Super Sistem Detektif Kaya

Super Sistem Detektif Kaya
Eps. 140 Tak Enak Badan


__ADS_3

“Mungkin tak masalah jika aku minum sedikit saja,” cicit Detektif Carl, merasa haus.


Di meja dekatnya berdiri sekarang, terhidang aneka macam wine. Itu mengundangnya untuk mencicipinya sedikit saja. Tenggorokannya terasa kering.


Di depan sana nampak Tuan Noel memberikan pidato dan sambutan pada para tamu undangannya.


Suasana di kebun itu meriah. Terdengar hiruk pikuk serta tepuk tangan meriah dari para hadirin semua yang hadir.


Gleg! Pada akhirnya Detektif Carl minum seteguk wine, untuk membasahi tenggorokannya yang kering meskipun owner belum mempersilahkannya.


Ia lalu menyapukan pandangan ke sekitar, alih-alih mendengarkan pidato sambutan dari Tuan Noel.


Pantas saja Tuan Noel bisa sekaya ini. Satu pabriknya saja sebesar itu, apalagi dia punya sepuluh perusahaan wine, decaknya dalam hati tak henti-hentinya kagum.


Di sebelah timur kebun anggur tempatnya berada saat ini memang terdapat sebuah pabrik, tepatnya tempat pengolahan anggur menjadi wine.


Dalam sehari bisa menghasilkan 100 botol wine berkualitas tinggi. Bisa dihitung sendiri berapa wine yang dihasilkannya dalam sebulan belum lagi ditambah 9 tempat lainnya. Tak bisa dihitung dengan jari saja, hasilnya.


Fantastis sekali!


“Baiklah, untuk semua yang hadir boleh mencicipi semua jenis wine di sini. Plus kalian semua bisa membawa satu botol anggur yang sudah aku siapkan di sana,” papar Tuan Noel, mengakhiri sambutannya.


Terdengar suara tepuk tangan yang membahana dari para hadirin semua.


Setelah Tuan Noel selesai memberikan sambutan, para tamu undangan yang hadir segera menikmati wine yang tersedia di meja.


“Rasa wine yang ini lebih nikmat daripada yang ada di villa kemarin,” celetuk seorang.


“Ya, benar. Aku akan mencicipi yang lainnya.”

__ADS_1


“Rasanya benar-benar nikmat, seandainya saja boleh membawa pulang 3 atau 5 botol,”


“Jika tak boleh membawa banyak botol maka anda bisa membelinya di sini, Tuan Andrew. Mungkin saja harganya malah lebih murah,” ungkap Tuan Reed, yang saat itu ada di dekatnya.


“Ya, itu benar.” jawab yang lainnya.


Sedangkan Detektif Carl yang saat itu juga berada di sana hanya terkekeh kecil saja mendengarkan percakapan mereka.


Di sudut meja yang lain, beberapa orang berkumpul.


“Tuan Curtis, kenapa kau tak minum?” tanya pria di sampingnya.


Tuan Curtis saat itu tampak diam. Meskipun dia sering tersenyum menanggapi tamu undangan yang ada di sampingnya, tapi dia tidak menyentuh wine sedikitpun.


“Sayang jika melewatkan wine ini, ayolah Tuan,” ucap Tuan Dawn, pelan tapi sedikit memaksa.


Ia bahkan menuangkan wine ke gelas lalu memberikannya sendiri pada Tuan Curtis.


“Ayolah Tuan, ini tidak setiap hari,” bujuk Tuan Sandiago.


Pada akhirnya Tuan Curtis pun terpaksa meminum wine tersebut meskipun hanya sedikit, sebagai syarat saja.


“Seandainya setiap hari seperti ini,” gumam Tuan Dawn tersenyum lebar dan mengisi kembali gelas kosongnya dengan wine.


Dua jam kemudian terlihat beberapa botol yang ada di meja sudah kosong. Selain itu matahari juga semakin meninggi.


“Tuan semuanya, setelah ini aku akan mengajak Anda pergi ke tempat pengolahan wine,” papar Tuan Noel, kembali memberikan pengarahan sedikit.


Selesai memberikan pengarahan para tamu undangan sekalian digiring ke tempat pengolahan wine, tempat yang tadi dilihat oleh Detektif Carl.

__ADS_1


Para kamu undangan berjalan berkeringat menuju ke tempat itu yang berada di sebelah timur kebun anggur ini.


“Tuan Curtis, Anda mau ke mana?” tanya Detektif Carl, saat tak sengaja berpapasan dengan pria itu.


“Aku mau kembali ke kamar saja. Badanku rasanya tidak enak,” jawabnya, lalu segera menuju ke kamar di saat yang lainnya menuju ke pabrik.


Detektif Carl hanya mengangguk saja menanggapinya karena memang wajah Tuan Curtis terlihat pucat sekali.


Di tempat pengolahan wine, semua tamu undangan masuk ke pabrik dan melihat proses penyaringan sampai pengemasan produk wine.


“Jenuh juga lama-lama di sini,” gerutu Detektif Carl. “Mungkin jika jalan-jalan sebentar keluar tak masalah,” imbuhnya.


Pria itu kemudian berjalan menyelinap dari yang lainnya keluar dari pabrik. Dia menuju ke belakang pabrik, dimana di sana ada kebun anggur.


Suara siapa itu? batinnya, mendengar suara percakapan seseorang di depan sana.


Karena penasaran, Detektif Carl menghentikan langkahnya di kejauhan, dan berhenti di balik pohon besar di tepi jalan, untuk menyamarkan keberadaannya.


“Kenapa kau lambat sekali dalam bertindak?” tanya seorang pria, kasar.


“Semua sudah terencana seperti sebelumnya, tenang saja.”


Siapa mereka sebenarnya? batin Detektif Carl lagi, yang mendengarkan percakapan dua pria tadi dengan jelas.


Ia melanjutkan langkahnya pulang dan menuju ke tempat itu untuk melihat siapa tadi yang bicara.


“Tak ada orang. Kemana mereka?” lirihnya, mendapati hanya ada dirinya seorang di sana.


Di tengah keramaian, tak ada yang tahu saat itu ada seorang pria yang juga keluar dari pabrik pemrosesan wine menuju ke villa.

__ADS_1


“Bersenang-senang lah kalian semua, selagi bisa tersenyum.”


Pria tadi mengulas seringai senyum, lalu membenamkan topinya dan kembali berjalan menuju ke villa.


__ADS_2