
Di dalam area hutan, mereka kemudian berbagi tugas untuk menyiapkan area perburuan. Tiga orang memasang beberapa perangkap untuk binatang buruan mereka, termasuk Detektif Carl yang tergabung dengan dua orang lainnya untuk memasang perangkap.
Aku akan memasang perangkap yang tak hanya bisa menangkap hewan buruan saja tapi juga bisa menangkapmu, Octo. seperti yang telah kau lakukan sebelumnya, batin Detektif Carl mengulas senyum seringai dalam hati.
“Kenapa kau membuat galian yang dalam? Kau mau berburu manusia atau binatang?” tanya seorang diantaranya mereka.
“Perangkap ini aku buat untuk menangkapmu,” balas Detektif Carl.
“Bercandamu tidak lucu. Kau kira kau bicara dengan anak 5 tahun? Kita ini eks-napi tak pantas bercanda seperti itu.”
“Siapa bilang eks napi tidak boleh bercanda? Justru selama ini kita terlalu tegang jadi ada salahnya sedikit bercanda seperti ini.”
Alex yang ikut bergabung bersama Detektif Carl saat itu hanya diam saja. Dalam hati dia merinding mendengar ucapan pria itu meskipun satu teman lainnya malah tertawa lebar menanggapi Detektif Carl.
Pria ini sungguhan rupanya. Lubang dalam ini pasti untuk mau berangkat manusia bukan binatang,” decak Alex dalam hati.
Siapa yang menjadi target Detektif Carl dia masih bertanya-tanya dan menebaknya sampai sekarang.
Apakah dia akan menangkap Paul di sini, batin Alex lagi beralih menatap Paul yang ikut menggali di sampingnya.
Di lain tempat terlihat Octo dan dan tiga orang lainnya sedang menata senapan laras panjang yang akan mereka pakai untuk berburu kali ini.
Tentu saja mereka mencobanya dulu untuk mengetahui apakah senjata yang akan mereka pakai berfungsi dengan baik atau tidak.
__ADS_1
Ada tujuh senjata laras panjang di sana yang disandarkan ke sebuah pohon, dengan melingkar.
Octo mengambil satu senapan laras panjang. Ia memilih senapan yang akan dipakainya untuk berburu lebih dulu.
“Aku ambil yang ini.”
Setelahnya terdengar suara peluru melesat di udara.
“Kau mencoba untuk semuanya atau memilih untuk dirimu sendiri?” ujar seorang napi.
Octo tak menggubris pertanyaan itu. Malahan ia kembali menembakkan peluru ke udara sekali lagi.
“Sepertinya ini memang pas dan cocok buatku.”
Tapi bagi mereka hal itu sudah biasa. Meski Octo bukanlah pemimpin dari mereka tapi pria itu sering mendominasi dalam segala hal. Namun mereka tak mempermasalahkan itu mengingat latar belakangnya diantara lainnya hanya Octo lah yang merupakan keturunan dari pengusaha sukses dan kaya yang terbiasa hidup di layani seperti boss.
Setelah mencoba senapan laras panjang yang dipilihnya, Octo kemudian duduk.
Tiga orang lainnya bergantian mengambil senjata laras panjang yang ada di sana. Mereka tak memilih salah satu dari senapan itu tapi mencoba semuanya. Bagi mereka semua senapan itu sama saja tak ada bedanya.
Dor! Dor! terdengar suara tembakan beruntun di udara saat tiga orang itu menembakkan laras panjang mereka secara bersamaan.
Bahkan di saat bersamaan, tiga ekor burung jatuh di depan mereka tepat setelah suara tembakan itu hilang.
__ADS_1
“Burung yang mati ini biar jadi umpan atau makanan beruang saja di sini,” ujar salah satu napi menatap seekor burung tepat di depannya.
“Ya, biarkan saja di situ. Biar nanti mereka ambil sendiri bangkai ini.” Napi lain menimpali.
“Senjata ini berfungsi dengan baik.” Seorang napi kemudian menaruh senjata itu kembali ke tempatnya. Dia kemudian mengambil senjata lainnya dan mencoba bersama dua temannya.
“Semua senjata ini kondisinya bagus dan siap digunakan,” ujar Seorang nabi mengembalikan semua senjata yang sudah dicoba ke tempatnya.
“Kapan kita mulai berburu?” Tanya Octo penerapan mereka.
“Tim memasang perangkat belum memberikan kode. Sepertinya belum selesai.”
“Jika begitu aku akan melakukan pemanasan duluan sambil menunggu mereka.” Octo mengulas senyum seringai.
Ia berdiri dan meninggalkan tiga rekannya masuk ke hutan lebih dalam.
“Apa yang dilakukan Octo?” pekik seorang napi. Namun Octo sudah hilang dari pandangan mereka.
“Selalu saja dia begitu. Anak orang kaya seperti dia apapun Maunya harus selalu diutamakan dan tak pernah peduli atau memperdulikan yang lainnya,” timpal napi lainnya.
“Harusnya dia bukan terlahir sebagai kriminal, tapi sebagai tuan muda berangan bersih.”
“Atau bisa juga dia harusnya terlahir bukan sebagai orang kaya tapi lahir dari keluarga kriminal seperti kita.” Tiga orang yang ada di sana kemudian terkekeh bersama.
__ADS_1