
Tepat di saat pria tadi akan menikamkan pisau lipatnya sudah berjarak hanya 2 senti saja, tiba-tiba ada menampik tangannya.
Clang! Pisau di tangan pria tadi akhirnya terlempar.
Briptu Scarlet pun pelan-pelan membuka kelopak matanya, merasa lega karena tak merasakan tikaman. Tapi Siapa yang sudah menyelamatkannya dalam keadaan segenting ini?
“Carl!” panggilnya, melihat ke atas, ada Detektif Carl di sana. Nampak khawatir padanya.
“Scarlet, kau tak apa?”
Briptu Scarlet hanya mengangguk kecil, meresponnya.
Saat itu Detektif Carl akan menepikan kekasihnya, namun Sepertinya dia harus menghadapi pria ingin membunuh Briptu Scarlet terlebih dulu. Mau lari begitu saja dari tangannya? Tidak akan segampang itu!
Detektif Carl langsung saja menghadapi pria yang masih ada di dekatnya yang hampir kabur dalam beberapa detik selanjutnya, jika dia melupakan sosok pria tersebut.
“Jangan harap bisa kabur dariku!” hardik Detektif Carl, dengan mata melebar juga merah.
Ia pun segera menghajar pria tadi. Langsung saja ia melepaskan tembakan untuk memberi pelajaran pria tadi, namun sayangnya seberapa pun banyaknya peluru yang melesat, berhasil si tangkis ataupun dihindari oleh pria tadi.
Kini Detektif Carl berdiri di dekat pisau lipat yang ada di dekat kakinya. Ia memungut pisau tersebut.
Pria itu kembali melepaskan tembakan ke arah pria yang ada lima meter di depannya yang berusaha menjauh darinya.
__ADS_1
Dor! Satu tembakan berhasil mengecoh pria tadi.
Hingga Detektif Carl kini tepat berada di depannya tanpa jarak.
“Bisa-bisanya kau kabur setelah mencelakai orang!” hardik Detektif Carl, masih marah. Pria tersebut telah melukai kekasihnya. Dan balasan yang setimpal adalah merenggut nyawanya. Karena dia dia adalah pembunuh. Seorang pembunuh tak pantas hidup di muka bumi ini!
Detektif Carl menodongkan pistol ke kepala pria tadi, dengan tangan kiri memegang pisau lipat.
Aku harus mengambil pisau lipat itu apapun caranya. Bisa gawat jika pria ini atau agen polisi lainnya membawanya. batin pria tadi melirik pisau lipat di tangan kiri Detektif Carl.
Tepat di saat Detektif Carl akan menarik pelatuk pistolnya, pria tadi bergerak dengan cepat. Ia menampik pistol di tangan detektif sampai pistol itu terpental.
Tak hanya menampik pistol saja, kini ia merebut pisau lipat dari tangan Detektif Carl.
Ia pun terus menariknya dengan keras, bahkan sampai ia mengorbankan dirinya hingga pisau itu menyayat telapak tangannya, barulah ia bisa membawa pisau itu kembali.
“Tunggu! Jangan lari!” teriak Detektifnya Carl, saat pria itu berhasil kabur darinya.
Detektif Carl melihat ke lantai. Ada pistolnya di sana. Dan ia mengambil pistolnya tersebut. Dengan cepat dia melepaskan tembakan peluru secara beruntun.
Beberapa detik setelahnya terdengar suara derap langkah kaki cepat menuju ke arahnya. Dua agen polisi lainnya datang ke sana setelah mendengar suara tembakan beruntun.
“Dimana pelakunya?” tanya salah satu agen polisi, yakin tembakan itu pasti untuk pelaku setelah melihat rekannya yang terluka.
__ADS_1
“Sayang sekali dia kabur.” geram Detektif Carl, menyarungkan kembali pistolnya.
Kini perhatiannya pun beralih pada Briptu Scarlet. “Kau, tak apa?”
“Cepat bawa dia ke rumah sakit terdekat. Aku akan mengurus sisanya.” ucap agen polisi lainnya.
Detektif Carl pun segera membawa Briptu Scarlet masuk ke mobilnya lalu meluncur ke rumah sakit terdekat.
Sementara dua agen polisi tadi menginformasikan pada rekan polisi lainnya yang sedang bertugas di tiga gym untuk waspada karena baru saja pelaku muncul dan mungkin saja akan mendatangi gym lainnya.
“Sial! Tanganku tergores dan sedikit dalam.” desau seorang pria merintih kesakitan, dalam sebuah mobil.
Ia pun sudah mengambil kotak obat dalam mobil untuk merawat luka di telapak tangan kirinya sekaligus memasang perbannya agar tidak terjadi infeksi.
“Aku harus lebih hati-hati lagi saat bertindak, karena polisi sudah bisa mencium pergerakanku.”
Mobil hitam yang ditumpanginya segera meluncur dengan cepat di jalanan, menghilang tanpa ada yang mengejarnya.
Beberapa jam setelahnya, di sebuah jalanan padat terlihat seorang pria dengan pergelangan tangan kiri masih memakai perban, masuk ke sebuah bank seorang diri tanpa ada seorangpun yang menemaninya.
“Mudah sekali melumpuhkan para petugas security yang ada di sini,” gumamnya tersenyum miring setelah mencongkel pintu juga menatap lima orang pria berseragam putih yang sudah ditumbangkannya.
Pria jangkung tersebut segera saja menggasak semua berangkas yang ada dalam bank tersebut dan mengosongkan semua isinya.
__ADS_1