapat ketika Sherif William mutasi ke tempat lain dan digantikan oleh Sherif Sherma. Kenapa aku tidak dimutasi ke tempat lain saja.” gerutu agen kepolisian lainnya terduduk dengan lemas.


Sementara agen polisi lainnya hanya diam tak berkomentar. Mereka lebih memikirkan lagi apa tugas mereka selanjutnya. Karena sudah pasti mereka akan mendapatkan tugas kembali, meskipun di akhir misi mereka mendapatkan tambahan bonus dari Sherif Sherma, tetap saja. Mereka harus mengorbankan waktu mereka.


Detektif Carl masih berkaitan dengan tiga foto tadi. Ia mencoba merangkai fase teka-teki di depannya.


Jika pembunuh ini memang menggunakan nomor seri dalam beraksi, sedangkan pada foto seri itu dimulai dari urutan 4, 5 dan 6. Berarti ada pembunuhan dengan nomor seri 1, 2 dan 3. Batin Detektif Carl, kembali melepas kacamatanya saat mulai berpikir kembali.


Sherif Sherma masih duduk di sana, ia menatap Detektif Carl yang tampak berpikir.


“Hei, detektif. Apa yang kau pikirkan saat ini?” tanya, Sherif Sherma, penasaran.


Pria itu sengaja duduk di sana dan belum kembali ke ruangannya karena masih menunggu 5 agen polisi yang dipanggilnya tadi.


“Ini hanya dugaan ku, Sherif Sherma. Mungkin saja pembunuh berantai itu sebelumnya sudah beraksi dan membunuh korbannya dengan nomor rangkaian seri 1, 2 dan 3.” tuturnya, mengungkapkan isi yang ada di otaknya.


Sherif Sherma langsung menangkap maksud pria itu. Sebelum kasus ini terjadi, tak ada kasus pembunuhan dengan nomor seri seperti itu.


“Astaga, apa aku yang kurang perhatian dengan kasus pembunuhan selama ini,” pekiknya terkejut. Merasa ada sesuatu yang ia lewatkan.

__ADS_1


Tiba-tiba pria itu menghela nafas berat sambil mengusap mukanya, juga memejamkan matanya. Ia sebelumnya menyalahkan bawahannya yang kurang becus bekerja, tapi nyatanya dia sendiri juga seperti itu. Melewatkan hal penting, bahkan sangat penting sekali.


“Briptu Scarlet, aku minta kau cari informasi tentang pembunuhan yang terjadi di tahun ini tanggal 1 Januari, 2 Februari dan 3 Maret.” titahnya dengan gusar. Gusar pada dirinya sendiri.


“Siap, Sherif Sherma.”


Briptu Scarlet lalu, kembali menatap monitor laptop di depannya. Kali ini ia memeriksa semua peristiwa pembunuhan yang terjadi dalam satu tahun terakhir ini.


Wanita itu melihatnya dengan hati-hati juga teliti, mencari serta memeriksa pembunuhan yang terjadi di seri tanggal tersebut. Kali ini dia butuh waktu yang tidak sebentar untuk mencarinya.


Dua puluh menit, barulah dia menemukan informasi tersebut.


“Sherif, dari database kasus aku menemukan tiga orang terbunuh pada seri tanggal tersebut.”


Sherif Sherma pun ikut menatap lurus Briptu Scarlet yang duduk di seberangnya dengan penasaran.


“Ya, hanya tiga korban saja.”


“Apakah pelakunya sudah tertangkap?” tanya Detektif Carl.


Karena menurutnya jika pelakunya sudah tertangkap maka tak mungkin penghuni itu masih berkaitan di luar dan mencari korban berikutnya.


“Belum. Sampai saat ini pelakunya belum ditemukan. Tapi anehnya korban pembunuhan saat itu bukanlah pria berfisik kuat seperti sekarang ini, mereka semua berprofesi sebagai chef.” terang Briptu Scarlet, yang menambah bingung Sherif dan Detektif Carl saja.

__ADS_1


“Kenapa korbannya tidak sama?” gumam Detektif Carl, mencoba menelaah lebih lanjut.


Dari luar kantor polisi terdengar suara mobil berhenti. Lima agen polisi turun dari sana lalu masuk ke kantor.


Mereka berlima menatap tiga orang yang duduk di sana dan tampak serius.


“Siang, Sherif Sherma.” ucap seorang agen polisi mewakili yang lainnya.


“Bagaima dengan hasil investigasi kalian di lapangan?”


Lima orang agen polisi itu tergugu, dan itu menjawab sudah pertanyaan dari Sherif Sherma, tanpa perlu mereka mengungkapkannya.


Haah! Sherif Sherma menarik nafas kasar, dan menatap tajam bawahannya itu.


“Maaf Sherif, anda meminta kami kembali, jadi investigasi belum selesai.” lapor agen polisi lain, bersiap mendapat hukuman.


“Istirahatlah dulu kalian. Satu jam kemudian aku menugaskan kalian untuk menemui instruktur di tiga gym.”


Bukan tanpa alasan, pria itu memberikan sedikit waktu istirahat bagi bawahannya. Sherif Sherma melakukannya demi kebaikan semua. Ia tahu lima agen polisi tadi lelah, terlihat dari wajah mereka.


“Siap, Sherif. Terimaksih.” jawab mereka serempak.


Beruntung, atasannya itu tidak memarahinya ataupun menghukum mereka dan hanya memberikan tugas lainnya.

__ADS_1


__ADS_2