
Kedua agen polisi tersebut lalu mengajak pria itu bicara, sembari mengamati sekaligus mengorek informasi darinya.
“Baik, Tuan jika sudah tak ada lagi yang ditanyakan mungkin aku bisa pergi sekarang.” ucap pria itu setelah bicara sekitar dua menit dengan dua agen polisi tadi.
“Ya, Tuan. Terima kasih atas informasinya.” balas salah satu agen polisi, melepasnya.
Pria tadi tersenyum miring, juga jalan cepat meninggalkan tempat itu.
Dasar polisi bodoh. Tapi tak apa, jika mereka cerdas, maka aku akan tertangkap dengan mudah.” batinnya terus berjalan dengan cepat.
Meski tak mendapatkan apa yang dicarinya setidaknya pria itu bisa lega karena lepas dari pengawasan polisi barusan.
“Untung saja, aku selalu waspada dan siaga setiap saat.” Setibanya di tempat yang agak jauh, pria tadi masuk sebuah toilet umum.
Di sana ia melepas topeng kulit lateksnya, menunjukkan wajah aslinya yang tak pernah diketahui oleh siapapun.
Tak hanya melepas topengnya saja, pria itu bahkan mengganti baju yang dipakainya saat ini, untuk mengecoh para polisi. Semuanya ia lakukan dengan cepat.
Satu menit setelahnya, pria itu keluar dari toilet dan kini mengenakan baju serba putih. Setekah di luar toilet, ia pun membalas semua barang yang dilepasnya tadi lalu dimasukkan ke dalam kantong plastik, dan ia buang ke salah satu tong sampah di sana.
“Aku harus kembali sekarang.” gumamnya tersenyum miring lalu beralih mengenakan kacamata hitam untuk menggantikan topi hitamnya tadi.
“Cepat, menyebar! Sebelum pria tadi hilang!” ucap seorang agen polisi pada rekannya.
Dua agen polisi tadi kemudian berpencar untuk mencari pria berbaju hitam tadi yang masih mereka curigai.
Satu agen polisi berhenti setelah berlari 30 meter dan berhenti di dekat mobil hitam dengan pria memakai baju setelan warna putih, berkaca mata hitam.
__ADS_1
“Maaf, tuan. Apa kau melihat seorang pria memakai baju serba hitam dan topi hitam berjalan ke arah sini?” tanya seorang agen polisi.
Pria berbaju serba putih tadi tersenyum tipis.
“Maaf, aku sama sekali tidak melihat sosok pria yang anda sebutkan, Tuan.” jawabnya tegas tanpa keraguan sedikitpun.
Membuat agen polisi tersebut mempercayai ucapannya. Bahkan agen polisi itu kembali bergerak menyisir jalanan.
Pria terbaju serba putih tadi segera melajukan mobilnya, sebelum polisi menyadarinya.
Setelah mobil itu menghilang dari jalanan, barulah polisi tadi menyadarinya.
“Sial! Dia menipuku! Perawakan pria yang kucari tadi mirip dengan perawakan pria yang ada di mobil tadi. Sial! Sial! Sial!” umpatnya tak berdaya.
Namun ia sempat membaca nomor plat mobil tadi, dan menghafal nya.
Setelah di buka isinya setelan baju hitam dan topi hitam.
“Mungkin dia belum jauh. Ayo kita kejar sekarang.” ajak salah satu agen polisi.
Agen polisi lainnya mengangguk maka mereka berdua pun segera melompat ke mobil, untuk mengejar pria tadi.
Deru mobil menderu di jalanan beberapa saat setelahnya. Agen polisi itu lagi-lagi mengendarai mobil dengan batas kecepatan yang di larang.
“Kita melewati batas kecepatan turunkan sedikit kecepatanmu.” ucap satu agen polisi.
“Ini darurat. Tak apa kita melanggarnya. Kita ini aparat, ada pengecualian.”
__ADS_1
Bukannya memperlambat kecepatannya agen polisi itu malah menambah kecepatan.
Bukan tanpa alasan, ia menambah kecepatan seperti itu. Ia melihat mobil putih bernomor polisi yang masih di ingatnya tadi ada dua meter saja di depannya.
“Itu dia mobilnya.”
“Tambah kecepatan lagi jika begitu.” ucap agen polisi itu pada akhirnya.
Mobil pun melaju dengan lebih cepat lagi di jalanan.
Din! Din! beberapa mobil ini ada di jalanan sampai mengunyahkan klakson pada mobil yang dikendarai oleh dua polisi tadi, karena kecepatan mereka melewati batas.
Agen polisi lainnya yang tidak memegang setir membunyikan sirine jika polisi sedang bertugas tanda tak bisa di ganggu gugat.
Namun hanya sebentar saja mereka menyalahkannya dan langsung mematikannya beberapa detik setelahnya, untuk menghindari pengajaran mereka diketahui.
“Sial! Rupanya polisi tadi berhasil mengejarku sampai kemari.” umpat pria perbaju sama putih tadi bisa mendengar sirine polisi meskipun hanya beberapa detik saja.
Ia sudah hafal pada semua atribut yang dipakai oleh agen polisi. Tak hanya menghafal dengan mudah atribut mereka. Bahkan ia pun bisa mengenali penyamaran polisi dengan mudah, seperti tadi. Hanya dari cara bicara dan tatapan mata mereka yang mengintimidasi.
“Coba saja, jika kalian bisa mengejarku.”
Pria perbanyak sembah putih Tadi ikut menambah kecepatannya. Bahkan dengan lihai ia menyelip di tengah banyaknya kendaraan.
“Sial! Kita kehilangan jejaknya!” umpat agen polisi tadi sembari memukul kemudi yang dipegangnya.
Di depan mereka macet total. Banyak kendaraan besar yang tak bisa ditembus.
__ADS_1
Sementara pria setelan serba putih tadi tampak tersenyum miring jauh di depan sana.