
Saat ini Hao Chen dan Tianlong sedikit kebingungan dengan sebuah pedang merah yang ditutupi oleh sarung berwarna putih, aura membunuh yang begitu kental membuat mereka sedikit sesak nafas.
"Apakah kau dapat mengembangkan wujud aslinya?" tanya Tianlong yang sepertinya mulai tidak nyaman dengan aura membunuh tersebut.
Hao Chen segera mengangguk dan mulai berkonsentrasi, tapi ketika dia berusaha mengembalikan wujud aslinya, cahaya dua belas warna meledak dari pedang tersebut.
Kekuatan darah Naga Kosong didalam dirinya mulai mendidih dan lambang naga dengan pedang kembali muncul. Tianlong juga segera terseret masuk kembali kedalam dunia kecil Hao Chen.
"Ini...apa yang sebenarnya terjadi?"
Hao Chen segera pusing akibat hal tersebut, dimana dia segera melihat sebuah tulisan Ilahi yang memiliki arit yang membingungkan.
"Hanya orang yang mampu melewati jalan tersulit yang dapat mendapatkan kekuatan terbesar. Tujuh ujian dosa pokok dan satu Jalan Ashura."
Setelah tulisan Ilahi tersebut menghilang Hao Chen segera jatuh pingsan dengan Martial Soulnya kembali pada wujud utamanya, namun ada perubahan yang cukup besar pada Martial Soul pedang Amethyst miliknya.
Disaat yang sama Su Yao yang dari tadi mengetuk-ngetuk pintu segera mendobrak masuk, karena dia merasa ada yang salah dengan Hao Chen.
Ketika dia berhasil membuka matanya, Su Yao segera terkejut melihat Hao Chen yang terbaring dengan penuh keringat dingin ditubuhnya.
"Hao Chen!"
Segera Su Yao memeriksa kondisi tubuhnya dengan teliti. Tidak ada tanda-tanda dia diserang atau meminum sebuah racun yang berbahaya.
"Dia hanya kelelahan, tapi kenapa dia sampai kelelahan?"
Dengan sigap Su Yao segera membaringkannya dikasur, lalu segera membantu membersihkan tubuhnya menggunakan sebuah Artefak yang memiliki kontrol penuh terhadap air.
"Aku dapat mencium bau badan yang keluar dari tubuh Hao Chen, sepertinya dia telah terjadi padanya. Tapi jika harus membersihkan lebih lanjut maka aku harus...."
Seketika wajahnya segera memerah dengan asap mengepul dari atas kepalanya, jantungnya berdegup kencang dan disertai nafas yang terengah-engah.
Disaat yang sama tekanan yang sangat mengerikan segera mengisi seluruh kamar, ketika lambang naga dengan pedang kembali muncul dikening Hao Chen.
"Dari mana tekanan ini berasal?" Su Yao segera kebingungan dan merinding karena tekanan tersebut.
Namun entah mengapa tekanan tersebut perlahan hilang, tapi lambang dikening Hao Chen masih ada.
__ADS_1
"Sepertinya aku harus benar-benar menemaninya, tapi sebelum itu aku harus..."
Su Yao segera mengumpulkan tekat sedalam-dalamnya. Dimana ketika hatinya telah siapa, Su Yao segera membuka seluruh pakaian Hao Chen pelan-pelan.
Tapi Su Yao segera memerah lagi, bahkan lebih merah dari biasanya. Darah segera keluar dari hidungnya, jantungnya berdetak lebih kencang seperti akan meledak.
Melihat sosok Hao Chen yang tidak mengenakkan apapun, Su Yao hanya bisa meneguk air liur.
"Benar-benar menggoda sekali..." Ucap Su Yao yang mulai tak terkendali.
Tapi dia segera mengelengkan kepalanya dan menekan emosinya dalam-dalam, dimana setelah itu Su Yao mulai membersihkan seluruh tubuhnya.
Karana artefak yang digunakan olehnya Su Yao tidak perlu sampai menyentuh sedikitpun tubuh Hao Chen, namun instingnya sebagai wanita benar-benar berbenturan yang menyebabkan ada banyak perlawanan dihatinya.
Walaupun Su Yao memiliki kebencian yang sangat mengerikan pada laki-laki entah apa alasannya, tapi hanya sosok Hao Chen yang biasa dikatakan sebagai laki-laki pertama dihatinya.
Berkata usaha maksimal yang digunakan oleh Su Yao, dia pada akhirnya berhasil melakukannya dengan sempurna, sampai berhasil memasangkan baju Hao Chen.
"Melelahkan...!" gerutunya dengan tubuh terbaring dikasur yang sama dengan Hao Chen.
Su Yao segera bangun, tapi ketika ia melihat lambang Naga dengan pedang dikening Hao Chen, dia segera kaget.
"Lambang apa itu?"
Dengan rasa penasaran dia segera menyentuh kening Hao Chen.
"Swoss!"
Secara tiba-tiba cahaya sembilan warna bersinar dari kalung yang digunakan oleh Hao Chen.
Tidak terjadi hal yang buruk pada Su Yao, tapi dia segera merasakan kehangatan seorang ibu yang muncul.
Lalu cahaya sembilan warna tersebut segera membentuk sesosok wanita yang sangat cantik. Dengan rambut biru disertai sembilan warna indah menyertainya, mata yang juga sama-sama berwarna biru seperti Hao Chen.
Sosoknya begitu lembut ketika menatap kearah Su Yao, bahkan senyumnya saja membuat rasa hangat muncul dihatinya.
"Kau sudah sebesar ini Hao Chen. Aku sampai-sampai harus menunda proses kelahiran kembali hanya untuk melihatmu tumbuh, bahkan aku berkali-kali ingin keluar dari kalung yang aku berikan padamu..."
__ADS_1
"...Tapi apa daya, aku hanya dapat melihatmu dan melindungimu ketika ada bahaya yang tidak dapat kau atasi, entah warisan apa yang kau terima sampai-sampai membuatku bisa melihatmu."
Jika Hao Chen sadar, dia pasti akan lari menuju wanita tersebut dan memeluknya dengan erat. Sebab wanita tersebut adalah guru sekaligus ibu bayinya yang tidak lain adalah, Qian Zhu.
Lalu dia segera melirik kearah Su Yao yang masih bingung dengan apa yang telah dilihat olehnya, jika apa yang dihadapan Qian Zhu adalah musuh adalah musuh, dia tidak akan segan-segan membunuhnya.
Tapi entah mengapa senyumnya sangat hangat ketika menatap Su Yao.
"Siapa namamu gadis kecil?" tanya Qian Zhu dengan suara lembut.
"A-Aku? namaku adalah Su Yao." Jawab Su Yao dengan gugup.
"Nama yang indah, sepertinya kau memiliki hubungan yang sangat istimewa dengannya." Ucap Qian Zhu yang segera menyentuh kepala Su Yao.
"Itu...tidak, hanya..." Su Yao segera blak-blakan tentang topik pembicaraan Qian Zhu.
Tapi hal tersebut justru membuat Qian Zhu segera membuatnya tersenyum. Dengan lembut dia segera membelai kepala Su Yao, layaknya seperti anak sendiri.
Rasa hangat segera dirasakan oleh Su Yao, ketika tangan lembut Qian Zhu membelainya kepalanya.
"Laki-laki ini mempunyai banyak sekali beban dihatinya, dia tidak akan pernah peduli dengan nasib orang yang ada disekitarnya dan hanya mementingkan orang-orang yang berharga dan menyayanginya, bahkan ketika aku memaksakan diri agar menunda kelahiran kembali, banyak sekali perjuangan yang telah dilalui olehnya." Ucap Qian Zhu yang segera menyentuh kepala Hao Chen.
"Apakah dia ibunya? tapi bukannya Hao Chen mengatakan kalau ibunya memiliki rambut putih sepertinya?"
"Atau jangan-jangan dia adalah guru sekaligus ibu angkatnya?"
Su Yao segera mengangguk ketika memikirkan hubungan Hao Chen dan Qian Zhu, setelah menyadarinya dia juga ikut tersenyum.
"Aku tidak bisa berlama-lama disini-nya, karena ketika dia mencapai ranah dewa yang sebenarnya, itulah saat terkahir ku." Ucap Qian Zhu yang mulai memudar.
Lalu dia segera melirik kearah Su Yao yang masih menatap Hao Chen.
"Kau tau...jika kau adalah sosok wanita paling beruntung karena bisa memenangkan hatinya. Walaupun dia masih belum mengakui perasaannya, kau tidak perlu takut akan tersaingi." Ucap Qian Zhu yang segera menjadi seberkas cahaya dan masuk kembali kedalam kalung Hao Chen.
"Apalagi kau telah melihat tubuhnya barusan, jika kau mengatakannya secara langsung dia pasti akan bertanggung jawab. Tapi aku sarankan agar kau menunggu sampai putraku ini benar-benar mengatakannya, ngomong-ngomong apakah kau menyukai bentuk tubuhnya?" ucap Qian Zhu sebelum benar-benar menghilang.
Akibat perkataan Qian Zhu wajah Su Yao kembali memerah dan jantung pun kembali berdetak kencang, dimana dia segera merapikan tempat yang berantakan akibat ulah Hao Chen.
__ADS_1