Super Sistem Detektif Kaya

Super Sistem Detektif Kaya
Eps. 235 Gadis Penjual Bunga Krokus


__ADS_3

Kasihan sekali gadis kecil ini. Masih kecil, tapi dia sudah harus menanggung beban hidup yang berat.


Pria bersetelan orange terang itu melihat alas kaki yang dikenakan oleh gadis kecil penjual bunga krokus itu koyak pada ujungnya. Hatinya berdesir tatkala melihat itu.


“Apa Kakak mau membeli satu bunga krokusku?” ucap gadis kecil itu, kembali menawarkan dagangannya.


“Sebelum aku membelinya, bolehkah aku bertanya padamu?”


Gadis kecil tadi mengangguk dengan sorot matanya yang lembut, tanda setuju.


“Kenapa kau berjualan bunga malam-malam begini?”


“Aku berjualan bunga untuk membantu biaya pengobatan nenek yang sakit.”


Pria berbaju orange terang itu kembali merasa iba mendengar jawaban dari gadis kecil tadi. Seorang gadis kecil sepertinya yang seharusnya banyak meluangkan waktu untuk bermain malah mencari nafkah untuk neneknya, sakit pula.


“Kemana orang tuamu? Kenapa kau yang mencarikan uang untuk pengobatan nenekmu?”


“Aku tak punya orang tua, Kak. Mereka meninggal setahun yang lalu, sakit keras,” tutur gadis kecil tadi.


Pria berbaju setelan orange terang itu nampak menghela napas berat, juga mengusap wajahnya dengan kasar.

__ADS_1


Berat sekali hidup gadis kecil ini. Masih kecil seperti tunas yang baru tumbuh tapi banyak hama yang tumbuh di sekelilingnya. Mungkin gadis ini tak bisa berkembang suatu saat nanti.


“Berapa harga satu bunga krokusmu?”


“Satu bunga krokus dua puluh sen saja, Kak.” Gadis kecil itu menjelaskan sembari mengambil satu tangkai bunga krokus dan memberikan pada pria berstelan orange terang tadi.


Lagi pria itu merasa seperti ditikam ribuan jarum tak kasat mata hatinya. Uang dua puluh sen bisa buat apa? Berapa banyak bunga yang harus dia jual untuk mengobati neneknya?


“Semua. Aku akan membeli semua bunga krokusmu.”


“Oh, Kakak baik sekali. Terima kasih.” Gadis kecil itu menyerahkan 40 tangkai bunga krokus yang dibawanya.


“Ini, terimalah.” Pria bersetelan orange terang tadi menyerahkan empat lembar uang senilai total seratus dolar.


Gadis kecil tadi mengembalikan uang pria tadi.


“Tdak. Anggap saja itu bonus. Tolong, terimalah.” Pria bersetelan orange terang itu menolak dan menyerahkan kembali uangnya pada gadis tadi.


Setelah lama diam merenung, akhirnya gadis kecil tadi menerimanya setelah pria berbaju orange terang tadi mendesaknya kembali.


“Terima kasih, Kak. Hari ini aku bisa pulang lebih awal.”

__ADS_1


“Kuharap kau bisa segera memberikan obat pada nenekmu yang sakit.” Gadis kecil tadi, mengangguk meresponnya dan tak lupa dia mengulas senyum lebar di ujung bibirnya.


Gadis itu kemudian berlalu meninggalkan pria bersetelan orange terang tadi. Namun, sepertinya hal itu sangat membekas di hati pria tersebut.


Entah kenapa pria itu sekarang mengikuti gadis kecil tadi. Dia mengikuti dari kejauhan. Dia terus berjalan hingga masuk ke sebuah jalan yang gelap, dengan penerangan seadanya.


Kawasan itu juga merupakan kawasan kumuh yang berada di sudut kota.


“Hey!” Pria itu berjalan semakin dekat dan memanggil gadis kecil tadi.


“Kakak kenapa mengikutiku?”


Gadis kecil itu berbalik dan malah menghampiri pria yang memborong semua bunga krokusnya.


“Aku ingin membantumu. Apa kau mau menerima bantuanku?”


“Bantuan seperti apa yang Kakak maksud?” Pria bersetelan orange terang tadi kemudian berjongkok dan membisikkan sesuatu pada gadis kecil tadi.


“Ya, aku mau.”


Setelahnya, gadis kecil tadi pergi bersama pria bersetelan orange terang.

__ADS_1


Keesokan paginya, Nenek di rumah gadis kecil tadi keluar rumah.


“Choco! Dimana kamu? Kenapa belum pulang hingga pagi?” Nenek tadi menyusuri jalan dan tak sengaja melihat keranjang bunga teronggok di tanah.


__ADS_2