Super Sistem Detektif Kaya

Super Sistem Detektif Kaya
Eps. 91 Wajah Tersangka


__ADS_3

Kedua agen polisi tadi akhirnya kembali ke gym tempat mereka bertugas sebelumnya setelah gagal mengejar pria asing yang diduga adalah pelaku pembunuhan berantai yang mereka cari.


Satu agen polisi masuk Power Gym, satu agen polisi lainnya masuk ke Stanza Gym.


Agen polisi lainnya yang sedang terjaga di sana langsung berhamburan menghampiri temannya yang masuk.


“Bagaimana dengan tikus luar di sarang?” tanya agen polisi, menggunakan kode isyarat agar tak sembarangan orang bisa mendengar ataupun mengetahuinya.


“Dia keluar dari perangkap, lolos begitu saja.” jawab seorang agen polisi, tampak lemas.


Rekannya itu menepuk bahu agen polisi tadi.


“Agen polisi juga manusia,” bisiknya untuk menyemangati temannya itu.


Kedua agen itu kembali berjaga di Power Gym. Bersljaga kembali apabila pelaku pembunuh berantai itu tiba-tiba saja datang ke sana.


“Nyatanya sampai pagi kita berjaga di sini kondisi aman.” gerutu seorang agen polisi, sambil menutup bibirnya karena menguap.


Tiga puluh menit berikutnya mereka kembali ke Kantor Polisi Setelah ada rekan mereka yang datang menggantikan tugas jaga mereka di gym itu.


Tentu saja dua agen polisi yang semalam mengejar mobil yang diduga adalah mobil milik pelaku, melaporkan temuan itu pada Sherif Sharma.


“Jadi kalian sempat mengejarnya?” tanya Sherif Sherma, dengan mata membulat penuh.


Kedua agen polisi tersebut mengangguk ragu, takut Atasannya itu akan kembali memahami mereka karena tugasnya gagal.

__ADS_1


“Ya, baiklah kalian berdua boleh off hari ini.”


Dua agen polisi tadi lega sekali atasan tak marah pada mereka.


Ternyata memang melibatkan Detektif Carl pada kasus ini sangat berguna. batin Sherif Sherma setelah mendapatkan informasi jika pria itu yang menemukan lebih dulu jika pelaku akan muncul.


Ia pun teringat pada nomor polisi yang barusan dilaporkan oleh bawahannya barusan.


“Briptu Scarlet. Coba kau cari pemilik dari mobil bernomor polisi ini.” ucap Sherif Sherma mendatangi ruangan wanita itu.


Ia memberikan nomor polisi yang harus dibaca wanita itu segera, juga meminta untuk memeriksa rekaman CCTV di lokasi kejadian semalam.


“Baik, Sherif Sherma.”


Briptu Scarlet segera menjalankan tugas itu dan bergerak cepat. Tak ada acara mengulur waktu bagi agen polisi menangani suatu kasus.


Karena biasanya Detektif Carl akan langsung bergerak sendiri pada setiap kasus yang dihadapinya, tak peduli jam berapapun itu.


Klik! Setelah beberapa waktu melakukan pencarian akhirnya muncul nomor polisi yang dicari.


“Astaga, mobil ini merupakan mobil gelap. Semua suratnya mati 10 tahun silam.” gumamnya, kecewa.


Ia pun kemudian beralih untuk memeriksa CCTV di sekitar Horizon Gym. Melihat rekaman pada perkiraan waktu pelaku muncul.


Tepat di saat ia melihat rekaman, seseorang masuk ke ruangannya.

__ADS_1


“Carl?” Briptu Scarlet menoleh ke arah pintu dan pria itu yang masuk.


Setelah mendapatkan kabar dari agen polisi yang bertugas semalam, cepat-cepat Detektif Carl datang kemari. Ia merasa gemas bagaimana bisa agen polisi itu gagal menangkap pelaku yang ada di depan mata.


“Apa kau saat ini sedang melihat tayangan CCTV semalam?” tanya Detektif Carl, sembari menahan salah satu tangan pada pintu.


“Ya, kemarilah dan bergabung denganku untuk melihatnya.”


Detektif Carl berapa kuasa dari Sherif dan memperbolehkannya masuk ke ruangan Briptu Scarlet. Tanpa izin dari pria itu ia tak berani masuk.


Detektif Carl lalu duduk di seberang dan menatap layar monitor.


Pada pukul 22.00 mobil hitam yang dikejar oleh agen polisi ternyata ada di barisan paling ujung. Dengan santai mobil itu melaju dengan kecepatan sedang menuju dan berhenti di sebuah minimarket.


“Apa yang dia lakukan disana?”


Tampak pria berbaju serba putih masuk ke minimarket kemudian keluar lagi dengan membawa secangkir kopi juga rokok.


Pria itu duduk menyendiri di kursi santai yang di sediakan oleh minimarket. Ia tampak menundukkan kepala sembari menikmati kopi yang terlihat berasap itu.


Ia pun melepas kacamata hitamnya saat itu, menaruhnya ke meja.


Tepat saat pria berbaju putih itu menegakkan kepalanya, serombongan orang lewat.


“Sial! Wajahnya jadi tidak jelas begitu, terhalang oleh mereka.” umpat Detektif Carl, kesal.

__ADS_1


Lagi-lagi tak bisa melihat wajah asli pelaku pembunuhan berantai tersebut.


__ADS_2