Super Sistem Detektif Kaya

Super Sistem Detektif Kaya
Eps. 212 Tak Berdaya


__ADS_3

“Ck! Pria itu datang di waktu yang tidak tepat,” umpat Detektif Carl. Ia kemudian membuang napas kasar. Tak menyangka rekannya itu akan datang secepat ini. Waktu bermainnya jadi habis, padahal ia belum puas bermain.


“Harusnya kau senang aku datang. Aku telah menyelamatkan dirimu, jika tidak mungkin kau sudah membunuhnya.”


Sherif Tasman menghampiri Detektif Carl. Ia melihat Octo yang tak berdaya karena terkena banyak luka tembakan yang bersarang di tubuh.


“Bukan aku yang menembaki dia sampai jadi begitu. Tanyakan pada mereka.” Detektif Carl menunjuk enam orang eks napi hanya dengan sorot matanya.


Tatapan mata Sherif Tasman kemudian beralih pada enam orang eks napi yang masih berdiri membeku di tempat.


Mereka nampak meremang hanya dengan melihat Sherif Tasman saja. Bagaimana mereka tidak meremang jika sebelumnya mereka pernah babak belur di tangan lembut pria super keji itu.


Dari penampilan luar, Sherif Tasman nampak bersahaja, tutur katanya lembut tak seperti agen polisi lainnya. Tapi jangan tertipu dengan penampilannya. Di saat pria itu melakukan interogasi pada tersangka yang sulit, maka akan terlihat kuku tangan yang tercabut di sana atau rambut tersangka yang teronggok, dan masih banyak hal mengerikan lainnya kalau diceritakan.


“Apa kalian mau ikut kembali bersamaku?” tanya Sherif Tasman sekaligus menawarkan pada mereka.


“T-tentu saja tidak, Sherif Tasman.” Para napi itu kemudian beralih menatap Detektif Carl yang masih nampak tenang dan membuat mereka penasaran akan identitas pria itu. Siapa dia sebenarnya?

__ADS_1


Sherif Tasman lalu menghampiri Detektif Carl kembali.


“Apa setelah ini kau akan langsung pulang, Detektif Carl?”


“Aku belum tahu. Jika ada tiket pesawat dalam tiga atau empat jam ke depan, mungkin aku akan kembali.”


Jadi dia Detektif Carl. Aku pernah mendengar nama itu. Jika tidak salah dia berasal dari Swiss, batin salah satu napi setelah mendengar percakapan dua orang itu.


“Apa yang kalian lihat?” sarkas Sherif Tasman. Ia tak suka ditatap seperti itu oleh para eks napi.


“T-tidak Sherif.” Para napi segera mengalihkan pandangan mereka dari Sherif Tasman, sebelum pria itu memberi mereka pelajaran.


“Sherif Tasman, manakah dari mereka semua yang harus dibawa?” Seorang agen polisi mendekat.


Ia menatap lima napi yang membawa senapan laras panjang. “Apakah mereka?”


“Bukan kami.” jawab mereka serempak. sungguh mereka tak ingin kembali ke balik jeruji besi untuk saat ini.

__ADS_1


“Lalu yang mana? Apakah itu yang di sana?” Agen polisi lalu menunjuk Octo yang terletak di tanah.


“Bawa dia segera pergi dari sini,” titah Sherif Tasman tanpa membalikan badan.


“Siap, Sherif!”


Setelah memberikan hormat pada atasannya, agen polisi tadi segera bergerak dengan cepat. Ia menuju ke Octo bersama rekan lainnya yang datang kemudian.


“Lepaskan aku! Aku bisa jalan sendiri!” hardik Octo saat dua agen polisi menarik tubuhnya serta membantunya berjalan.


Dua polisi itu kemudian bersitatap. Jujur, mereka jengkel pada Octo yang merupakan tersangka utama kasus pembunuhan, tapi sikapnya belagak. Sudah lemah begitu kondisinya berlagak sok kuat.


“Baik, kau sendiri yang minta. jika nanti kau butuh bantuan, jangan lagi hubungi kami.” Setelah memberikan kode satu sama lain dua agen polisi itu melepaskan tangan mereka yang melingkar dari lengan kekar Octo.


Bugh! Benar saja, Octo yang sudah jatuh ke tanah mencoba untuk berdiri.


Jangankan berdiri, untuk duduk saja dia kesulitan.

__ADS_1


“Tolong aku!” teriak Octo, namun kali ini tak ada siapapun yang datang untuk menolongnya.


__ADS_2