
Pria tadi tidak mengetahui, ada kartu namanya yang terjatuh dari saku bajunya. Entah itu kartu namanya sendiri, atau kartu nama orang lain.
“Di mana cincinnya?” pekiknya, mencari sampai berjongkok dan melihat kolong di bawah meja namun tak ada juga.
Hah! Saking kesal dan frustasinya, pria itu sampai menggulingkan kursi yang ada di sampingnya.
“Sialan!” umpatnya sembari mengacak rambut coklatnya.
Tiba-tiba saja datang seorang wanita menghampirinya.
“Tuan, Anda sedang mencari apa?”
“Cincinku tidak ada. Jika kau membersihkan rumah dan menemukan cincinku itu tolong berikan padaku,” jawabnya menjelaskan.
“Ya, Tuan.”
Pelayan itu mengangguk kemudian pergi setelah pria itu memperbolehkannya pergi.
Di rumah Detektif Carl, pria itu masih duduk dan menatap laptop di depannya dengan serius.
Ia membaca tiga wanita lain yang meninggal di waktu yang bersamaan dengan Sarah Michelin.
Tiga korban lain yang meninggal bernama Gaby Atwood, Melanie Ricardo, dan Angela Song. Ketiga wanita itu berumuran sama, 27 tahun.
“Sarah Michelin juga berumur sama dengan mereka, rupanya,” gumam Detektif Carl, setelah melihat biodata diri Sarah Michelin.
__ADS_1
“Ada yang aneh di sini. Kenapa mereka berempat berumur sama,” pekiknya jadi mengira itu pembunuhan berpola lagi, seperti kasus sebelumnya yang ia tangani.
Ia lalu melihat foto tiga wanita yang meninggal dan memperhatikannya dengan seksama.
“Tunggu, kenapa aku melihat tiga wanita ini hampir mirip. Apa aku tak salah lihat?” gumamnya lagi, sembari memegang dagunya.
Dilihatnya lagi tiga foto wanita tadi. untuk memperjelasnya ia memperbesar foto tersebut. Jika dilihat sekilas memang tiga wanita tadi terlihat mirip satu sama lain meskipun mereka bukan kembar, ada kemiripan di antara mereka.
Detektif Carl ada sedikit rasa curiga, maka ia pun melihat foto-foto Sarah Michelin semasa masih hidup dalam berbagai pose dan suasana.
Keningnya tampak berkerut saat melihat salah satu foto Sarah Michelin. Menurutnya, sekilas ia melihat ada kemiripan wajah antara Sarah Michelin dengan tiga wanita lainnya yang sudah meninggal.
“Aku tak percaya ini!” pekiknya terkejut.
“Bagaimana bisa ada kemiripan seperti ini meskipun jelas-jelas mereka tidak sedarah?” celotehnya, setelah melihat silsilah keluarga mereka dan memang tidak berhubungan satu sama lainnya. Tak ada hubungan darah di antara mereka.
Detektif Carl menaruh sejenak empat foto tadi ke meja. Jika mereka berempat meninggal secara bersamaan dan ada selisih waktu selama 15 menit saja maka hal itu menimbulkan pertanyaan.
“Apakah empat korban ini saling mengenal satu sama lain?” tanya detektif cerocosnya begitu saja.
Karena jika mereka saling mengenal mungkin saja pembunuhan ini mudah untuk mencari kaitannya dan korelasi di antara mereka.
Mungkin aku akan meminta Leo besok untuk menyelidikinya kembali apakah mereka memang terhubung satu sama lain, batinnya dalam hati.
Satu jam berikutnya terlihat detektifkan menutup laptopnya, setelah mengecek sudut matanya yang mulai berair dan merah.
__ADS_1
“Besok saja, aku lanjutkan penyelidikan ini.”
Ia pun lalu berbaring di tempat tidur.
Di jam yang sama pukul 23.00, sebuah mobil datang di Danau Eire. Turun dari mobil silver itu seorang pria memakai kaos oblong dan celana pendek, masuk ke lokasi dengan membawa penerangan tambahan, senter.
“Aku tidak yakin cincinku jatuh di sini atau tidak. Tapi kemungkinan jatuh di sini itu ada,” gumamnya.
Ia lalu buru-buru dan menyalakan dua senter yang dibawanya untuk menerangi jalan, lalu berhenti di tempat di mana tadi terdapat tali tambang di sana.
“Apa mungkin cincinku terlepas saat aku menarik tali tambang tadi? Tali itu menggesek cincinku sampai terlepas tanpa kusadari?”
Pria itu lalu mencari di sekitar area, dan tidak menemukannya. Ia bahkan masih melihat jejak sepatunya tadi, lalu juga mencarinya di sana barangkali saja ada di dalam lumpur.
“Ini, ada jejak kaki lain di sini. Jejak milik siapa ini?” pekiknya, melihat ada jejak lain, di dekat sepatunya yang masih terlihat di area yang tidak ditumbuhi rumput tersebut.
“Ada orang yang kemari setelah aku pergi dari sini. Siapa dia?”
Mukanya seketika terlihat tegang. pikirannya pun jadi teralihkan tak memikirkan cincin yang dicarinya lagi tapi memikirkan siapa yang datang ke sana dan itu membuatnya cukup penasaran.
Pria itu cepat-cepat keluar dari danau. Ia lalu kembali masuk ke mobilnya.
“Untung saja aku membawa laptopku tadi,” gumamnya.
Ia membuka laptopnya dan dengan cepat ia bisa menemukan letak keberadaan CCTV di danau tersebut. Dan saat ini ia berusaha meretas ke kamera CCTV tersebut yang ternyata dikunci untuk warga publik.
__ADS_1