
Detektif Carl masih membaca berkas Octopus Viedra yang masih ada di tangannya.
Di sana juga terlampir foto pria tersebut. Sekilas dari tampilan memang pria itu tidak terlihat garang sama sekali seperti pembunuh. Tapi dari sorot mata terlihat sangat berbahaya.
“Ada apa dengan informasi di halaman kedua?” Detektif Carl lalu membalik halaman kedua dan membacanya.
Di sana terlampir biodata pria itu mulai dari usia beserta keluarganya. Ada satu informasi mengejutkan lagi. Ternyata pria itu kembali dan mempunyai saudara kembar bernama Richard Viedra.
Detektif Carl menautkan kedua alisnya, lantas kenapa nama belakangnya dirubah menjadi Vladimir? Meskipun huruf awalnya sama-sama berawalan V.
Sayangnya itu tidak terlampir pada berkas tersebut. Namun informasi itu sudah sangat cukup sekali laginya.
“Oh, klien di depan pasti menungguku.” Detektif Carl lalu berjalan tergesa-gesa kembali ke depan. “Maaf, Tuan. membuatmu menungguku lama.”
“Tak apa, Tuan Carl.” Marcus mengetahui nama Detektif Carl dari plat nama kayu yang ada di meja, persis di samping tangan kirinya.
Detektif Carl hanya mengulas senyum tipis saja meresponnya, setelah Marcus mengetahui namanya.
“Tuan Marcus, apa Anda pernah melihat sosok pria ini sebelum kejadian?” Detektif Carl lalu menunjukkan foto Octopus.
Tadi saat masuk ke ruangannya, dia kembali membaca rentetan peristiwa yang ia tempel di dinding dan menemukan nama kliennya saat ini adalah Marcus.
__ADS_1
Marcus melihat foto tersebut dan mencoba mengingatnya.
“Ya, Tuan. Aku pernah melihat sosok pria ini sehari sebelum kejadian. Sore itu aku pulang kerja. Tepat di ujung jalan masuk, aku melihat pria ini bicara dengan seseorang dari sebuah toko bunga. Tapi aku tidak mengenalnya Kau pikir dia adalah pembeli biasa,” papar Marcus.
Selesai bercerita pria itu kembali meremas kedua tangannya di bawah sana. Jika saja ia tahu pria yang ia temui sehari sebelum kejadian pasti ia akan menembaknya lebih dulu sehingga Bella tak perlu mati.
Jawaban dari Marcus menguatkan dugaan Detektif Carl. Terbukti Octo Viedra berkeliaran sehari sebelum kejadian. Bisa jadi dua hari atau jauh-jauh hari sebelumnya pria itu sering datang ke sana untuk mengamati kondisi sekitar.
“Aku akan segera bertindak. Tuan Marcus tak perlu khawatir. Karena aku yakin pria ini juga yang membuat Leo terluka,” tutur Detektif Carl.
***
“Jeremy Viedra. Tunggu, aku akan mendatangimu.”
Detektif Carl berada di luar kantor. Ia tak membawa koper ataupun tas besar. Cukup membawa tas kecil berisi perlengkapan penyelidikan saja. Karena tujuan dia berangkat ke Perancis bukanlah untuk liburan tapi menangkap pelaku kejahatan.
Klak! Sesaat setelahnya terdengar suara pintu mobil tertutup.
Detektif Carl lalu maju mobilnya menuju ke airport terdekat. Dia akan menemui Jeremy Viedra, orang tua dari Octopus Viedra.
“Sepertinya aku datang terlalu cepat.” Ia tiba di airport, 20 menit sebelum pesawat mengudara.
__ADS_1
Pria itu kemudian turun dari mobil. Ia mengeluarkan satu batang rokok dan mulai menghisapnya sembari menunggu waktu.
Setelah mengabiskan tiga batang rokok, ia kembali melirik jam yang melingkar di tangan kirinya.
“Sudah saatnya aku berangkat.”
15 menit sudah waktu berlalu dan sekarang menurutnya sudah saatnya untuk berangkat.
“Tolong tiketnya, Tuan.” ucap petugas loket.”
“Ini.” Detektif Carl menyerahkan tiketnya pada petugas loket.
Pria itu kemudian berjalan dengan tenang masuk ke pesawat dengan tujuan Swiss Prancis, meskipun dalam hatinya ia sudah Tak sabar menemui pria bernama Octopus itu dan merematnya menjadi kepingan luka.
Dia berniat ingin memberi pria itu pelajaram sebelum menyerahkannya pada pihak polisi. Itu sebagai konsekuensi karena telah melukai Leo.
Beberapa saat kemudian pesawat mengudara.
Aku pasti bisa menemukan pria itu dengan, batin Detektif Carl menatap ke luar jendela awan di langit Swiss yang berwarna putih dan bergumpal.
“Kau pasti akan senang Leo, jika aku pulang membawakan hadiah untukmu.”
__ADS_1