
Jeremy Meyer tampak terdiam, dan berpikir sejenak mengingat kembali apa yang dilakukannya bersama Sarah Michelin.
“Pertemuan terakhirku dengan Sarah Michelin, tiga hari sebelum wanita itu meninggal. Tapi sungguh, itu sebatas rekan kerja saja. Aku ke kantornya untuk mengantar sebuah dokumen perusahaan,” tuturnya panjang lebar.
Ia bahkan menunjukkan jadwal kerjanya pada Detektif Carl agar pria itu percaya padanya.
Detektif Carl membaca jadwal tersebut. Dan memang dari jadwal hanya ada satu kali jadwal dari kantor bertemu dengan Sarah Michelin. Benar sesuai yang diucapkan.
“Lalu bagaimana, apa di luar jam kerja kalian bertemu?”
Jeremy Meyer langsung menggeleng.
“Kami tidak sedekat itu Detektif, percayalah. Hubungan kami hanya sebatas hungan kerja saja,” tuturnya.
Detektif Carl lalu beralih melakukan interogasi pada Cheko Adams.
“Bagaimana denganmu, Tuan Cheko Adams? Apa yang kau lakukan di hari terakhir kau bertemu dengan Nona Sarah Micelhelin?” tanyanya langsung, ia ingin mengakhiri investigasi ini dengan cepat.
Pria itu langsung merespon pertanyaan Detektif Carl dengan cepat.
“Sama dengan Jeremy, antara aku dan Sarah hanyalah sebatas rekan kerja, tak lebih. Pertemuan terakhir kami tiga hari sebelumnya di tempat dia bekerja, saat itu dia tampak sedih. Entah apa sebabnya,” tukasnya panjang lebar.
Detektif Carl kembali mendesau mendengar kesaksiannya.
Sepertinya mereka berdua memang tak ada sangkut pautnya, batinnya.
Setelah memastikan kembali dan mencocokkan dengan data yang di bawanya, dan ternyata klop. Dari daftar telepon yang masuk pada ponsel Sarah Michelin, sesuai dengan kesaksian mereka, maka Detektif Carl pun segera mengakhiri sesi investigasinya.
__ADS_1
Menurutnya tak perlu memperpanjang investigasi lagi jika memang dua pria itu tidak ada kaitannya dengan kasus meninggalnya korban.
“Terima kasih, atas kerjasama baik kalian berdua.”
Detektif Carl lalu menjabat tangan mereka dan segera keluar dari perusahaan tersebut.
Ia masuk ke mobilnya, lalu meluncur menuju ke kantor. Di tengah jalan, ia baru membuka ponselnya. Ternyata ada pesan e-mail untuknya.
“Dari Scarlet, rupanya,” gumamnya, setelah mengetahui pengirimnya.
Karena yakin itu pasti info mengenai Foster Bridge yang juga membuatnya penasaran, maka ia pun menepikan mobilnya sebentar demi membaca pesan tersebut.
Klik! Langsung saja pria itu membuka pesan yang masuk untuknya. Informasinya panjang, ada lima lembar yang harus dibacanya.
“Ke salon di akhir pekan?!” pekiknya, merasa aneh membaca hobi seorang pria eksentrik namun suka main ke salon. Dasar banci!” decaknya, berkomentar.
Ia melanjutkan membaca semua informasinya sampai selesai, lalu melajukan kembali mobilnya menuju ke kantor.
Di kantor polisi, Foster Bridge akhirnya memutuskan untuk pulang, setelah lama berada di sana dan urusannya sudah selesai.
“Dia mau pulang, aku akan coba bantu Carl. Mungkin saat ini dia sedang melakukan investigasi,” lirih Briptu Scarlet, saat mendengar pria itu berpamitan pada yang lainnya.
Langsung saja ia keluar dari ruangannya.
“Tunggu, Tuan Foster!” panggilnya, menghentikan langkah pria itu.
“Oh, Briptu Scarlet. Ya, ada apa?”
__ADS_1
Pria itu langsung berbalik menatapnya. Tak biasanya wanita itu mengajak dirinya bicara.
Apa dia ingin mendekati diriku, lalu melempar tubuhnya padaku? Sama seperti yang dilakukan wanita manapun? batinnya, sedikit sombong.
“Tuan Foster, aku hanya ingin bicara sedikit hal tentang Sarah Michelin,” tutur Briptu Scarlet, langsung saja.
Ia memang tipikal wanita lugas yang langsung mengutarakan maksudnya langsung tanpa berbelit-belit seperti kebanyakan wanita yang banyak bicara dengan bumbu MSG satu kilo untuk mendukung cerita hiperbola mereka.
“Sarah Michelin? Kenapa kau tanyakan itu padaku?” tanya Foster Bridge, mengerutkan keningnya.
Pikiran Foster Bridge mulai kemana-mana, tapi dia tak mau berspekukasi sendiri. Lagian tak ada yang tak bisa dia lakukan di dunia ini. Apa saja yang macet dan seret akan lancar kembali saat ia memberikan pelumas berupa uang.
“Apa kau mengenalnya, Tuan? Dia adalah temanku satu SMA dulu.”
Tentu saja ia mengarang cerita hanya untuk mengorek informasi saja dari pria badjingan yang suka mempermainkan wanita itu.
“Oh!” jawabnya singkat, meskipun ada ombak besar dalam hatinya yang bergejolak dan coba ditahannya.
“Aku tidak mengenalnya. Tapi aku mengetahuinya di berita jika dia meninggal karena bunuh diri, sayang sekali.”
Ekspresinya berubah datar dan dingin seketika, entah karena apa.
“Maaf, Nona Scarlet. Aku masih ada kesibukan. Jika kau punya waktu luang, aku akan menemani mu ke tempat menyenangkan,” ucapnya mengakhiri pembicaraan dan buru-buru keluar dari sana.
Briptu Scarlet tak menanggapi dan hanya menatap punggung pria itu berlalu.
“Dasar pria badjingan, ck. Dia tidak mengakui itu semua. Dia berbohong dan segera kabur,” geramnya, lalu segera kembali ke ruangannya.
__ADS_1