
Sudah tujuh hari Detektif Carl belum ditemukan serta belum ada kabar lagi mengenai pria itu. Hingga pencarian berakhir pria itu masih belum ditemukan.
Hal ini membuat seseorang merasa senang karenanya.
“Aku tak perlu mengotori tanganku sendiri untuk menyingkirkanmu, Carl. Ternyata kau tak kunjung ditemukan sampai sekarang. Jadi sudah pasti kau mati di dalam hutan sana,” ucap seseorang dengan mengulas senyum lebar di ujung bibirnya.
Siapa lagi pria itu jika bukan Detektif Darcy. Dia merasa menang telak dengan hilangnya rival abadinya.
“Jadi apa rencana Anda selanjutnya, Tuan?” tanya Stuart, asisten Detektif Darcy.
“Bersantai tentunya, Stuart. Jika kau sampai pada titik di mana semua yang kau impikan sudah ada di depan mata, kenapa tidak berhenti sejenak untuk bersenang-senang dan merayakannya?”
Stuart hanya diam mengangguk meresponnya. Baru kali ini dia melihat atasannya bisa tersenyum sepuas ini. Mungkin seperti itu rasanya jika suatu tujuan tercapai terlebih tanpa perlu berusaha untuk meraihnya.
“Aku turut senang jika Anda senang, Tuan.”
***
“Aku tak percaya ini, pencarian resmi dihentikan di Perancis. Pria itu bilang teman dekatnya Carl, tapi kenapa dia tidak mencarinya sedikit lagi sampai ketemu?” protes Briptu Scarlet keras.
Ia masih berharap akan ada pencarian lanjutan sampai Detektif Carl ditemukan.
__ADS_1
“Carl, kau sembunyi di mana? Kenapa kau tak kunjung menampakkan dirimu? Atau kau tak memang tak ingin diselamatkan? Aku sungguh tak mengerti jalan pikiranmu! Kau bodoh dan brengsek membuatku seperti ini!”
Briptu Scarlet kembali berteriak histeris di ruangannya.
Sedangkan agen polisi lain yang melihat itu dari luar hanya menggelengkan kepala saja. Sudah lima hari ini Briptu Scarlet kondisinya tidak stabil dan nampak kacau berantakan.
“Apakah menurutmu kita perlu memanggil seorang psikiater untuknya?” ujar seorang agen polisi menatap ruangan Briptu Scarlet yang ada di seberang ruangannya.
“Biarkan saja dia. Dia wanita kuat tak perlu bantuan dari seorang psikiater. Dia hanya butuh waktu saja untuk bisa menerimanya.” Agen polisi lain menimpali.
Siaran televisi saat itu sedang menyala dan menampilkan berita internasional, berita tentang pesawat Canary Airlines. Membuat dua agen polisi tadi segera mengakhiri obrolan mereka dan beralih menatap siaran berita yang sedang berlangsung.
Ssts!
“Apa? Jadi itu bukan kecelakaan biasa? Sudah kuduga ada sesuatu di sana.” Agen polisi itu nampak terkejut mengetahuinya.
“Jika ada bom di sana, kenapa Detektif Carl tidak bisa mengatasinya?”
“Aku percaya kemampuan Detektif Carl. Mungkin bukan soal dia bisa menjinakkan atau tidak, tapi lebih pada peralatan yang ada di sana lengkap atau tidak. Selain itu mungkin waktunya sangat pendek sehingga dia gagal mengatasinya.”
“Ck! Apapun itu jika dia memang hidup, seharusnya sudah ditemukan. Kasihan dia!” Agen polisi tadi kembali menunjuk Briptu Scarlet dengan dagunya.
__ADS_1
“Di dunia ini keajaiban itu masih ada.”
***
Terdengar suara mobil berhenti di luar kantor.
“Siapa itu yang datang?” Seorang agen polisi yang kebetulan berada di dekat jendela menarik sedikit gorden lalu melihatnya keluar.
“Detektif Darcy? Kenapa lagi dia kemari?”
Setelah agen polisi tadi menutup gorden kembali, Detektif Darcy masuk.
“Apa kau kemari mencari data lagi untuk untuk kasusmu?” ujar seorang agen polisi menyambut.
Detektif Darcy mengulas senyum lebar pada dua agen polisi yang menyambut kedatangannya.
“Sayangnya kalian berdua salah. Selama satu Minggu penuh ini aku tidak membuka kantorku dan menerima kasus dulu.”
“Jika begitu lalu kenapa kau datang kemari?”
“Ada urusan lain. Aku kemari ingin bertemu dengan Briptu Scarlet. Aku ingin mengucapkan selamat, oh, maksudku aku ingin mengucapkan bela sungkawa padanya. Aku turut prihatin dengan berita belum ditemukannya Detektif Carl sampai detik ini.”
__ADS_1
Selepas bicara demikian dia itu kemudian menuju ke ruangan Briptu Scarlet.
“Detektif Darcy?”