
Empat jam kemudian, Detektif Carl tiba-tiba terbangun dari tidurnya. Dia merasa suhu kali ini dingin sekali sehingga membuatnya ingin pergi ke toilet untuk buang air kecil.
Pria itu sampai melompat turun dari tempat tidur saking kebeletnya. Ia lalu penari tergoblok menuju ke tangan untuk menuntaskan hajatnya.
Setelah keluar dari kamar kecil ia pun kembali ke kamarnya. Ia sekilas menatap ponselnya yang tergeletak di meja dekat tempat tidur. Lampu ponselnya menyala berkedip dan itu menandakan ada pesan yang masuk.
Sengaja ia mengatur modenya seperti itu, agar ia mengetahui jika ada pesan yang masuk. Terlebih jika ia sedang sibuk dan tak sempat melihatnya, lampu indikator yang terus menyala dan menunjukkan pesan belum dibuka akan mempermudahnya mengetahui mendapatkan pesan.
“Pesan dari siapa?” gumamnya, langsung meraih ponselnya dengan cepat.
Detektif Carl lalu membuka ponsel untuk melihat pesan dari siapa.
“Siapa yang mengirim ini?!” pekiknya terkejut saat melihat isi pesan yang masuk.
Tak hanya pesan itu berasal dari nomor tak dikenal, tapi isi pesannya berupa ancaman. Ancaman agar dia berhenti menyelidiki kasus Sarah Michelin dan jika masih terus lanjut melakukan penyelidikan maka dia akan kehilangan nyawanya.
Tac! Detektif Carl menaruh kembali ponselnya ke meja dengan kasar.
Pria itu membuang nafas kasar dan mengusap wajahnya. Mukanya seketika merah mendapatkan ancaman seperti ini. Baru kali ini juga dia mendapatkan teror dari pelaku seperti ini.
Jika dia mengirimkan pesan ancaman seperti ini, bisa jadi pelaku juga mengirimkan serangan padaku, batin Detektif Carl.
Entah kenapa feelingnya berkata demikian. Bahkan sekarang ia pun membuka sebuah laci dan mengeluarkan sebuah item dari sana. Bom detektor.
“Aku khawatir saja jika pelaku mengirimkan bom kemari. Waspada itu perlu,” celotehnya untuk antisipasi saja.
__ADS_1
Tapi ia berharap tak ada kiriman bom di rumahnya.
Langsung saja Detektif Carl membawa item yang ia beli dari shop sistem itu. Beberapa waktu ini, pria itu membeli berbagai item yang menurutnya ia perlukan untuk untuk pekerjaannya. Selain itu peralatan dari sana sistem lebih canggih daripada item yang di jual bebas di market.
“Di ruangan sini tak ada,” gumamnya setelah melakukan sensor di kamarnya.
Ia lalu beralih ke ruangan lain untuk mendeteksi apakah ada bom atau tidak. Dia menyisir seluruh bagian rumah.
“Sepertinya itu hanya kecurigaan ku saja.”
Ia berniat untuk duduk di sofa ruang tamu, setelah menyisir dan menyatakan kondisi rumahnya saat ini aman.
Ia pun berjalan cepat dengan sedikit mengantuk, tak sengaja kakinya tersangkut kaki meja, karena memang setengah mengantuk.
Huh! Detektif Carl kemudian mengeluh setelah berhasil menaruh pantatnya ke sofa, enggan untuk bangkit lagi mengambil bom detektornya yang terlempar.
Matanya bahkan langsung terpejam kembali saat itu setelah menyentuh bantal yang ada di sawah.
Tit-tit-tit!
Seketika Detektif Carl pun tak hanya dan tersadar dari tidurnya begitu mendengar alat detektornya berbunyi.
“Hais! Ada bom! Di mana bomnya!” pekiknya terkejut, memaksa matanya yang berat untuk terbuka.
Seingatnya semua bagian rumah sudah ia sisir dan tak menunjukkan keberadaan bom di manapun.
__ADS_1
Ia segera berdiri menuju ke pintu lalu mengambil alat pelacak bomnya.
“Apa mungkin ada bom di luar?” gumamnya.
Ia pun segera membuka pintu dan betapa terkejutnya dia memang ada sebuah bom tepat di depan pintunya dan hampir saja ia injak juga tidak melihatnya.
“Astaga! Pelaku pembunuhan ini memang benar-benar gila. dia tahu aku menyelidiki kasus ini lalu langsung memberiku peringatan keras seperti ini?” pekiknya, menelan saliva dengan susah payah.
Tak ada waktu untuk mengumpat, memaki atau apalah. Yang terpenting sekarang baginya adalah menyingkirkan bom tersebut.
Langsung saja ia berjongkok dan mengambil bom tersebut khawatir kalau timernya aktif dan meledak saat ini juga. Buru-buru ia memeriksanya.
“Astaga, bom ini akan meledak dua puluh menit lagi!”
Kantuknya saat itu seketika hilang. Bahkan ia pun tampak berkeringat saat ini hati pun cuaca sedang dingin.
“Jangan sampai bom ini meledak dan menghancurkan seluruh isi rumahku,” cicitnya sembari meremat tangan.
Tak mau menunda waktu lebih lama lagi maka dia segera berlari masuk ke rumah untuk mengambil peralatannya yang biasa digunakan untuk menjinakkan sebuah bom.
***
Terima kasih untuk akun penulis yang tak mau di sebut namanya dan telah memberi tips koin. Semoga rezeki kk lancar.
Semakin ke sini makin dikit like dan sepi comment, padahal jml pembaca naik. Lemezz 😔
__ADS_1