
Satu minggu berlalu setelah penangkapan Darwin Hemington. Detektif Carl pun sudah kembali ke Swiss sejak seminggu yang lalu.
“Scarlet sudah dua minggu lebih, kau masih belum juga membuka matamu. Apa kau tak mau bertemu denganku lagi?” Detektif Carl menggenggam jemari tangan Briptu Scarlet, di Rumah Sakit.
Setelah kepulangannya dari Perancis, dia setiap waktu berada di rumah sakit untuk menjaga wanitanya itu. Sedangkan masalah kantornya, ia serahkan pada Leo yang memang credible mengatasinya.
Dari awal masuk ke rumah sakit sampai detik ini, Briptu Scarlet masih tak sadarkan diri. Padahal dokter menyatakan kondisinya baik. Tapi kenapa belum sadar sampai saat ini? Itulah yang membuat hatinya terasa seperti diremat habis.
“Scarlet, jika kau tak membuka matamu segera, jangan salahkan aku jika aku pergi meninggalkanmu dan mencari wanita lain.”
Sungguh yang diucapkan oleh Detektif Carl itu bukan yang sesungguhnya. Sengaja Dia berkata demikian untuk menstimulasi otak yang tertidur.
Otak biasanya akan menanggapi stimulasi dari luar, sesuatu yang berbahaya atau tidak menyenangkan dalam waktu cepat.
Tiba-tiba saja Detektif Carl merasakan jemari tangan Briptu Scarlet, bergerak dalam genggaman tangannya.
Bahkan gerakan jemari tangan itu kemudian semakin keras, sampai meremat jari tangan Detektif Carl.
“Scarlet! Kau sudah sadar, Sayang. Akhirnya kau membuka matamu juga.” Bukan kepalang, bahagianya Detektif Carl melihat wanitanya saat ini membuka mata.
Meskipun tatapannya tajam sekali padanya.
__ADS_1
“Carl, berapa lama aku berada di sini?” Briptu Scarlet menggerakkan sepasang bola matanya dan mendapati dirinya berada di rumah sakit.
Padahal seingatnya, dia sedang di tawan oleh pria berpakaian orange terang.
“Sudah tiga pekan kau terbaring di sini,” tukas Detektif Carl, masih menggenggam jemari wanitanya.
“Lalu bagaimana dengan pria asing itu?”
“Louis Sanderman, maksudmu? Dia sudah medekam di sel tahanan dan mendapatkan hukuman berlapis atas kejahatannya.”
Briptu Scarlet nampak lega. Bahkan sekarang pun, ia merasa tubuhnya sudah membaik, lalu mencabut selang infus dari tangannya.
Namun sesuatu yang mengejutkan terjadi, sebuah tamparan keras mendarat di pipi Detektif Carl setelahnya.
“Kau bilang mau meninggalkanku dan mencari wanita lain. Berharap saja kau! Aku tak akan memberikan itu terjadi! Siapa wanita itu? Aku akan menembaknya sekarang!”
Detektif Carl kemudian mengulas senyum lebar di ujung bibirnya. Ternyata wanitanya memang benar-benar bangun karena ucapannya tadi.
"Scarlet, kau tahu aku tidak serius mengucapkannya. Aku hanya ingin menstimulasi otak kecilmu sakit agar segera sadar.”
Setelah memberikan penjelasan, tanpa menunggu jawaban dari Briptu Scarlet, Detektif Carl langsung mendekap erat wanitanya itu.
__ADS_1
“Ayo, kita menikah saja untuk menghapus rasa curigamu itu,” ungkap Detektif Carl.
Dia melepaskan pelukannya, dan beralih mengusap lembut pipi wanitanya itu. Dengan cepat, dia pun mendaratkan ciuman di bibir Briptu Scarlet.
“Carl ...” Briptu Scarlet pun membalas cuman itu, ciuman yang dalam dan juga hangat. Entah berapa lama bibir mereka terpagut.
***
“Masuklah.” Detektif Carl membukakan pintu mobil untuk Briptu Scarlet.
Mereka berdua keluar dari rumah sakit dan memutuskan untuk pulang.
Briptu Scarlet kemudian duduk. Tepat di saat Detektif Carl akan mengajukan mobil, terdengar nada pesan masuk.
“Sebentar.” Dia mengeluarkan ponsel kemudian membuka isi pesannya.
Sepasang bola matanya membulat lebar, tatkala membaca isi pesan tersebut yang ternyata pesan dari sistem.
Misi terakhir dari sistem. Merebut kembali apa yang di ambil oleh rival, Detektif Darcy. Buat dia merasakan apa yang kau rasakan. Jika bisa lebih parah.
“Ada apa, Carl? Pesan dari siapa?” tanya Briptu Scarlet.
__ADS_1
“Tidak. Bukan apa-apa. Pesan dari Leo. Ada klie n di kantor.” Detektif Carl berbohong.
Ia pun segera melajukan mobil setelahnya.