
Setelah hari yang melelahkan Hao chen lebih memilih untuk tidur dari pada meditasi, karena dia juga perlu tidur.
"Apa yang terjadi pada ayah dan ibu?" tanya Hao chen yang saat ini sedang berbaring.
"Walaupun aku tahu bahwa mereka baik-baik saja, tapi aku juga merindukan mereka!" ucap Hao Chen dengan perasaan sedih.
Sudah lebih dari 8 tahun sejak perpisahan antara Hao Chen dengan kedua orangtuanya, perasaan rindu akan kasih sayang mereka benar-benar sangat mendalam dihatinya.
Tapi karena hal ini juga, Hao Chen semakin ingin cepat kuat agar bisa melindungi kedua orangtuanya.
"Ayah...Ibu...apakah kalian tau bahwa aku sudah berumur 14 tahun pagi tadi?" tanya Hao Chen dengan air mata mulai mengalir.
.....
Ditempat yang sangat jauh, terdapat sosok wanita yang merupakan ibunya Hao Chen yang sedang memandang langit berbintang.
Lalu dengan air mata yang mengalir deras dia segera berkata "Selamat ulang tahun...nak!"
Perasaan sakit dihatinya membuat Li Qingchan Terus menangis, layaknya seorang ibu yang sudah tak berdaya lagi.
Disaat yang sama Su Yao segera datang keasrama dan segera masuk kedalam kamar, awalnya dia ini mendatangi Hao Chen tapi melihat dia tidur, Su Yao segera menghentikan niatnya.
Seakan penuh tanya Su Yao segera menghampiri Hao Chen yang sedang tertidur pulas, lalu tanpa disengaja Su Yao melihat kalung sembilan warna yang ada dilehernya.
"Kalung yang indah!" ucap Su Yao yang melihat kalung dengan permata sembilan warna indah.
Tapi segera Su Yao mengingat kejadian dimana gurunya terpental dan hampiri mati oleh energi yang melindungi Hao Chen, walaupun dia hampiri marah tapi setelah mengetahui energi sembilan warna itu berasal dari ibunya, Su Yao menjadi tertegun dan segera mengingat sosok ibu dihatinya.
Bukan hanya itu Su Yao menjadi bingung melihat ada tatapan penuh kebencian ketika dia mengatakan bahwa jangan pernah meremehkan kasih sayang seorang ibu.
"Apakah ada sesuatu yang membuat dia marah?" tanya Su Yao.
__ADS_1
Kemudian Su Yao segera duduk dikasur Hao Chen, segera dia langsung melihat wajah Hao Chen.
"Wajahnya tampan juga...tapi dia terasa sangat dewasa!" puji Su Yao.
Lalu ada keinginan aneh dihati Su Yao, dimana dia saat ini benar-benar ingin menyentuh rambut putih keperakan yang terlihat sangat lembut.
"Um...dia sedang tidur jugakan?" dengan rasa penasaran Su Yao secara perlahan mulai mendekati kepala Hao Chen.
Kemudian setelah ia mencapai rambutnya, ada perasaan aneh menyebar dari tubuhnya sepeti sedang disengat oleh listrik saja.
Dengan gerakan lembut Su Yao segera mengerakan tangannya dan mulai membelai kepala Hao Chen.
"L-Lembut sekali! bahkan jauh lebih lembut dari rambutku!" puji Su Yao yang semakin senang.
"Apa yang dia lakukan sampai-sampai rambutnya sehalus dan selembut ini?" tanya Su Yao dengan iri.
Tapi entah mengapa Hao Chen menjadi semakin nyaman, ketika Su Yao dengan lembut membelai rambutnya.
"K-K-K-Kenapa ini?! semakin lama aku menyentuh rambutnya, aku malah semakin senang!" ucap Su Yao yang segera berteriak.
Segera karena teriak Su Yao, membuat Hao Chen kaget dan segera terbangun.
"Siapa yang berteriak tadi? padahal aku sangat nyaman dengan tidurku!" gerutu Hao chen dengan kesal, walaupun kekuatan nyawanya belum sepenuhnya terkumpul.
Kemudian Hao Chen segera melirik kesamping, dimana dia segera melihat Su Yao yang telah berbaring dikasurnya.
"Hah...dia sudah datang? kenapa dia tidur?" tanya Hao Chen.
"Sudahkah sebaiknya aku melanjutkan tidurku!" sambung Hao chen yang segera berbaring dan mulai tidur.
Sementara itu Su Yao hanya bisa diam dan tak bergeming, ketika Hao Chen bangun.
__ADS_1
"Untuknya aku segera cepat bertindak!" gumam Su Yao dalam hatinya dengan wajah memerah.
Lalu dia segera berbalik dan melihat keadaan Hao Chen yang sudah tertidur.
"Hah...dia sudah tidur lagi!" ucap Su Yao yang segera bangun.
Dengan nafas berat Su Yao segera bangun dan mulai meditasi, walaupun ada perasaan gelisah dihatinya.
.....
Ketika pagi menjelang Hao Chen segera bangun dari tidur nyenyak, walaupun dia merasakan hal yang aneh ketika sedang tidur.
"Hem...apa yang terjadi padaku tadi malam? rasanya ada tangan yang lembut membelai kepalaku." Tanya Hao Chen yang sedang bingung.
Tapi anehnya dia merasa sangat nyaman dengan hal itu, lalu dengan perasaan senang Hao Chen segera pergi kekamar mandi.
Disaat yang sama Su Yao segera memegang wajahnya yang sudah sangat panas akibat rasa malu.
"Dia menyadarinya! walaupun dia tidak tau jika akulah yang membelai kepalanya, tapi aku bahkan sampai...." segera asap mengepul dari kepalanya dan wajah yang semakin memerah.
Setelah waktu berselang Hao Chen segera melakukan, kegiatannya seperti biasa walaupun dengan kondisi yang sedikit bebeda.
Bahkan rasa senang Hao Chen segera mendapatkan pertanyaan dari Kakek kebun, tapi Hao Chen hanya menjawab dengan tidak tau.
Keanehan yang dirasakan oleh Hao Chen masih terasa olehnya, bahkan ketika dia berada didalam kelas.
Tapi perasaan aneh tersebut segera hilang ketika melihat Xie Yu dan Qi Zijing datang secara bersamaan, namun ada yang aneh dengan mereka berdua.
Mereka nampak pucat seperti mengalami siksaan dari neraka, bahkan bisa dibilang jauh lebih buruk.
Bukan hanya mereka murid-murid lain juga mengalami kondisi yang sama, termasuk Zhou Yuan dan Ling Feng.
__ADS_1