
Briptu Venus kemudian melajukan motor menunjukkan lokasi tempat Canary Airline diperkirakan jatuh saat meledak.
“Tenangakan pikiranmu, Scarlet.” Briptu Venus melihat raut muka rekan dan familinya itu tegang.
Dia tahu jika Briptu Scarlet menjalin hubungan dengan Detektif Carl. Dia juga tahu apa tujuan kedatangan familinya itu kemari.
“Jangan khawatir, aku tak apa,” tukas Briptu Scarlet berusaha menyembunyikan kesedihannya agar tak nampak juga merepotkan familinya.
“Agen polisi di sini bersama tim pencarian lainnya masih terus melakukan pencarian dari kemarin. Bahkan pencarian hari ini dilakukan lebih gencar dan lebih lama daripada sebelumnya setelah ditemukan beberapa korban. Aku akan tanyakan pada rekanku yang juga menjadi anggota tim pencarian nanti ketika tiba di sana.”
Briptu Scarlet hanya mengangguk dan mengulas senyum tipis saja di ujung bibirnya.
Beberapa saat setelahnya mobil tiba di lokasi tempat jatuhnya pesawat Canary Airlines. Di sana terlihat banyak tim yang sedang mengevakuasi dan bergerak.
Bahkan di sepanjang pasir putih yang ada di sana terlihat potongan bangkai pesawat teronggok di mana-mana.
“Apakah black box nya sudah ditemukan?” tanya Sherif Tasman yang kebetulan saat itu ada di sana.
“Belum, Sherif. Kami tidak menemukan dimanapun benda itu. Kami curiga black box itu sudah diambil oleh seseorang.”
“Di ambil seseorang? Apa ada yang membajak pesawat itu?” Jadi muncul dugaan baru jika ada yang menyabotase pesawat tersebut.
Ada yang yang aneh di sini dalam pesawat itu ada Detektif Carl, jika ada seseorang yang membajak pesawat, tentunya pria itu bisa mengatasi terlebih dulu, bukan ? batin Sherif Tasman.
“Maaf, kami tidak tahu, Sherif.”
__ADS_1
Sherif Tasman kemudian hanya menarik napas panjang. Dia kemudian berbalik tepat saat ada seorang yang memanggilnya.
“Sherif Tasman, tunggu,” panggil seseorang.
Pria itu pun akhirnya berhenti. Dia malah mendekati seseorang yang memanggil dirinya itu. “Briptu Venus, ada apa kemari mencariku?”
“Sebenarnya bukan aku yang mencari Anda, tapi rekanku ini.” Suara itu memang suara Briptu Venus.
Ia lalu memperkenalkan Briptu Scarlet pada atasannya itu. Tentu saja pria itu tak mengenal Briptu Scarlet.
“Ada yang bisa kubantu?” tanya Sherif Tasman. Ia mengira agen polisi tersebut adalah salah satu keluarga dari korban penumpang pesawat Canary Airlines.
“Begini, aku khusus datang kemari untuk menanyakan tentang Carl. Apakah Anda menemukan dia?”
“Jadi kau kekasihnya Detektif Carl?”
Briptu Scarlet mengangguk. “Jadi, apakah Anda mengetahui keberadaan Carl?”
Sherif Tasman menggelengkan kepala, “Maaf. Kami sudah berusaha sekeras mungkin untuk mencarinya. Tapi belum menemukan sedikit petunjuk pun mengenai keberadaan Detektif Carl. Andai saja dia menuruti saranku untuk kembali ke Swiss hari ini mungkin dia tak akan mengalami kecelakaan itu.”
Pria itu juga menceritakan pada Briptu Scarlet jika Sebelumnya dia bekerja sama dengan Detektif Carl dalam misi kali ini. Dia juga bercerita Jika dia menawarkan sebuah kerjasama yang ditolak langsung dengan alasan tak ingin meninggalkan wanitanya.
“Carl...” Briptu Scarlet tampak tak bertenaga dan lemas, setelah mendengar cerita panjang dari Sherif Tasman.
“Jika ada info terbaru mengenai pencarian ini khususnya mengenai Detektif Carl, aku akan segera mengabarimu, Nona.” Sherif Tasman kemudian pergi dari sana. Dia tak bisa berlama-lama di sana karena urusannya di kantor masih banyak.
__ADS_1
Mendapatkan info demikian, bukannya Briptu Scarlet nampak tenang. Ia malah semakin histeris. Setelah kepergian Sherif Tasman, ia berlari menuju ke tim evakuasi.
Beberapa petugas menemukan laju korban dari dasar perairan dan membaringkannya di tepi.
“Carl, kau di mana?” Briptu Scarlet melihat satu persatu mayat yang terbaring di pasir putih.
Ia terus mencari seperti hampir kehilangan akalnya, dan ia merasa lega tak menemukan mayat lelakinya.
“Aku yakin kau masih hidup. Dasar pria brengsek keluarlah, jangan sembunyi seperti ini! Kau benar-benar membuatku gila kali ini, Carl.”
Briptu Scarlet kemudian terduduk lemas di atas pasir putih. Ia sampai memejamkan matanya beberapa saat, sembari meremat kedua tangan.
“Scarlet! Kau tak apa?”
Briptu Venus segera berlari menghampiri familinya itu. Ia bisa lihat jika familinya itu terpukul berat setelah melihat jasad para korban yang ditemukan.
Ia pun mengajak pergi dan kembali ke mobil saja daripada Briptu Scarlet lebih histeris dan tak bisa ditenangkan.
Di mobil, Briptu Scarlet tak sengaja menjatuhkan ponsel di sampingnga. Bahkan ia pun tak tahu jika saat ini sedang menghubungi seseorang secara tak sengaja.
“Siapa yang kau telepon?” tanya Briptu Venus.
Briptu Scarlet mengambil ponsel dari sampingnya yang tertindih oleh tubuhnya.
“Carl?”
__ADS_1