
Detektif Carl bisa menjinakkan bom. Kemampuan itu ia peroleh tidak instan begitu saja, tapi ia dapatkan semasa dulu waktu masih mengenyam pendidikan detektif, dengan rajin berlatih.
Di sana dia belajar banyak hal. Apa saja, termasuk merakit bom dan menjinakkan bom. Bisa dikatakan pendidikannya hampir mirip dengan akademi kepolisian.
Detektif Carl kembali dengan membawa box peralatan. Ia langsung duduk dan menyebut bom itu dengan cepat.
“Aku harus cepat menonaktifkan bom ini, atau aku akan mati terkena ledakan bom ini.”
Ada banyak kabel kecil dalam bom rakitan tersebut. Bahkan sampai ia menyalakan semua lampu rumahnya agar ia bisa melihat dengan jelas.
Karena jika salah memotong kabel sama artinya dengan meledakkan bom itu sendiri, bunuh diri.
Ada tiga rangkaian kabel utama pada bom itu. Kabel warna kuning, merah dan hijau yang tersusun sangat rumit.
“Hiss! Ini sudah berapa menit?” ucapnya gusar.
Pada timer bom menunjukkan waktu sudah 10 menit berjalan, dan berarti 10 menit lagi bom itu akan meledak.
Detektif Carl nampak fokus sedang berjuang keras untuk mengurai kabel tersebut, juga memotongnya.
Tut-tut-tut! Tepat di saat menit kesembilan barulah dia berhasil memotong kabel berwarna hijau dan merah.
__ADS_1
Hah! Dia pun pada akhirnya bisa bernafas lega.
Keringatnya bercucuran hingga membasahi seluruh bajunya, seperti sehabis marathon saja. Namun sekerasnya terbayar sudah. Kini ia menaruh kembali bomnya sudah tak aktif itu ke lantai, lalu mengusap keringatnya.
“Sialan sekali pria itu. Siapa dia sebenarnya? Kenapa dia bisa merakit bom seperti ini, apa dia *******?” gumamnya, kembali berpikir setelah pikirannya menjadi tenang.
Muncul banyak perkiraan identitas pelaku pembunuhan tersebut. Mulai dari seorang ******* sampai seorang agen polisi. Karena bukan sembarangan orang yang bisa merakit jenis bom rumit seperti ini. Hanya dari golongan yang disebutkan saja yang bisa merakitnya.
***
“Pagi Detektif Carl, apakah ada kemajuan petunjuk kasus kita?” ucap Leo kok tiba di kantor, lalu menyapa atasannya itu.
Detektif Carl yang duduk di kursi dengan wajah yang tertekuk serta menunduk kemudian mengangkatnya menatap Leo.
Ingin saja ia memukul atau membalasnya langsung Namun sayang dia tidak tahu siapa pria itu.
“Apa? Pelaku mengirim bom?!” pekik Leo, tak percaya. Secepat itu reaksi pelaku.
Detektif Carl hanya bisa menghela nafas panjang dan berat. Mungkin saja jika pelaku sebelumya mengirim bom, bisa saja nanti dia akan mengirim bom susulan atau lainnya untuk menyerangnya.
“Leo, sebelum kita melangkah sebaiknya kita perlu mengamankan tempat ini dulu. Aku khawatir pelaku akan menyerang kantor ini,” ucapnya untuk antisipasi saja.
__ADS_1
Melihat pelaku yang bisa saja bertindak radikal atau lebih frontal dari sebelumnya, maka ia pun langsung turun tangan bersama Leo. Memasang bom detektor di tiap sudut ruangan untuk antisipasi saja.
Bahkan dia juga menambah kamera CCTV di setiap sudut ruangan. Sama seperti yang ia lakukan di rumah setelah berhasil menjinakkan bom tadi pagi.
Di tempat lain, seorang pria duduk di sebuah ruangan kantor gedung berlantai kan 21 lantai. Dan dia berada di lantai sepuluh.
Pria itu membuka laptopnya. Terlihat deretan gigi putihnya yang tersusun rapi tersenyum menyaringai.
“Aku akan lihat, bagaimana bom kirimanku semalam? Apakah itu efektif? Pasti dia dan rumahnya hancur berkeping-keping sekarang.”
Lagi-lagi pria itu memperlihatkan seringai setannya. Dengan penuh percaya diri Ia pun membuka laptopnya. Dengan satu kali klik saja dia bisa langsung melihat SCTV yang ada di rumah Detektif Carl.
“Astaga! Kenapa rumahnya masih utuh?!” pekiknya, berharap melihat rumah hancur, namun yang dilihatnya rumah itu tetap tegap berdiri, tidak roboh secuil pun.
Ia pun memutar mundur rekaman tersebut untuk melihat mereka kejadiannya.
“Shiit!” umpatnya lagi, sembari menggebrak meja dengan keras.
Ia tak bisa melihat rekaman sebelumnya. Karena ternyata di ptotektif. Dan itu berarti menandakan jika Detektif Carl berarti sudah berhasil menjinakkan bomnya sekaligus melindungi CCTV di rumah.
“Aku meremehkanmu, tapi lihat saja. Kau tak akan bisa menemukan identitasku. Aku bisa jamin itu,” ucapnya kembali tersenyum lebar, bahkan sampai perut kempisnya ikut naik turun saat ia tertawa.
__ADS_1
Pria itu kemudian berdiri dari tempat duduknya. Ia keluar dari ruangannya dengan merapikan dasi. Ada pin kucing silver tersemat di tuxedo hitam yang dikenakannya.