
Hari demi hari berlalu, tanpa disadari seminggu lebih telah berlalu. Kondisi kekaisaran manusia kembali menegang, tidak ada hari tanpa adanya pertempuran. Ratusan nyawa berjatuhan oleh serangan sekte iblis, dan juga pertempuran yang mengerikan juga sering terjadi.
Perang skala besar akan segera terjadi, dan itu tidak akan menunggu waktu yang lama. Bisa dilihat dari bertapa intensnya pertempuran kedua belah pihak, tapi bukannya takut.
Sekte iblis justru bertindak lebih berani, dengan menggunakan metode kejam dalam mengumpulkan kekuatan. Bahkan mereka menggunakan nyawa orang-orang tidak bersalah untuk meningkatkan kultivasi mereka, dan ini membuat kondisi kedua belah pihak memanas.
Juga dalam beberapa hari sebelumnya Zhou Yuan telah kembali pulih, dan Hao Chen memberikan pelayanan yang terbaik untuknya.
Tapi Hao Chen tidak lagi mengatur atau memberikan bantuan terhadap saudara bersumpahnya, karena dia menganggap jika mereka telah dewasa, dan dapat mengatur kehidupan masing-masing.
Walaupun sebenarnya Hao Chen cukup menyesali tindakan Zhou Yuan yang selalu menebarkan benih-benih cinta setiap kali dia lewat. Bahkan jika dia tidak melakukannya secara tidak sadar, Hao Chen tetap tidak bisa merubahnya.
Setelah Zhou Yuan sadar, tidak ada hal yang spesial dari hal tersebut. Hao Chen dan yang lainnya melanjutkan kegiatannya, untuk menunggu Ling Feng bersiap-siap.
Selama seminggu ini Hao Chen tidak diam saja, dia justru berlatih keras dan berkultivasi dengan rajin. Walaupun dia saat ini berada diranah dewa kelas dua tingkat 5, kecepatan kultivasinya sangat mengerikan.
Namun pondasi Hao Chen tetap kokoh dan stabil, dengan memanfaatkan energi dewa dan kekuatan penciptaan, dia dapat dengan mudah memperkuat pondasi , dan tekniknya.
Apalagi garis darah naga kosongnya telah berubah total, dengan gabungan dari sepuluh Divine beast teratas diseluruh Jagat raya. Martial Soulnya berevolusi menjadi lebih kuat, bahkan bisa dikatakan sebagai Martial Soul terkuat, tapi karena itu sumberdaya yang diperlukan untuk naik tingkat menjadi sangat besar.
Namun Hao Chen bisa sedikit santai karena energi dewa yang dimilikinya tidak memiliki batas, jadi Hao Chen tidak perlu takut lagi dengan kultivasi terhambat.
Tidak hanya itu Su Yao juga mendapat keuntungan yang sangat besar ketika berkultivasi didekat Hao Chen, sebab energi dewa akan keluar dari tubuhnya ketika meditasi, akan dia serap.
Pada awalnya Su Yao sedikit malu untuk meminta tolong, namun Hao Chen cepat peka terhadap keinginan Su Yao. Jadi dia tidak masalah untuk memberikan energi dewa yang dimilikinya, lagi pula energi dewanya tidak akan pernah habis, dan lagi sangat murni.
__ADS_1
Hao Chen juga ingin memberikan energi dewa pada teman-temannya, tapi basis kultivasi mereka hanya mencapai Dewi God, bahkan Zhou Yuan yang memiliki basis kultivasi terkuat hanya mencapai puncak Demi God.
Maka dari itu satu tetes energi dewa saja, sudah membuat mereka kewalahan, bahkan sampai sekarang energi dewa yang diberikan oleh Hao Chen masih belum diekstrak sepenuhnya.
Bisa dikatakan Hao Chen hanya berkultivasi dengan santai saja selama seminggu ini.
"Kak Chen apa kita harus menggunakan transportasi laut?" tanya Xie Yu dengan ekspresi penuh semangat.
"Hem...perjalanan akan jauh lebih lama jika kita menggunakan kapal laut, ditambah lagi kita hanya akan mengunjungi ibu Ling Feng saja." Gumam Hao Chen.
"Jadi bagaimana?" Ling Feng menjadi bingung, memang benar jika ingin ketempat ibunya membutuhkan waktu lumayan lama.
"Kau longgarkan lautan ilahimu, aku akan mencari koordinat rumahmu." Ucap Hao Chen.
"Baiklah." Tanpa rasa takut Ling Feng segera melongarkan lautan Ilahinya, karena dia percaya jika Hao Chen tidak akan melakukan sesuatu yang buruk padanya. Lagi pula Hao Chen dengan kultivasi dewa kelas dua, tidak akan membutuhkan informasi darinya yang hanya seorang Demi God.
"Itu Zhou Yuan dan Meng Zhu belum datang." Ucap Qi Zijing dengan ekspresi aneh.
Setelah beberapa menit menunggu, Zhou Yuan dan Meng Zhu segera datang. Tapi kondisi mereka sedang aneh, terutama raut wajahnya.
"Sepertinya terjadi sesuatu tadi malam." Su Yao berbisik.
"Kita sebaiknya jangan terlalu ikut campur, biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka sendiri." Ucap Hao Chen dengan tegas.
Sebenarnya kemarin malam kesadaran ilahi Hao Chen menangkap pembicaraan antara Zhou Yuan dan Meng Zhu, tidak ada perkelahian ataupun pertengkaran antara mereka berdua.
__ADS_1
Tapi Hao Chen cukup jengkel dengan tingkah Zhou Yuan, belum lagi betapa tidak pekanya dia terhadap perasaan wanita. Jika dia berada di sana Hao Chen pasti tidak akan segan-segan memukul kepala Zhou Yuan.
"Maafkan aku karena terlambat datang, aku memiliki beberapa urusan dengan pemimpin akademi." Zhou Yuan segera meminta maaf, sambil menggaruk kepalanya.
"Hah...rupanya kau telah menjadi populer ya." Ucap Hao Chen dengan tatapan sinis.
"Itu...apa maksud perkataan mu itu kak Chen?" Zhou Yuan memasang ekspresi tak berdaya.
"Hah...apa kita akan pergi sekarang?" tanya Hao Chen segera.
"Ayo pergi!" jawab mereka bertujuh dengan keras.
Hao Chen mengangguk paham, dan cahaya perak segera menyelimuti mereka semua. Kekuatan ruang yang sangat kuat segera memindahkan mereka ketempat yang dituju.
***
Disisi lain sekelompok orang yang memiliki aura jahat disekitarnya, sedang mengelilingi sebuah kota kecil didepan mereka.
"Kali ini kita akan menggunakan kota ini sebagai tumbal Aray pengumpul jiwa, walaupun terlihat seperti kota kecil. Orang-orang yang tinggal ditempat ini memiliki basis kultivasi yang lumayan tinggi." Ucap salah satu dari mereka.
"Setelah kita selesai dengan kota kecil ini, kita akan langsung menuju ke kerajaan bunga api untuk mengurusi beberapa hal penting disana." Sambungnya dengan serius.
"Tapi kenapa kita perlu menunggu waktunya? bukannya itu hanya sebuah kota kecil saja?" tanya salah satu dari mereka.
"Jika itu kota kecil biasa, aku akan menyerangnya sendiri, dan tidak akan meminta bantuan. Tapi pemimpin kota disana sangatlah kuat, bahkan jika kita bersatu, justru kita yang kalah." Jawab pemimpin mereka dengan gemetaran.
__ADS_1
"Siapa dia?" tanya mereka dengan penasaran.
"Xiao Ying...sang bulan es yang dingin."