
Kemudian Hao Chen segera melangkah kakinya menuju ke cobaan berikutnya yaitu, jalan Bumi.
Berbeda dengan medan dijalan manusia, lingkungan jalan bumi benar-benar sangat gersang dan hanya berupa tanah kering, namun suhunya tidak sepanas yang sebelumnya.
Namun Hao Chen merasa ada yang terus mengawasinya dari jauh, memang benar suhunya tidak sepanas yang pertama. Tapi semakin jauh Hao Chen berjalan semakin panas pula suhunya, bahkan ada banyak jebakan yang menghalanginya.
"Sepertinya aku hanya perlu berjalan lurus, tapi semakin jauh aku melangkah, semakin berbahaya pula jebakan yang akan muncul." Ucap Hao Chen yang terus waspada.
Setiap jebakan memiliki banyak variasi, ada yang bisa dan ada yang sangat berbahaya. Bahkan Hao Chen yang memiliki tubuh dewa tak terbatas saja harus berhati-hati dalam melangkah, sebab dia tidak ingin tubuhnya rusak parah.
Dijalan bumi Hao Chen seperti orang biasa yang tidak memiliki basis kultivasi, hanya mengandalkan kekuatan fisik dan instingnya.
Hari demi hari berlalu Hao Chen telah berjalan melewati rintangan selama lima hari, kondisinya yang sekarang bisa dikatakan lumayan bagus, walaupun dia sendiri sulit bernafas ataupun istirahat.
"Hah...akhirnya aku bisa istirahat." Hao Chen duduk bersilang sebentar, walaupun dia sama sekali tidak bisa menyerap energi apapun.
Tapi dia justru mengambil banyak keuntungan yang cukup besar ketika melewati rintangan dijalan bumi. Hao Chen juga merasa jika dirinya selama ini selalu mengandalkan kemampuan ledakan atau seni Sucinya dalam bertarung, setelah sekian lama dia mulai menyadari jika melatih gerakan yang terlihat sederhana, justru akan menambah kemampuan bertarung.
"Sinergi antara Kekuatan fisik dan Kekuatan sangat bagus. Sepertinya cobaan dewa Ashura ini memang bertujuan untuk melatih kemampuan seseorang, dan mengurangi kekurangan yang dimiliki oleh setiap orang." Hao Chen segera melontarkan pujian dengan senyum puas.
Setelah selesai beristirahat Hao Chen segera melanjutkan perjalanan menuju kejalan berikutnya, tapi rintangan yang harus dilewati semakin sulit dan berbahaya.
"Nafasku mulai tidak beraturan, setiap jebakan hampir tidak memiliki pola yang tetap, acak dan tidak beraturan, tapi setiap serangan selalu mengincar titik paling berbahaya." Batin Hao Chen yang terus menghindari setiap serangan serta jebakan yang terus bermunculan.
__ADS_1
Lalu ketika Hao Chen telah menyelesaikan jalan yang dipenuhi oleh jebakan, dia langsung dikejutkan melihat sebuah pesan yang mengatakan jika akan ada masalah yang akan mendatanginya.
Kemudian sekelompok manusia yang masing-masing dari mereka memegang sebuah senjata, dan memiliki perawakan yang bagus, bahkan mereka terlihat sangat beringas.
"Sepertinya aku benar-benar tidak diberikan izin untuk bernafas atau beristirahat sama sekali." Ucap Hao Chen sambil tersenyum tipis.
"Bunuh dia!!"
Mereka tanpa peduli kondisi Hao Chen segera maju dengan keinginan membunuh yang dapat dirasakan. Jumlah mereka sekitar ribuan orang, ada kemungkinan besar jumlah mereka akan terus bertambah sampai cobaan ini benar-benar selesai.
"Sepertinya tanah ini akan dilumuri oleh darah lagi..." Hao Chen menarik pedangnya dan segera maju tanpa rasa takut.
"Slaas...Slaas...Slaas...Slaas!!"
Bercak darah segera muncul dimana-mana, mayat bergeletakan sepanjang jalan yang dilalui oleh Hao Chen, suara hancur senjata segera menghiasi tempat tersebut.
Dengan mata merah menyala Hao Chen tidak peduli pakaiannya kini dinodai oleh darah, dan pedangnya terus meneteskan darah ketika berjalan.
"Lari! semua lari! dia adalah iblis!!" mereka semua yang awalnya arogan dan sombong. Kini hanya bisa berteriak ketakutan dan berusaha untuk melarikan diri.
"Mereka memiliki emosi? apa jangan-jangan mereka adalah orang-orang yang gagal dalam cobaan? atau mereka adalah jiwa-jiwa jahat?" batin Hao Chen dengan penuh tanya.
Walaupun begitu Hao Chen sama sekali tidak memperdulikannya, entah dia berhasil lolos jalan bumi atau tidak, Hao Chen tetap mengejar mereka.
__ADS_1
"Tidak akan aku biarkan satupun dari kalian ada yang hidup!" Hao Chen segera berseru dengan suara dingin.
"AAAAAA...!!!"
Hao Chen terus menerus membunuh dan membunuh tanpa berhenti selama dua Minggu penuh, tidak ada istilah istirahat diperkirakan nya.
Karena terus melakukan hal tersebut Hao Chen sempat kehilangan kesadarannya dan hampir menjadi gila, tapi pikirannya segera menguat.
Walaupun mentalnya hampir rusak karena terus membunuh tanpa henti, hatinya kini semakin dingin dan tatapan matanya semakin mengerikan.
"Jadi aku mulai memahami tujuan jalan bumi ini. Jika kau menjadi gila karena terlalu sering membunuh, maka kau akan gagal. Bisa dikatakan jalan ini sedang memastikan jika seseorang benar-benar akan tetap berfikiran jernih dan tenang walaupun dituntut untuk terus membunuh." gumam Hao Chen yang terus bergerak tanpa henti.
Sampai saat dimana tidak ada satu mahluk hidup manapun yang muncul, dan sebuah gerbang segera muncul didepannya.
Yang dimana gerbang tersebut merupakan akses menuju jalan berikutnya. Melihat gerbang tersebut Hao Chen segera bisa menghela nafas panjang, tapi dia segera berbalik dan memasang ekspresi dingin diwajahnya.
Sama seperti dia membantai orang-orang dari keluarga Zhong dan Xu, kondisi yang dia lihat sangat mirip, bahkan lebih parah.
Tumpukan mayat yang dalam kondisi mengerikan, dan darah yang membentuk aliran sungai yang panjang, segera menghiasi tanah gersang tersebut.
Lalu Hao Chen segera melirik kondisi tubuhnya yang kini sangat buruk, dengan darah dimana-mana. Tapi samar-samar aura membunuh berwarna merah darah mulai menghiasi sekitar tubuhnya.
Terutama pedangnya. Bukannya tumpul ketika terus menebas tanpa ampun, justru pedang tersebut semakin tajam dan terus menajam ketika dia terus membunuh.
__ADS_1
"Entah mengapa semakin aku melanjutkan cobaan ini...aku merasa ada sesuatu yang terus hilang pada diriku." Ucap Hao Chen dengan ekspresi yang dingin.