Super Sistem Detektif Kaya

Super Sistem Detektif Kaya
Eps. 136 Tiba Di Pulau Brisago


__ADS_3

Tuan Noel meragukan kemampuan detektif Carl yang sebelumnya bilang bisa mengemudikan kapal. Namun nyatanya keadaan semakin memburuk, kapal miring sekali.


Bahkan di dalam pun terjadi hal yang sama.


“Kenapa kapal semakin miring begini?” tanya seseorang, sampai bersandar ke dinding.


“Mungkin nahkoda sedang menghindari karang atau lainnya,” timpal yang lain.


Dugh! Bahkan kini terdengar suara hantaman lagi.


Namun untungnya para tamu undangan yang ada di dalam tak ada yang bingung sama sekali dan tetap tenang seperti sebelumnya.


“Detektif Carl, seriuslah!” hentak, Tuan Noel. Saat kapal kini kembali miring tajam ke kanan.


“Apakah sekarang aku terlihat sedang main-main, Tuan Noel?”


Detektif Carl memang melewati karang berbatu. Dan dia menghindarinya dengan menikung tajam.


“Carl, mengemudikan kapal itu mudah. Kau harus tahu arah-arahnya.”


“Bagaimana melihat arahnya, Kakek?”


“Selalu perhatikan kompas di depanmu. Cari setitik awan putih di depan. Sekalipun cuaca buruk, awan putih tetaplah ada. Cari dan ikuti. Awan putih akan memandumu keluar dari badai terparah sekalipun.”


“Terakhir, ingatlah kau bukan sedang mengemudikan sebuah kapal, tapi sebuah kendaraan atau apa saja yang kau senangi. Sehingga membuatmu nyaman dan stabil dalam mengemudikan kapal.”


Detektif Carl jadi terngiang pada semua ucapan yang pernah diucapkan oleh kakeknya dulu padanya, pada saat dirinya masih berusia 9 tahun. Dan selalu mengikuti kemanapun kakeknya itu pergi di akhir pekan.


“Rolls-Royce putihku!” pekik Detektif Carl pada akhirnya.


Ia mensugesti dirinya sendiri saat ini sedang mengendarai mobil putih kesayangannya itu, dengan tetap melihat kompas di depannya.

__ADS_1


Shat! Dengan santai Detektif Carl, membanting kemudi ke kiri dan membuat kapal miring ke kiri.


“Detektif Carl, tolong jangan main-main,” ucap Tuan Noel, sampai gemetar.


Detektif Carl sedang konsentrasi, dia tak mendengar apa yang diucapkan oleh Tuan Noel padanya.


“Di mana awan putih?” cicitnya, beralih menatap langit gelap di atasnya.


Mudah saja mencari setitik awan putih di antara banyaknya awan gelap yang bergumpal di langit. Awan putih itu ada di titik 38 derajat Lintang Utara. Langsung saja ia mengarahkan kapal ke titik itu.


Fyuh! Tuan Noel bisa bernafas lega setelah beberapa saat kemudian, karena kini kapal kembali stabil. Tidak oleng ke kiri atau ke kanan dengan tajam lagi seperti yang sudah-sudah.


“Huft! Detektif Carl, membuang nafas lega, kini badai reda. Meskipun hujan masih mengguyur. Setidaknya petir sudah tak menyambar lagi.


“Tuan, di mana letak Pulau Brisago?” tanyanya, pada nahkoda yang duduk di sampingnya.


Detektif Carl sendiri baru pertama kalinya ini mengadakan perjalanan ke pulau terpencil itu, sebuah pulau yang terkenal karena kemisteriusannya.


Tak ada yang tahu secara pasti apa saja pesona pulau terpencil dengan harga fantastis itu.


“Ya.” Detektif Carl, menuju ke arah tersebut sembari mengambil teropongnya sendiri, teropong sistem untuk melihat ada apa saja di depan sana.


Semuanya terlihat dengan jelas, karang bebatuan dan lain sebagainya.


“Apakah tempat itu dekat mercusuar putih di arah 2 km di depan?” tanyanya pada nahkoda, lalu menaruh teropongnya.


“10 derajat Bujur Barat dari mercusuar putih, Tuan,” jawab nahkoda membenarkan, dengan menarik alisnya ke atas.


Bahkan nahkoda itu merasa aneh saja, bagaimana bisa pria biasa duduk di sampingnya, bahkan bukan seorang nahkoda bisa mengetahui tempat itu dengan tepat.


Mungkinkah dia punya pengalaman sebagai nahkoda kapal sebelumnya? Namun tentu saja, ia tak berani bertanya karena saat itu Detektif Carl terlihat sangat serius sekali. Dan sepertinya tak bisa diganggu.

__ADS_1


“Sepertinya si saat hujan hampir rendah aku harus mempercepat laju kapal ini. Kita tidak tahu bisa saja setelah ini hujan bertambah lebat lagi,” ceplos Detektif Carl, menyembuhkan setelah melihat hujan mampir reda.


Tapi bisa saja dan banyak kemungkinan hujan akan kembali mengguyur deras setelah badai reda.


“Hey, apa yang kau lakukan, Detektif Carl?!” hentak Tuan Noel lagi, karena kapal melaju begitu cepat.


Bahkan nahkoda aslinya saja tak pernah mengemudikan dengan kecepatan setinggi itu, hingga bendera putih di dek kapal tak hanya berkibar saat ini tapi sampai terbang ke udara karenanya.


“Sudahlah Tuan Noel, jangan cecar caraku mengemudikan ini yang penting sebentar lagi kita sampai ke tujuan,” bantahnya.


Karena menurutnya semakin cepat tiba semakin baik.


Tuan Noel pun tak bicara kembali, daripada dia jatuh, dan memilih untuk berpegangan erat pada dua tiang, karena kegilaan Detektif Carl yang mengemudi dengan ugal-ugalan.


20 menit kemudian kapal berlabuh, di tepi sebuah pulau.


Semua penumpang berdesakan untuk turun.


“Hiss! Kepalaku pusing. Apa aku mabuk laut ya?” ucap seorang pria setelah turun.


“Hoeek!” Bahkan penumpang lain ada yang langsung muntah di tempat.


“Masa iya menaiki kapal mewah begini serasa menaiki boat saja?!” sarkas pria lain lebih kasar, sembari memegang pantatnya yang terbentur berulang kali.


Detektif Carl turun terakhir bersama Tuan Noel. Tepat di saat Detektif Darcy baru turun.


“Tuan Noel, kurasa Anda perlu menyewa nahkoda baru nanti saat kita semua kembali, kasar,” cicitnya, tak segan mengungkapkan perasaannya dan juga mewakili semua penumpang kapal.


Tuan Noel melirik Detektif Carl.


“Maaf atas ketidaknyamanannya tadi, Tuan Darcy. Sebenarnya ada masalah tadi. Bla-bla....,” Tuan Noel lalu menceritakan apa adanya, jika tanpa bantuan Detektif Carl, mungkin saja kapal akan karam.

__ADS_1


Sedangkan Detektif Carl, yang malas bertemu Detektif Darcy, segera pergi dari sana tak peduli pada apa yang mereka ucapkan.


“Apa?! Carl menyelamatkan kami semua?!” pekik Detektif Darcy tak percaya, syok sekaligus kesal saja. Tuan Noel malah memuji rivalnya itu.


__ADS_2