The Heaven Land

The Heaven Land
Chapter 226. Wilayah perbatasan


__ADS_3

Setelah kejadian waktu itu Hao Chen terus melanjutkan perjalanan menuju wilayah pencerahan, tapi ia tidak berfikir jika akan ada banyak hal yang merepotkan ditemuinya.


Bisa dikatakan jika Hao Chen sering kali mendapatkan gangguan ditengah perjalanannya, mulai dari perampok, serangan hewan buas, dan masalah lainnya.


Sehingga Hao Chen berfikir jika dia harus bersyukur karena telah menembus ketingkat Dewa, bahkan dia sendiri tidak bisa membayangkan akan sesulit apa yang akan menantinya.


Walaupun telah berhasil melakukan Manifestasi tubuh spiritual, tapi kekuatannya hanya berada ditingkat dewa awal, maka dari itu Hao Chen berusaha untuk secepat mungkin menembus ketingkat Soul Saint dengan kekuatan setara dewa kelas dua.


Tapi semakin tinggi tingkat yang ingin dicapai maka sumber daya yang diperlukan juga akan ikut bertambah, bahkan persyaratannya juga akan semakin sulit.


"Sigh~"


Hao Chen segera menghembuskan nafas berat sembari terbang menuju ke wilayah pencerahan yang berbeda di kekaisaran Zou, selama perjalanan ia selalu kebosanan dan ingin melakukan sesuatu yang menarik.


Tapi karena dia tidak boleh lengah, Hao Chen dipaksa untuk tetap melangkah maju dan tidak bisa melihat ke belakang.


"Sudah seminggu lebih aku melakukan perjalanan setelah kejadian bibi Xu Mengyi, dan aku tidak menemukan apapun sepanjang perjalanan." Gumam Hao Chen dengan bosan.


Sementara itu Tianlong hanya tidur saja didalam dunia kecilnya, karena dia juga bosan melihat Hao Chen yang hanya terbang diudara dan istirahat lalu terbang lagi.


"Sepertinya aku akan berhenti sebentar..." Disaat Hao Chen ingin turun, ia segera melihat sebuah kota didepan matanya.


"Kota? akhirnya! semoga saja aku mendapatkan sesuatu yang menarik." Ucap Hao Chen yang melanjutkan perjalanannya.


Ketika Hao Chen sampai di gerbang kota, dia segera menjadi pusat perhatian dari orang-orang yang mengantri untuk masuk kedalam kota.


Sementara itu para penjaga gerbang segera waspada ketika kemunculan Hao Chen, karena orang yang bisa terbang pastilah sangat kuat.


Tanpa menghiraukan tatapan mereka Hao Chen segera turun perlahan, dimana ia langsung diberi jalan oleh mereka.


"Eh? apakah aku mengeluarkan sesuatu yang membuat mereka takut?" batin Hao Chen dengan bingung.

__ADS_1


Karena tidak ada antrian Hao Chen segera mendatangi para prajurit kota itu, ketika Hao Chen mendekati mereka ada perasaan takut dan gemetar darinya.


"Sang dewa yang terhormat, apakah ada yang bisa kami bantu?" tanya Prajurit itu dengan gugup.


Hao Chen segera merespon dengan datar, "Aku ingin memasuki kota, apakah ada beberapa hal yang harus dilakukan?"


"Tidak! Tidak! Tidak! tentu saja dewa yang terhormat bisa masuk." Ucap Prajurit itu yang tambah gemetar.


"Baiklah kalau begitu aku akan masuk, yakin tidak ada proses administrasi atau yang lainnya?" tanya Hao Chen lagi, karena dia sendiri tidak ingin membuat masalah.


"Tentu saja tidak, untuk dewa yang terhormat bisa masuk tanpa perlu melakukan hal itu." Jawab Prajurit itu yang segera memasang ekspresi takut.


"Hah...baiklah kalau." Hao Chen segera masuk kedalam kota tanpa melalui proses yang merepotkan.


Tapi suara langkah kuda segera terdengar, diikuti oleh suara seorang pemuda yang sedang berkata-kata kasar.


"Hahahaha! kalian orang rendah menyingkirkan dari jalan anak pemimpin kita ini!" ucap pemuda itu yang memacu kudanya dengan sangat cepat.


Dibelakang anak itu terdapat rombongan kereta yang ditarik oleh seekor kuda yang terbilang cukup unik dan terasa sangat elegan, tapi orang-orang yang ada disekitar hanya bisa menyingkirkan dan buruknya lagi mereka ada yang tertabrak oleh kuda yang ditunggangi oleh pemuda itu.


"Ctack!"


Cambuknya segera mengenali punggung Hao Chen dengan suara tamparan yang sangat keras, tapi orang-orang yang melihat hal tersebut segera memasang ekspresi takut.


"Apa yang bangs*t itu lakukan?!!" batin masing-masing orang, termasuk para penjaga gerbang.


Melihat Hao Chen tidak bergeming pemuda itu segera menghentikan kudanya dan segera turun, lalu ia segera mendatangi Hao Chen dengan ekspresi arogan.


"Hey! cepat menyingkirkan dari jalanku!" ucap pemuda itu dengan keras.


Dimana hal tersebut segera menghentikan jalan dari rombongan yang dipimpin oleh pemuda tadi, tapi Hao Chen tetap diam dan tidak merespon sama sekali.

__ADS_1


"Apa kau dengan atau tidak sih! cepat menyingkirkan atau akan aku bunuh kau!" perintah pemuda itu yang semakin tidak sabar.


Sementara itu orang-orang yang menyadari siapa Hao Chen hanya bisa mundur secara perlahan, karena mereka tidak tau hal buruk apa yang akan dilakukan olehnya.


"Tuan muda, kumohon.." disaat Prajurit itu ingin menghentikan tindakan pemuda itu.


Dia segera menepisnya dan berkata, "Sebaiknya kau diam! baiklah karena kau masih tidak mau mendengarkan perintah ku, maka kau harus berlutut di hadapanku!"


Sementara itu Hao Chen segera berbalik sambil mengeluarkan aura membunuh yang mengerikan, ditambah dengan kekuatan naga yang ikut menyertainya.


Sontak hal tersebut membuat orang-orang yang menyaksikannya menjadi ketakutan serta tertekan, bahkan ada yang sampai tersungkur jatuh oleh tekanan yang dikeluarkan oleh Hao Chen.


"Kau sepertinya mencari masalah dengan orang yang salah." Ucap Hao Chen dengan nada santai.


Namun kekuatan yang dikeluarkan oleh Hao Chen justru memiliki makna tersendiri bagi mereka, sampai secara tiba-tiba ada seorang pria tua muncul dihadapan pemuda itu.


"Kumohon dewa yang agung! ampunilah tindakan cucuku!" ucap pria tua itu dengan ekspresi takut.


"Cucumu? apakah kau tidak pernah mendidiknya agar jangan bersikap macam-macam didepan seorang kultivator?" tanya Hao Chen dengan raut wajah yang berubah.


"Mohon maafkan pria tua ini, saya akan memberikan apapun kepada anda." Jawab pria tua itu yang mulai khawatir.


"Hah...tidak perlu, karena aku tidak ingin ribut." Ucap Hao Chen yang segera menarik kekuatannya.


Orang-orang yang ada disekitar segera bernafas lega ketika Hao Chen tenang, walaupun ingatan akan kejadian tadi sangat membekas.


"Kakek kenapa kau menghentikankuku?" tanya pemuda itu dengan kesal.


"PAK!"


Pria tua itu segera menampar wajah pemuda itu dengan keras, sehingga membuat dia terlempar.

__ADS_1


"Apakah kau tau jika kau hampir saja membuat seluruh keluarga kita lenyap?!" ucap pria tua itu dengan marah.


"Orang yang kau ganggu tadi adalah seseorang yang telah mencapai ranah dewa, bodoh!" sambungnya dengan marah.


__ADS_2