Super Sistem Detektif Kaya

Super Sistem Detektif Kaya
Eps. 139 Pergi Ke Kebun Anggur


__ADS_3

“Haah! Nyenyak sekali tidurku...” erang Detektif Carl, di pagi hari saat membuka mata.


Ia merentangkan tangannya lebar lalu melompat turun dari tempat tidur. Tubuhnya terasa fresh sekali setelah beristirahat semalaman yang menurutnya sebentar saja.


“Astaga! Aku ketinggalan banyak acara,” pekiknya lalu segera keluar dari kamar.


Ternyata di luar masih sepi hanya ada beberapa orang saja yang berkumpul di ruang perjamuan semalam. Entah di mana yang lainnya.


“Detektif, kemari!” panggil seseorang, yang melihat sosoknya sudah keluar dari kamar.


Detektif Carl yang sebenarnya ingin masuk kembali ke kamar dan tidur kembali karena masih sepi, menghentikan langkahnya.


“Tuan Creed...” lirihnya, saat menoleh dan melihat siapa yang memanggilnya.


Ada Tuan Reed dan dua pria lainnya di sana. Mereka merdeka terlibat sebuah percakapan santai. Karena terdengar kelakar tertawa dari sana.


“Bergabunglah bersama kami!” seru pria lainnya, karena Detektif Carl masih diam mematung.


Hingga pada akhirnya kedengeran takkan kaki berirama memenuhi panggilan mereka.


“Hai, Detektif. Kau orang ke-4 yang bangun,” ujar Tuan Jaws, tersenyum dengan gigi putihnya berjajar rapi.


Mereka berempat kemudian terlibat pembicaraan hingga satu jam ke depan.


“Oh, yang lain sudah pada mulai bangun,” ceplos Tuan Reed, menyasarkan pandangan ke setiap kamar.


Beberapa pria nampak keluar dari kamar. Tiga di antaranya langsung menuju ke kamar mandi yang ada di sudut ruangan.


Banyak terdapat kamar mandi di sana. Ada tujuh kamar mandi yang bisa dipakai. Sengaja Tuan Noel menyiapkan banyak kamar mandi di sana supaya para tamu undangannya tidak antri terlalu lama untuk mandi saja.

__ADS_1


“Agenda pagi ini apa, Tuan?” tanya Detektif Carl, menatap tiga pria di depannya.


“Tuan Noel bilang jam 09.00 kita akan diajak berkeliling melihat kebun anggurnya di sini,” ucap Tuan Reed.


Detektif Carl menatap jam tangan yang melingkar di tangan kirinya, itu artinya masih ada waktu satu jam lebih sebelum acara itu dimulai.


Sebaiknya aku melakukan persiapan dulu, aku tidak tahu jika semua sudah bangun, mungkin akan berebut kamar mandi, pikirnya.


“Tuan sekalian, maaf aku permisi dulu ke kamar mandi,” ungkapnya, meminta izin.


Setelah tiga pria tadi mengangguk maka Detektif Carl memutuskan untuk pergi dari sana lalu menuju ke kamar mandi.


Ternyata ketika sampai sana dia harus menunggu satu pintu kamar mandi terbuka, padahal ia termasuk datang duluan.


Ck! Decaknya, lalu bersandar ke satu dinding untuk menunggu pintu mana saja yang terbuka duluan.


Di tengah waktunya menunggu tatapannya terkunci pada sesuatu yang tergeletak di depan sebuah pintu kamar mandi, urutan ketiga.


Ia menunduk lalu mengambilnya.


Aneh sekali. Hari gini masih ada yang menggunakan sabun batang? Padahal sabun cair banyak tersedia dan lebih nyaman dipakai, batinnya.


Dari aroma sabun itu tercium bau sulfur pekat. Persis seperti bau kentut. Hanya saja biasanya sabun sulfur berwarna hijau, kuning atau coklat.


“Sabun apa ini sebenarnya?” desisnya saat menghirup aromanya, ada zat lain pada sabun itu. Entah apa itu.


Klak!


Tiba-tiba pintu di depannya terbuka dan seorang pria menyembul dari baliknya.

__ADS_1


“Terima kasih, Tuan Carl, sudah mengambilkan sabunku. Aku tak tahu apa jadinya jika aku kehilangan sabun itu.”


Pria itu dengan cepat mengambil sabun biru pekat itu dari tangan Detektif Carl, lalu masuk kembali ke kamar mandi.


Ck! Lagi-lagi Detektif Carl berdecak.


“Sudahlah itu bukan urusanku!” ingatnya, pada dirinya sendiri.


Daripada mengurusi masalah orang lain, maka lebih fokus pada dirinya sendiri.


Klak! Pintu lain terbuka, pintu kelima.


Detektif Carl segera masuk saja ke kamar mandi sebelum yang lain datang.


***


Satu jam berikutnya


Semua orang sudah berkumpul di sebuah kebun anggur seluas satu hektar. Sejauh mata memandang hanya ada anggur ranum di sana.


Tuan Noel sudah mengajak semua para tamu undangannya ke sana.


“Aduh, kenapa perutku masih sakit,” rintih Tuan Curtis, berdiri di dekat pohon anggur sembari memegang perutnya.


Rasa sakit juga panas terbakar pada perutnya semalam, ternyata belum reda juga pagi ini meskipun dia sudah minum obat mual.


“Tuan Curtis, apa kau baik-baik saja?” bukan Detektif Carl yang bertanya padanya tapi Detektif Darcy.


Wajah Tuan Curtis terlihat pucat.

__ADS_1


“Sepertinya penyakit pencernaanku kambuh,” tandasnya, tersenyum meringis.


Dari arah kejauhan tampak sepasang mata mengawasi Tuan Curtis, kembali melempar senyum seringai.


__ADS_2