
Detektif Carl mengusap wajah dengan kasar. Ternyata memang dia salah tangkap. Meskipun pria tadi benar-benar memiliki wajah identik dengan pelaku.
Polisi akhirnya melepaskan pria bermata sipit tadi 30 menit kemudian setelah memeriksa semuanya dan menyatakan pria tadi benar-benar tak bersalah.
“Sekarang bagaimna kita menangkap pelakunya jika seperti ini? Dia bisa saja menyamar menjadi siapapun.” tutur agen polisi, menatap Briptu Scarlet dan Detektif Carl secara bergantian.
“Aku akan mencari petunjuk lainnya.” Detektif Carl langsung keluar dari ruang interogasi.
Dia lalu duduk di ruang biasanya bersama agen polisi lainnya juga Sherif Sherma, semeja.
Terlihat agen polisi lain bekerja keras mencari informasi lanjutan untuk mengungkap kasus tersebut. Begitu pula dengan Detektif Carl yang masih duduk dengan membaca setumpuk data di meja.
Wajah mereka terlihat tertekuk juga kusut. Dengan penangkapan anggota sindikat tak membuat masalah ini clear, tapi malah membuatnya semakin rumit saja. Bahkan masalah itu semakin melebar ke mana-mana.
Jika benar pelakunya masih bebas berada di luar sana, maka pasti dia akan beraksi entah hari ini atau dalam minggu ini. batin Detektif Carl.
Hingga siang beranjak kepalanya terasa berdenyut, memadukan kepingan puzzle yang tak genap jumlahnya.
“Aku mau pergi dulu sebentar.” pamitnya pada semua agen polisi yang ada di sana, lalu mengambil tuxedo yang ia lepas karena gerah.
Saat pria itu sudah keluar dari pintu seseorang menahannya.
“Carl, tunggu. Aku ikut denganmu.” Briptu Scarlet menarik pintu dan menyusulnya.
“Aku keluar untuk mengisi perutku yang kosong.” ujarnya.
Berpikir terlalu lama membuat tenaganya habis terkuras. Dan perlu bahan bakar lagi untuk berpikir.
__ADS_1
“Aku juga lapar di jam makan ini.”
Waktu memang menunjukkan pukul 12.00 waktu setempat. Perut Briptu Scarlet juga terasa melilit.
“Cepatlah.” ucap Detektif Carl bergegas naik ke mobil.
Briptu Scarlet segera masuk ke model dan duduk manis di sana. Mobil maju setelahnya menuju ke sebuah restoran.
Saat itu Briptu Scarlet keluar masih mengenakan baju sipil, tidak mengenakan seragam dinasnya. Memang sengaja tak ganti, untuk menyamarkan identitasnya.
“Kau mau pesan apa?” ucap Detektif Carl, setelah berada di sebuah restoran.
“Apa saja.”
Briptu Scarlet kemudian mencari tempat duduk, sedangkan Detektif Carl langsung memesan makanan.
“Dua pizza oregano.”
Tangan kiri pria itu... batinnya Melihat bagian telapak tangan kiri pria tersebut terbalut perban.
Apakah dia pelaku yang sebenarnya? Seorang chef? batinnya lagi, tak mempercayai itu.
Detektif Carl tak melepaskan pandangannya. Ia bahkan menelusuri bagian tangan chef tersebut untuk mencari gelang bersimbol ikan menelan bom.
“Tak ada.” pekiknya.
Seorang chef memang tak diizinkan memakai perhiasan apapun itu ditubuhnya, sesuai kode etik chef. kemungkinan besar pria itu sengaja melepas atribut tersebut.
__ADS_1
“Tato itu pasti ada jika memang dia pelakunya,” cicitnya.
Detektif Carl beralih menatap lengan kanan chef tadi. Namun sayang sekali lengannya panjang dan membuat tatonya tertutup.
“Kenapa hanya pesan saja, dia lama sekali?” gerutu Briptu Scarlet, menatap ke depan.
Sudah sepuluh menit kekasihnya itu pesan makanan tapi belum kembali juga. Padahal kalau pesan saja cukup satu atau dua menit saja.
Briptu Scarlet lalu membuang pandangan untuk melepas rasa penat yang menunggu lama. Namun tatapannya kemudian terkunci pada seorang pengunjung restoran di sana.
Pria itu... batinnya terkejut sekali melihat seorang pria berkemeja putih dengan gelang bersimbol ikan yang menyilaukan saat pria itu menyisir rambutnya yang basah.
Jika telapak tangan kiri pria itu terluka berarti memang dia lah pelakunya.
Briptu Scarlet lalu melihat telapak kiri pria tersebut dari kejauhan. Ada bekas luka basah di sana. Sontak saja ia sampai mencuri-curi mengambil foto pria tersebut dengan kamera tersembunyi miliknya.
“Aku akan tunjukkan ini pada Carl dan yang lainnya nanti.” gumamnya, setelah berhasil menangkap foto pria tadi.
Tiga detik setelahnya Detektif Carl kembali ke tempat duduk Briptu Scarlet berada.
“Scarlet, aku menemukan sesuatu di sini. Mungkin saja pelaku itu ada di sini,” bisiknya lirih. Sekaligus menjelaskan apa yang dilihatnya barusan.
Briptu Scarlet terlihat syok mendengarnya. Ia lalu menunjukkan foto yang berhasil ditangkapnya barusan.
“Bagaimana bisa ada dua tersangka?” pekik Detektif Carl lirih, setelah melihat foto tersebut.
***
__ADS_1
Ini karya baruku kak, mampir juga ya. Kisah preman tobat.