Super Sistem Detektif Kaya

Super Sistem Detektif Kaya
Eps. 172 Pria Asing Di Tengah Hutan


__ADS_3

Leo mengulurkan tangannya ke atas kemudian menepikan pada tepi lubang termasuk untuk naik. Namun sepatunya lepas sebelah.


“Ada-ada saja.” Leo mendesau. Lalu turun kembali untuk mengambil sepatu kirinya.


Setelah ia memakai sepatunya tersebut terlihat sebuah puntung rokok di sana. “Apa ini?” Leo mengambil puntung rokok yang masih tersisa separuh itu, lalu keluar dari lubang perangkap itu.


“Tuan, apakah Amy merokok?”


Leo menunjukkan puntung rokok tersebut pada Tuan Colton.


“Amy tidak merokok. Ini bukan miliknya.” Setelah melihat puntung rokok tersebut, Tuan Colton lalu mengembalikannya pada Leo.


Jika bukan punya Amy berarti itu milik pelaku yang tertinggal di sana. Ceroboh sekali dia, meninggalkan barang bukti seperti ini.


“Apakah Tuan tahu jenis rokok ini?” Leo tidak mengetahui jenis rokok tersebut. Bahkan ia tak pernah melihat rokok tersebut di pasaran.


“Sejujurnya, aku juga baru melihat rokok ini. Apakah ini rokok dari daerah lain?” Raut muka Tuan Colton langsung berubah cemas. “Apakah ini rokok milik pelaku pembunuh Amy?”


Leo kemudian menyimpan sebagai barang bukti dan menyimpannya di balik saku baju.


“Kemungkinan besar seperti itu Tuan tapi aku masih perlu beberapa bukti lagi.” Setelahnya, Leo langsung menyisir lokasi lagi untuk mencari bukti berikutnya, meskipun barang bukti pertama yang ditemukannya sudah cukup untuk menunjukkan jika itu memang sebuah kasus pembunuhan.


Leo melihat tali yang teronggok di balik pohon.


“Apakah ini tali yang dipakai untuk bunuh diri?”

__ADS_1


Nyonya Paula mendekat, melihat tali tambang coklat itu. “Benar, ini adalah tali yang menjerat leher Amy. Aku belum membuangnya.


Tak ada bekas darah sedikitpun pada tali tersebut. Juga tak ada jejak lain di sana yang bisa ia jadikan sebagai bukti.


“Ini... tali untuk mengikat kuda, bukan? Warnanya lebih gelap,” pekik Leo. Ia baru menyadari itu. Tali yang biasa digunakan untuk mengikat kuda berwarna coklat gelap, berbeda dengan tali biasa yang berwarna coklat muda.


Leo tak lantas puas dengan dua temuan yang bisa digunakannya untuk investigasi. Masih kurang. Hingga satu jam lebih dia berada di sana dan kembali menyisir TKP namun pencariannya tak membuat hasil.


“Tuan dan Nyonya, sebaiknya kita kembali ke rumah Anda, ada beberapa hal yang ingin ku tanyakan,” pinta Leo.


Mereka bertiga kemudian kembali ke rumah.


“Tuan Colton, apakah dini hari Nona Amy menunjukkan suatu gesture yang aneh?” Leo langsung memulai investigasinya begitu tiba di rumah.


“Tidak, dia kelihatan riang seperti biasanya dan tak ada masalah.”


Tuan Colton menggelengkan kepala. Ia menjelaskan jika Amy adalah sosok dengan kepribadian sedikit introvert. Putrinya itu hanya punya beberapa teman yang bisa dihitung dengan jari. Bahkan mungkin saja ada beberapa teman yang dia tidak ketahui juga, karena hanya berapa persen saja yang Amy ceritakan padanya tentang temannya.


“Jika begitu tolong beritahu siapa saja teman Nona Amy.”


Nyonya Paula menyebutkan deretan nama pada Leo. Tiga teman wanita dan tiga teman pria yang juga merupakan tetangga.


Mounty, pria berusia 21 tahun, sama dengan usia Amy.


Samuel, pria berusia 23 tahun, seorang bartender.

__ADS_1


Louis, pria berusia 25 tahun, seorang atlet lari.


Briana, Rose dan Chloe, wanita berusia 22 tahun.


Leo lanjutkan investigasinya hingga satu jam ke depan.


“Baiklah Nyonya Paula dan Tuan Colton investigasi hari ini cukup sekian.” Ia segera mematikan perekam sejak awal ia nyalakan untuk merekam semua pembicara kedua orang tua Amy.


“Jika nanti ada sesuatu yang membutuhkan Aku akan kembali ke mari.”


Setelahnya Leo segera berpamitan. Namun ternyata ia tak langsung masuk ke mobilnya. Ia malah kembali ke lokasi tempat Amy terakhir ditemukan.


Ia berdiri tepat di bawah pohon tempat tergantungnya Amy. Karena masih saja tak menemukan petunjuk tambahan ia pun iseng berjalan menyisiri hutan tersebut. Bahkan Leo sendiri pun tak sadar jika dia sudah berjalan jauh di tengah hutan.


Srak!


Ada orang lain di sini? Apakah itu pembunuhnya?


Entah siapa yang ada di sana yang jelas itu bukanlah binatang. Leo yakin itu suara manusia. Ia pun segera berlari menuju ke sumber suara.


“Berhenti!” Benar saja, ada seorang pria di sana yang berdiri di bawah sebuah pohon.


Pria tersebut terbalik Kuningan suara seseorang menghentikannya. Ia menentukan senapan laras panjangnya bawa ke tanah, lalu menatap Leo dengan tatapan dingin.


“Siapa kau?”

__ADS_1


Melihat pria itu membawa senjata Leo pun menjadi waspada.


__ADS_2