Super Sistem Detektif Kaya

Super Sistem Detektif Kaya
Eps. 122. Investigasi


__ADS_3

Tuan Adolf dan Detektif Carl seketika menatap Nyonya Adolf, yang kini ikut duduk setelah menaruh minuman di meja.


Tentu saja wanita itu duduk di samping Tuan Adolf.


“Apa kau yakin mengenal Gaby Atwood?” tanya Tuan Adolf pada istrinya.


Dia mencoba mengingatnya namun belum mengingat sosok nama yang disebut sebagai tetangga mereka dulu.


Sebelumya Tuan Adolf memang pendatang baru di sini. Tiga tahun yang lalu mereka tinggal di Minnesota.


Tapi Tuan Adolf orang sibuk. Dia berangkat pagi dan pulang malam yang membuatnya bisa sesukses ini. Namun dia kurang waktu, bahkan jarang keluar apalagi bicara dengan tetangga, hampir tidak pernah.


Maka dari itu dia tak mengingat sosok Gaby Atwood.


“Masak kau lupa. Dia gadis yang dulu sering mengirim bubur ayam buatan neneknya pada kita,” jelas Nyonya Adolf.


Tuan Adolf lalu mencoba mengingat lagi, namun masih lupa pada sosok itu. Entah ingatannya memang buruk atau memang dia sudah lupa?


“Sungguh, aku lupa.” tukasnya, jujur.


Nyoya Adolf hanya berdecak saja meresponnya.


“Jadi, apakah Anda bisa jelaskan bagaimana hubungan Gaby Atwood dan Sarah Michelin?” tanya Detektif Carl, tak ingin memperpanjang waktu.


“Mereka berdua berteman biasa saja, meski usia sama tapi beda sekolah. Tidak dekat.”


“Jadi, apa Nyonya tahu siapa kekasih Gaby Atwood?” tanya Detektif Carl langsung.


Wanita itu menggeleng.

__ADS_1


“Sayang sekali,” tutur Detektif Carl. Lagi-lagi ia tak mendapat petunjuk.


Mungkin aku memang harus menunggu informasi dari Leo. batinnya dalam hati. Kenapa tadi dia menanyakan hal yang jelas tidak diketahui oleh Nyonya Adolf dan itu hanya buang-buang waktu saja.


“Apakah aktivitas terakhir yang dilakukan oleh putri Anda sehari sebelum kejadian?” Detektif Carl menatap pasangan suami istri itu bergantian.


“Tak ada yang aneh. Sarah berada di rumah seharian. Dia hanya menghabiskan waktunya di kamar, entah apa saja yang dia lakukan.” Nyonya Adolf memberitahukan setelah mengingatnya.


“Biasanya dia menulis diary. Itu kebiasaannya sejak lama. Tapi terkadang dia juga bicara dengan temannya di telepon,” tutur Tuan Adolf menjelaskan.


“Boleh aku lihat diary nya dan juga ponselnya sebentar?” pinta Detektif Carl.


Nyonya Adolf mengganggu dan wanita itu segera berdiri dari tempat duduknya untuk mengambilkan diary Sarah.


“Ini ponselnya Sarah,” tukas Tuan Adolf menyerahkan ponsel berwarna hitam setelah membuka kuncinya.


“Tak ada yang mencurigakan di sini,” gumamnya.


Ia lalu beralih memeriksa daftar panggilan kontaknya, seminggu terakhir. Ada panggilan keluar ke nomor Lexy. Setelahnya juga ada panggilan masuk dari Jeremy Meyer dan Foster Bridge.


Aku harus menyelidiki tiga kontak ini, batinnya setelah melihat banyak panggilan masuk dan keluar pada tiga nomor pria tadi.


“Ini diary nya Sarah. Tapi aku tidak menemukan kuncinya.”


Agak lama Nyonya Adolf baru kembali karena mencari kunci diary tersebut yang tidak ia temukan di manapun.


“Apa aku boleh membukanya paksa?” tanya Detektif Carl langsung.


“Buka saja.” Tuan Adolf memberikan izin. Lagipula buku itu sudah tak dipakai lagi.

__ADS_1


Detektif Carl lalu mengeluarkan alat pembobol kunci kecil dari balik saku bajunya. Ia lalu membuka gemboknya.


Klik! Gembok pun terbuka dengan cepat.


Langsung saja ia buka tiap helai halamannya dan ia baca dengan cepat.


Isi diary itu merupakan curahan hati Sarah. Bakan kedua orang tuanya saja tak pernah bisa membaca diary tersebut.


“Waktuku akan habis, jika aku membaca semua isi diary ini, batinnya kemudian menghentikan membaca buku tersebut sepuluh menit kemudian.


“Tuan, bolehkah aku bawa dulu diary ini? Aku akan pelajari nanti di kantor,” tukasnya lalu menutup buku tersebut.


“Ya, tentu boleh.”


Detektif Carl lalu memasukkan diary tersebut ke tasnya.


Dia pun kembali melempar pertanyaan lainnya untuk investigasi.


Di lain tempat di pemakaman Sarah. Terlihat dua orang pria di sana mengunjungi makam.


“Jeremy, kenapa kau masih tidak terpukul sekali dengan kematian Sarah?”


“Tidak Foster, aku hanya masih belum bisa menerima dan mengiklaskan kematian Sarah.”


Jeremy nampak masih bersedih meskipun rebelumnya dia sudah menghadiri acara pemakaman. Rupanya dia mengalami duka mendalam.


Sarah, seandainya saja kau masih hidup, pasti janin dalam kandunganmu juga masih hidup. Padahal aku menginginkan anak itu. batin Jeremy, menyentuh nisan untuk terakhir kalinya.


Langit Swiss mendung kali ini. Gerimis mulai turun dan dua orang pria itu kemudian masuk ke mobil mereka masing-masing lalu keluar dari area pemakaman.

__ADS_1


__ADS_2