
“Dimana Louis Sanderman? Satu jam lagi dia waktunya syuting.” ujar seorang sutradara di lokasi syuting Perancis.
Pagi ini studio film terlihat sibuk. Acara syuting sudah mulai di gelar untuk film yang kejar tayang.
“Aku tidak tahu. Mungkin dia dalam perjalanan kemari. Nomor ponselnya tidak aktif,” ujar manajer Louis Sanderman yang bertanggung jawab atas artis pendatang baru tersebut.
Mnajernya itu juga mengatur jadwal kesehariannya Louis Sanderman.
“Aku tidak mau tahu. Dalam waktu satu jam ke depan, jika Louis Sanderman tidak datang, maka acara syuting akan tetap berlangsung tanpa dia,” ujar Sutradara.
“Ya, aku akan mencarinya.”
Manajer tadi kemudian kembali ke ruangan tempat biasanya Louis Sanderman berada. Mungkin saja dia di sana dan sudah tiba.
“Ck! Di sini juga tidak ada. Di mana dia?” Manajer sampai bingung mau mencari kemana lagi.
***
“Suara apa itu di sana?” Manager Louis mendengar suara berisik dari ruangan Louis Sanderman.
Ia bergegas masuk untuk melihatnya. “Astaga! Louis Sanderman! Kau kemana saja?”
__ADS_1
Ya, manajer itu melihat Louis Sanderman sedang berbaring dengan santai di matras lipat di ruangan sedang bermain ponsel.
Ruangan itu bahkan juga dilengkapi dengan dapur kecil minimalis, untuk jaga-jaga saja jika artis harus menginap di sana.
“Sutradara marah-marah mencarimu, ternyata kamu ada di sini. Cepat keluar, mereka semua sudah menunggumu,” ungkap manajer tersebut.
“Ya, manajer Neil, kau tenang saja. Aku akan ke sana dalam waktu lima menit.”
Manajer Neil kemudian segera keluar dari ruangan dengan menggerutu, “Dasar anak muda zaman sekarang! Aku bingung mencarinya ke mana-mana ternyata dia dari sana dan hanya bermain ponsel.
***
“Louis Sanderman, kau akhirnya muncul juga. Kau tahu syuting akan tetap berlanjut jika kau tak segera datang,” kata seorang aktor yang juga merupakan artis pendatang baru.
Louis Sanderman melewati artis pendatang baru tadi lalu masuk ke ruang syuting tanpa dosa, juga tanpa beban.
***
Di lain tempat di sebuah ruangan tertutup. Terlihat seorang gadis kecil terikat. Dia tidak sendirian di sana, ada seorang wanita yang juga dalam kondisi terikat seperti dirinya namun dalam kondisi tak sadarkan diri.
“Oh, Nona. Cepatlah bangun. Harusnya, aku percaya dengan ucapanmu kemarin. Ternyata kakak itu berniat menculikku. Kau berusaha menyelamatkan diriku tapi malah terkena serangan.” Gadis kecil itu menangis tersedu, menatap wanita di sampingnya.
__ADS_1
Wanita berseragam polisi yang masih tergeletak dengan darah membasahi bahu.
“Nenek, aku takut di sini. Nenek, datanglah, selamatkan Chocho. Aku salah sudah mengikuti orang asing. Hiks.” Ia kembali menangis tersedu, juga gemetar.
***
Di Universitas Sorbonne, nampak meja Darwin Hemington kosong. Hanya ada beberapa buku di meja, namun tas kerja pria itu tak ada di sana. Bahkan laptop yang biasa menyala di meja juga tak ada.
“Apakah dia tidak masuk?” ujar seorang dosen yang masuk ke ruangan, menatap ke meja Darwin yang kosong.
Meja Darwin berada di sebelah meja dosen Matematika, yang di asisteninya, Dosen Wirl.
“Apa mungkin dia terlambat?”
Dosen Wirl kemudian duduk. Menunggu asistennya datang. Sepuluh menit kemudian, Darwin datang dan masuk ke ruangan dengan terburu-buru.
“Kukira kau tidak masuk.” Dosen Wirl nampak lega melihat asistennya datang.
“Maaf, aku ada sedikit urusan di luar.” Usai berkata demikian, Darwin bergegas masuk ke toilet yang ada di luar ruangan.
Di sana ia membasuh tangannya. Ada noda darah di sana dan ia sabun berulang kali hingga noda itu hilang dengan sempurna. Tak hanya itu saja, dia juga mengganti kemeja yang dikenakannya saat ini.
__ADS_1
“Sudah beres dan bersih sekarang.” Darwin keluar dari toilet dengan membawa bajunya yang kotor oleh percikan darah kemudian menyimpannya pada loker.
***hai akak semua, maaf ya semalem bilang mau UP ternyata engga. Badan meriang stlh acara. Hari ini up spt biasa tapi jam blom bisa janjiin jam berapa