
“Hey, kenapa?Apa ada kotoran di belakangku?” Darwin memundurkan tubuhnya saat petugas sampah berada pengacara sangat dekat dengan dirinya.
“Maaf, Tuan. Sampah yang kupungut jatuh, jadi aku mengambilnya.”
“Oh...!” Darwin terlihat jijik melihat sampah basah yang dibawa petugas sampah itu. Dia segera berjalan kembali, sebelum ada sampah lain yang jatuh dan Mungkin saja akan mengotori bajunya.
Tiga agen polisi itu kemudian memberikan kode 'oke' pada anggota lainnya yang masih menunggu di mobil dengan isyarat jari tangan mereka.
“Misi belum selesai, lanjutkan misi,” respon agen polisi lain.
Setelah mengamati keadaan sekitar dan Darwin benar-benar sudah menghilang dari jalanan, tiga agen polisi tadi kemudian masuk ke apartemen Darwin.
Mereka menyelinap masuk ke rumah dan memasang chip di berbagai tempat, setelah memanipulasi CCTV yang ada di apartemen tersebut.
“Beres. Kita cabut sekarang dari sini.” Satu agen polisi mengajak keluar dua rekannya.
Mereka kembali mengembalikan CCTV di apartemen tersebut berfungsi normal seperti sebelumnya, setelah tugas mereka selesai.
“Cepat, masuk ke mobil.” Seorang agen polisi kembali memberikan kode pada tiga rekannya yang masih berada di teras apartemen Luois melalui microphone kecil di telinga.
__ADS_1
Satu menit kemudian tiga agen polisi tadi sudah duduk di mobil, namun masih memakai baju penyamaran mereka.
Mobil melaju setengahnya namun berhenti di toilet umum. Di sana, tiga agen polisi tadi mengganti baju mereka, dengan baju preman lainnya yang lebih bersih, tidak kumal seperti yang mereka kenakan saat ini.
***
Siang hari di Kantor Polisi Perancis, nampak Sherif Tasman sedang membuka hasil rekaman chip yang ada di rumah Louis Sanderman dan Darwin Hemington.
“Tidak ada aktivitas yang mencurigakan dari Darwin Hemington. Atau mungkin belum terlihat aktivitas yang mencurigakan darinya?” Sherif Tasman hanya melihat Darwin menumpuk beberapa buku dan menatanya di meja.
Ia kemudian mengalihkan pandangannya pada rekaman lainnya yang merekam semua aktivitas di penthouse Louis.
Setelah memasukkan kode kunci, muncul tayangan Louis yang sedang berada di sebuah studio film.
“Pantas saja, penthousenya kosong. Rupanya dia masih ada acara syuting. Entah kapan dia akan selesai,” decak Sherif Tasman.
Baginya mengawasi seorang artis sungguh membosankan. Ia tak ingin mengulik kehidupan seorang artis lebih dalam.
“Nanti saja aku akan memeriksanya lagi. Aku akan beralih memeriksa kasus lainnya di kota ini.”
__ADS_1
Sherif Tasman menarik napas panjang melihat setumpuk dokumen yang ada di mejanya setinggi tiga puluh senti. Baru saja tadi masuk berkas kasus pembobolan bank besar-besaran. Yang membuat pikirannya bercabang, tak bisa hanya pada satu kasus saja.
***
Sore hari di Airport Charles de Gaule.
Bandara terlihat ramai pada sore kala itu. Banyak orang berseliweran keluar masuk Airport.
“Beruntung aku masih mendapatkan tiket ke Perancis.” Seorang pria keluar dari loket pembelian tiket. Ia membawa selembar kertas persegi panjang dan mengibaskannya di depan hidungnya yang menjulang tinggi seperti Gunung Alpen.
Dia berdiri dekat kursi besi panjang dan mengedarkan pandangan ke sekitar.
“Jam berapa ini?” Pria itu kemudian melirik jam tangan rolex yang melingkar di pergelangan kirinya.
“Sebaiknya aku bergegas sekarang, lima menit lagi Pesawat akan tinggal landas.”
Pria yang memakai baju setelan berwarna orange menyala itu kemudian menuju ke pesawat dengan tujuan Perancis - Swiss.
*** halo akak semua masih ada 1 eps lagi ya. Jgn lupa like dan commnet agar penulis semangat.
__ADS_1