Super Sistem Detektif Kaya

Super Sistem Detektif Kaya
Eps. 93 Mengatasi Kerusuhan


__ADS_3

Pagi itu juga sekumpulan pria eksentrik yang mengendarai motor antik tadi berkonvoi, sehingga membuat jalanan yang mereka lewati kembali macet.


Di tengah konvoi mereka, akhirnya mereka berhenti di sebuah lapangan besar, melakukan kegiatan rutin kelompok mereka.


Beberapa pria bertato ular itu masuk ke sebuah bank. Dengan cepat merka merampok bank.


“Cepat antarkan kami ke brankas utama. Berikan kode brankasnya pada kami, jika masih ingin nyawa kalian selamat!” hardik salah satu pria bertato ular, penuh dengan pistol ke salah satu pegawai bank.


Seorang wanita lainnya yang takut dengan kejadian itu sebenarnya menghubungi polisi, namun tentu saja kamu itu mengetahui aksi pegawai bank itu dengan mudahnya.


“Berhenti menghubungi polisi! Atau nyawa kalian semua tak akan selamat di sini!” ancam pria bertato ular yang lainnya.


Tentu saja wanita tadi sama sekali tak berani melanjutkan menghubungi nomor polisi, ia menaruh kembali gagang telepon dengan tubuh gemetar hebat.


Di luar, kelompok mereka yang terdiri dari beberapa anggota yang lain membegal beberapa kendaraan bermotor di jalanan.


“Tidak, tolong lepaskan aku. Baik, aku akan berikan isi dompetku padamu,” ujar seorang pengendara mobil yang takut nyawanya melayang, jika saja seseorang menarik pelatuk pistol yang kini berada tepat di pelipisnya.


Dengan gemetar dan berat hati pria tersebut pun membuka dompet dan mengeluarkan isinya untuk diserahkan pada pria bertato ular tadi.

__ADS_1


Tak puas dengan tindak kriminalitas mereka, seorang anggota kelompok lainnya tampak membakar toko di pinggir jalan.


“Tidak, tokoku!” pekik seorang pria melihat tokonya dibakar oleh seseorang.


Namun ia tak berani protes atau melakukan apapun setelah melihat pelakunya seorang pria bertato ular.


Pagi itu kantor polisi ramai dengan suara dari teleponnya yang tiada henti berdering. Seorang polisi kemudian mengangkat telepon tersebut. Ia nampak panik mendapatkan laporan dari warga jika ada kerusuhan yang diakibatkan oleh segerombolan mafia dan sejenisnya.


Selesai menerima laporan dari warga, agen polisi tersebut masuk ke ruangan Sherif Sherma dan melaporkan semua kejadian itu.


“Apa kelompok mafia mengamuk di jalanan? Cepat tugaskan beberapa orang ke lokasi segera untuk mengendalikan situasi!” titah Sherif Sherma, saat itu juga.


“Kemana para agen polisi itu pergi?” gumam Detektif Carl, melihat tak hanya tiga orang, namun sepuluh orang agen polisi yang bertugas.


Briptu Scarlet pun sampai ikut berdiri dan menghampiri salah satu dari mereka.


“Kalian mendapatkan tugas ke mana?” tanyanya, tak hanya untuk memuaskan rasa penasaran Detektif Carl, tapi untuk dirinya sendiri juga.


Satu agen polisi kemudian menceritakan apa dan ke mana tujuan mereka. Setelah itu mereka segera bergerak cepat sesuai perintah.

__ADS_1


Satu mobil patroli polisi pun meluncur di jalanan dengan cepat menuju ke titik lokasi, jalanan Park Ring D.


Ketika mereka tiba di sana, suasana sudah tak karuan. Polisi berhasil menyelamatkan beberapa sandera juga korban yang menjadi tawanan mafia bertato ular tadi, meskipun tak satu pun dari anggota mereka yang berhasil mereka tangkap.


Di lain tempat, di sebuah rumah yang mirip dengan panti asuhan yang menampung banyak anak berusia 10 sampai 15 tahun, terlihat seorang pria bertubuh kurus, berperawakan jangkung, dengan gelang metalik di tangan dia yang bersimbolkan seekor ikan menelan bom, menghampiri mereka semua.


“Makanlah yang bergizi kalian semua. Sebentar lagi akan ada klien yang datang kemarin dan memilih satu yang terbaik dari kalian untuk menjadi donor ginjal.” ucapnya dengan tersenyum miring, membawakan sarapan mereka.


Sontak saja mereka semua yang ada di sana merinding ketakutan dan tak berselera makan saat itu juga.


Di jalanan yang lain, seorang pria berperawakan sedang, berkulit putih dan wajah lumayan sekelas Brad Pitt tampak berhenti di sebuah gym, bukan lima gym yang sudah disebutkan sebelumnya namun gym lain.


Ia tidak masuk dan hanya berdiri di luar saja, mengamati suasana gym tersebut juga menatap instruktur di sana.


Dengan senyum miring kemudian pria itu pergi dari sana.


“Carl, lalu apa yang akan kita lakukan selanjutnya?” tanya Briptu Scarlet, setelah duduk satu jam lebih lamanya berkutik dengan data informasi sebelumnya.


“Aku tak berani bergerak dulu sebelum ada petunjuk lagi. Mungkin aku akan jalan keluar sebentar dan kembali lagi ke sini.”

__ADS_1


__ADS_2