Super Sistem Detektif Kaya

Super Sistem Detektif Kaya
Eps. 109 Makan Bersama Ikan Haring


__ADS_3

Pria tersangka pembunuh berantai hanya diam saja tak meresponnya.


Ia berusaha kabur dengan lari, namun Detektif Carl tak mengizinkannya. Pria itu juga berlari sembari menantangnya sekuat tenaga agar buruan agen polisi itu ikut dan tunduk padanya.


Dengan susah payah akhirnya ia tiba di sebuah tempat makan Banyak pasang mata yang menatapnya saatnya duduk di sana.


“Lihat dua pria itu! Apa mereka pasangan gay gila? Memperlakukan pasangan layaknya memperlakukan seorang tahanan saja.”


“Entahlah! Orang sekarang semakin jelas saja dalam mengekspresikan cinta yang terlalu posesif. Tapi haruskah seperti itu?”


“Mungkin saja, dia itu memang benar pelaku kejahatan.”


Tak ada yang mempercayai perkataan terakhir pengunjung tempat makan. Mereka kembali pada urusan mereka masing-masing.


“Dua spaghetti pedas,” pesan Detektif Carl pada pelayan di sana.


Satu menu yang dia pesan untuk pria tersangka pelaku pembunuhan berantai.


“Makanlah, selagi kau bisa makan enak seperti ini. Tak biasanya aku berbaik hati.”


Detektif Carl lalu menyerahkan satu porsi spaghetti pada pria tersebut setelah pramusaji datang membawakan pesanan mereka.


Tanpa mengucapkan sepatah kata pun pria tersangka pembunuhan berantai menolak pemberian tersebut.


Mungkin saja dia menaruh racun dalam makan ini, siapa yang tahu? Batinnya curiga segera menggeser piring tersebut menjauh darinya.

__ADS_1


“Makanan ini bersih tanpa obat di dalamnya. Lihat ini.” Detektif Carl mengira pria tadi berpikir dia meracuninya.


Ia langsung melahap spaghetti tersebut dengan cepat.


“Lihat ini, aku mau makannya dan tak kenapa-napa, bukan ?”


Namun pria tersangka tadi hanya diam saja meskipun aroma spaghetti begitu menggoda.


Di tengah makan, Detektif Carl mengeluarkan ponselnya. Ia menekan sebuah nomor tanpa menatap keypad ponsel, seperti sudah hafal di luar kepala.


Halo, kucing liar. Kemarilah ikut bersamaku makan di Abby Fast Food. Aku menangkap ikan haring untukmu, ucapnya setelah telepon tersambung.


“Apa ?!”


Hanya mengabarkan itu saja dan periode segera memutus sambungan telepon, lalu memasukkan kembali pada pipih ke saku bajunya.


Ia memperhatikan lagi pria yang duduk di sampingnya. Apa mungkin dia agen polisi? Tapi dari seragamnya, dia hanya seperti pria biasa saja. Dari potongan rambut dan penampilannya juga tidak mirip dengan agen polisi.


Lalu siapa dia, dia bukan seorang detektif bukan? batinnya lagi.


Saat ini Detektif Carl memang sedang memakai topeng latex. Iseng saja sebenarnya, tak penyangga malah bertemu dengan pelaku yang sebenarnya.


Tac-tac! Tak lama setelahnya terdengar suara hentakan heels yang cukup kencang masuk ke tempat makan tersebut.


Dia pasti datang, batin Detektif Carl tak menoleh ke belakang karena sudah tahu pasti siapa yang datang.

__ADS_1


“Agen polisi wanita?” pekik pria tersangka pembunuhan, menatap Briptu Scarlet.


Dia.... Dia agen polisi sempat kulukai beberapa waktu, pekiknya dalam hati.


Ingin saja dia lari dan kabur dari sana. Tapi begitu dia terdiri dari tempat duduknya, Detektif Carl langsung menarik tangannya supaya tetap duduk.


“Mau ke mana kau?” Bahkan Briptu Scarlet menekan bahu pria itu, dan meremasnya. “Akh!” Sampai pria itu mengaduh kesakitan.


“Carl, kau memang menangkap ikan haring untukku. Good job, honey.” Ia benar-benar tak menyangka cuckoo-nya itu berhasil menangkap pelaku pembunuhan, di saat yang lainnya masih bingung mencarinya.


Detektif Carl hanya tersenyum saja merespon Briptu Scarlet. Ia kembali duduk dengan tenang dan memberikan kesempatan padanya untuk memberi pelajaran pada pria itu.


Jadi, dia memang detektif. Kenapa aku tidak mengenalinya?!


Pria tadi menelan saliva dengan berat.


“Kau jelaskan padaku kenapa kau melukaiku saat itu!” tanya Briptu Scarlet, yang terkesan bukan bertanya tapi menyentak.


Tentu saja pria tadi, tak mengucapkan sepatah kata pun dan tetap bungkam seperti sebelumnya.


Ingin rasanya Briptu Scarlet bermain-main dengan pria tadi dan membuatnya merasakan kesakitan untuk balas dendam. Tapi ia adalah agen polisi, dan tak mungkin baginya untuk main hakim saat ini. Bagaimana pandangan publik padanya nanti?


Maka ia pun menelepon rekannya dan mengabarinya.


Agen satu masuk. Ikan haring terjaring di Abby Fast Food. Cepat kemari, kita habiskan bersama menu pagi ini.

__ADS_1


Briptu Scarlet lalu memasukkan kembali ponselnya setelah selesai bicara.


Mendengar perkataan Briptu Scarlet, pria tersangka pembunuhan tadi segera kembali berdiri dari duduknya. Dia hendak kabur dari sana.


__ADS_2