
Detektif Carl lalu duduk di salah satu kursi kosong di sana. Di meja tersebar banyak foto-foto para korban pembunuhan berantai.
Beberapa waktu yang lalu polisi mendapatkan laporan pembunuhan oleh salah seorang warga.
Dari beberapa laporan warga yang disampaikan, semua korban yang terbunuh berjenis kelamin pria. Ada sepuluh orang pria yang sudah menjadi korban pembunuhan berantai ini.
Jack Black, merupakan korban pertama pembunuhan. Pria berusia 25 tahun, dengan tubuh prima, yang berprofesi sebagai guru olahraga di sebuah sekolah swasta.
Rock Stone, merupakan korban kedua. Seorang pria berusia 30 tahun dan merupakan seorang atlet panahan.
Korban ketiga, Bob Julian. merupakan seorang pria berusia 27 tahun yang berprofesi sebagai intrusktur di sebuah gym.
Detektif Carl mengambil satu persatu kesepuluh foto korban pembunuhan berantai. Ia mengamati dan mencoba mencari kesamaan pada semua korban.
“Coba lihat ini, ada tanda yang tercetak di salah satu foto korban,” tunjuk Detektif Carl, pada sebuah korban.
Di wajah bagian kiri korban terlihat sebuah tulisan samar DN yang di tulis dengan darah yang sudah mengering, jadi warnanya pun pudar setelah satu jam dan kemungkinan akan hilang jika lebih dari waktu itu karena medianya kulit manusia.
“Oh, ya?”
Seorang agen polisi yang duduk tepat di samping Detektif Carl menggeser kursinya mendekat untuk melihat foto tersebut.
Tak hanya polisi itu saja yang melihat, namun Briptu Scarlet yang saat itu masih berada di sana dan tempat berdiri di belakang kursi Detektif Carl pun sampai ikut melihatnya.
__ADS_1
“Benar, tandanya samar.” ucap Polisi tersebut.
Ia lalu mengambil 9 foto lainnya, dan memeriksanya dengan teliti pada bagian setiap wajah korban.
“Tak ada tanda inisial DN di sana.”
“Bisa saja tanda di wajah korban lainnya sudah hilang. Foto yang di kirim pasti bukan foto fresh saat korban meninggal tapi beberapa jam setelahnya,” timpal Detektif Carl.
“Briptu Scarlet, coba kau cari foto lain dari 9 korban ini. Coba cari foto mereka tepat saat mereka meninggal dan periksa apakah benar tanda seperti ini di wajah para korban?”
“Baik, Sherif Sharma.” jawab Briptu Scarlet, lalu masuk ke ruangannya.
Wanita itu memang bertugas menjadi tim penyidik. Namun terkadang dia hanya ada di balik layar saja, tergantung perintah dari atasan. Dan Briptu Scarlet tinggal menjalankan tugas saja.
Ia duduk dan menghadap monitornya. Tak perlu lama, mencari data para korban pembunuhan berantai yang memang sudah ia taruh pada folder khusus.
Klik! Dengan menekan satu tombol, maka beberapa file foto yang ia siapkan tadi sudah tercetak.
“Sherif Sharma, ini permintaan Anda,” Briptu Scarlet menyerahkan beberapa lembar foto pada pria itu dan juga merupakan senior nya.
Sherif Sharma memeriksa foto tersebut. Benar saja, dari semua foto yang ada kini ia menemukan tiga korban lainnya yang juga tercetak sebuah inisial DN di pipi kiri mereka. Namun ia tidak menemukan tanda tersebut 6 korban lainnya.
“Jadi, ini memang pembunuhan bermotif,” ujar Sherif Sharma, lalu menaruh kembali foto-foto tersebut ke meja.
__ADS_1
Namun tentu saja penemuan baru itu tetap saja belum bisa mengungkap identitas pelaku ataupun mengetahui motifnya.
“Scar... Briptu Scarlet, apa kau punya foto seluruh badan semua korban?” tanya Detektif Carl pada kekasihnya yang masih ada di sana.
Dia mencoba bersikap profesional meskipun hampir saja memanggil namanya saja tanpa menyebut pangkatnya.
“Ehem.” Polisi lain yang ada di sana berdehem kecil mendengarnya, kemudian tersenyum kecil sembari menatap Detektif Carl dan Briptu Scarlet bergantian.
“Tak perlu sungkan begitu kalian berdua di depan kami. Kami tidak mempermasalahkan hubungan kalian,” tutur Agen Polisi lain ikut menimpali.
Briptu Scarlet lalu menatap Detektif Carl yang tersenyum tipis tanpa mengangguk ataupun bersuara.
Bahkan ia pun belum merespon permintaan dari Detektif Carl dan langsung kembali ke ruangannya. Sungguh, wanita yang sangat dingin.
“Klik! Briptu Scarlet lalu mencetak kembali semua foto korban dalam posisi utuh, seluruh badan.
“Ini permintaanmu, Carl,” lirihnya lalu menyerahkan berkas foto tersebut.
Detektif Carl pun bergerak cepat lalu memeriksa dengan teliti setiap foto korban.
“Sherif, coba perhatikan ini. Pada bagian perut semua korban di sebelah kanan ada darah yang merembes di baju. Ini artinya mungkin saja pelaku melukai bagian ini. Tunggu, bagian ini merupakan letak organ hati. Apa mungkin...”
Semua yang ada di sana tampak tercengang. Mereka sama sekali tak memikirkan itu sebenarnya.
__ADS_1
Ding! Suara notifikasi sistem masuk.
Apakah ini termasuk misi dari sistem? Batin Detektif Carl yang diam di tengah ketegangan saat ini.