
Bahkan Briptu Scarlet pun ikut tercengang juga setelah mengetahui urutan seri nomor pembunuhan kali ini.
“Scarlet, apa background para korban meninggal ini?” tanya Detektif Carl, sepertinya ia lupa untuk memanggil kekasihnya itu dengan gelar pangkatnya saat ada orang lain, selain mereka.
Tapi Briptu Scarlet pun terlihat lupa, bahkan tidak mempermasalahkan panggilan tersebut, karena serius mengerjakan kasus ini.
“Tunggu, Carl aku akan melihatnya lagi.”
Briptu Scarlet lalu menatap monitor laptopnya lagi. Selama lima menit lebih, wanita itu mencari data informasi korban pembunuhan berantai.
Bahkan ia sampai mencetak hasil pencariannya itu agar tidak mengulang bicara berulang kali juga bisa melihat data tadinya berulang kali, jika di perlukan. Tak perlu membuka laptop lagi. Wanita itu sekaligus mengelompokkan hasil pencariannya sesuai nomor surat seri tadi.
Ting! Suara data sudah selesai ter-print.
Briptu Scarlet, lalu masuk ke ruangannya untuk mengambil data tadi, kemudian menyerahkan satu data untuk sherif dan satu data untuk detektif.
Sherif Sherma duduk kemudian membaca semua data tersebut, begitu juga dengan Detektif Carl.
“Korban nomor urut seri 4-4 kesemuanya merupakan atlet, lari, lompat jauh. Korban seri 5-5 kesemuanya merupakan guru olahraga dari tingkatan Sekolah Dasar sampai Sekolah Menengah. Korban nomor urut seri 6-6 merupakan instruktur di sebuah gym.” ucap Sherif Sherma membaca data tersebut.
Sedangkan Detektif Carl meletakkan data yang dipegangnya setelah selesai membacanya. Malahan kini ia nampak menggigit gagang kacamatanya yang ia ambil dari saku tuksedonya, tanda jika dia sedang berpikir.
Pria itu lalu mengetukkan jari telunjuknya di meja.
__ADS_1
“Jika dipikir, semua korban meninggal tubuhnya kuat. Mereka berprofesi sebagai atlet seluruh olahraga juga instruktur gym. Bisa di pastikan, pelaku Mencari korban bertumbuh atletis dan kuat untuk mendapatkan organ yang sehat.”
Alasan yang cukup masuk akal, Sherif Sherma pun mengangguk setuju pada analisis Detektif Carl.
“Sebelum menentukan korban berikutnya, kita perlu tahu semua intrukur gym yang ada di kota ini.” ucap Detektif Carl, tentu saja menatap Briptu Scarlet, tanpa ada maksud mendahului perintah Sherif Sherma.
Sudah kebiasaan bagi pria itu untuk menyelesaikan suatu masalah dengan cepat dan mengusut hingga tuntas, hingga sepertinya Ia lupa saat ini berada di kantor kepolisian bukan di kantornya sendiri.
Bagusnya, Sherif Sherma tak mempermasalahkan hal itu. Dia sedikit banyak mengerti sikap Detektif Carl, seperti apa.
“Tunggu sebentar, aku akan mencarinya.”
Briptu Scarlet, segera mencari data lagi. Data semua gym yang ada di kota itu.
Bagaimana tidak bernafas panjang jika jumlah gym yang dia temukan di kota ini ada 30 gym. Tentu sangat merepotkan bukan, jika harus memeriksa satu per satu gym.
“Detektif Carl, apa kau punya gambaran kira-kira gym mana yang akan didatangi oleh pelaku pembunuhan berantai?” tanya Sherif Sherma, meskipun ia juga sudah berpikir sebelumnya, namun masih blur.
Briptu Scarlet kali ini tak menatap kekasihnya itu. Ia membaca kembali data yang sudah di printnya. Tentu sebagai polisi dia juga bisa menganalisisnya.
“Dari dua gym sebelumnya, dua gym itu berjarak 6 kilo saja.” tutur wanita itu, lalu membaca kembali data di sebelahnya.
“Menarik sekali, ternyata pelaku kembali menggunakan angka 6 saat beraksi.” tambah wanita itu.
__ADS_1
Sherif Sherma yang saat itu tampak mendengarkan dengan serius, melihat lagi foto yang ada di meja setelah merasa sedikit menemukan titik terang di sana.
“Jadi katakan dimana 2 gym lainnya yang berjarak 6 kilo dari dua gym, Venera dan Horizon gym?” tanya Sherif Sherma mulai tak sabar.
Briptu Scarlet lalu menjelaskan ada tiga gym yang berjarak 6 kilo dari 2 gym tersebut. Power Gym, Stanza Gym dan juga Manor Gym.
Harusnya ada dua gym saja, namun letak Venera Gym berada di titik tengah segitiga siku, yang membuatnya mempunyai dua kemungkinan dekat dengan dua gym.
“Jika begitu kita perlu ke lokasi sekarang juga.” titah Sherif Sherma, lagi-lagi tak sabar ingin segera mengungkap pelaku sebenarnya, yang sudah membuatnya geram.
Kasus ini sudah dua pekan dan belum menemukan titik terang sama sekali.
“Sherif, Anda kirimkan agen polisi kesana saja.” ucap Detektif Carl.
Ia sendiri masih memikirkan pembunuhan korban seri 4-4 dan seri 5-5 untuk mencari bagaimana pelaku menentukan korbannya, apakah random atau ada pola lain lagi.
Sherif Sherma meihat kantor kepolisian yang saat ini sepi hanya ada beberapa orang saja di sana.
“Baiklah, aku akan menelepon kembali 5 agen polisi yang tadi ku kirim di lapangan.” ucapnya tersenyum lebar, hingga pipinya tertarik ke samping.
***
Terimakasih untuk kk yang sudah kasih tips iklan. Semoga berkah. Kalau saja semua pembaca mau kasih tips iklan, penulis akan senang sekali. Masih ada lagi satu eps. Penulis mau cari inspirasi dulu.
__ADS_1