
Walaupun Hao Chen dan Su Yao sempat canggung, pada akhirnya Hao Chen mengalah untuk mulai bicara.
"Um...kapan kita akan pergi?" tanya Hao Chen dengan suara yang sedikit aneh.
Su Yao yang awalnya diam, segera menjawabnya, "Kita akan pergi sekarang, karena aku tidak ini terlalu lama menunggu."
Mendengar hal itu Hao Chen mengangguk setuju, karena mereka juga sudah terlalu lama di penginapan.
Setelah itu Hao Chen segera mengurus semua hal sebelum pergi meninggalkan penginapan ini, entah apa alasannya dia merasa harus melakukannya, walaupun dia sendiri tidak tau apa dia salah atau tidak.
"Sudah selesai, ayo pergi." Ucap Hao Chen sambil tersenyum.
Lalu Su Yao segera berkata, "Oke, tapi sebelum itu aku ingin memberitahu jika kita harus berjalan kaki menuju ke tempat celah dimensi tersebut, karena aku sendiri takut jika ada seseorang yang akan mengikuti kita."
"Memangnya ada orang lain yang akan tau?" tanya Hao Chen dengan penasaran.
"Memang persyaratan untuk masuk kedalam alam Permaisuri Giok hanyalah keturunannya, tapi celah dimensinya akan muncul dan dapat dilihat oleh orang lain." Jawab Su Yao sambil menariknya.
Sebenarnya Hao Chen memiliki tujuan tersendiri yang telah dia beri tahu pada Su Yao, tapi Hao Chen masih menyembunyikan tujuan aslinya.
Ketika mereka menuju keluar kota, mereka mulai melihat banyak sekali rombongan orang-orang yang memiliki kekuatan yang luar biasa, bahkan orang penting dari berbagai penjuru sepertinya mulai memadati kota Ho.
Hao Chen sendiri merasakan ada beberapa orang yang berasal dari kekaisaran manusia yang menyamar. Dimana mereka memiliki satu tujuan yang sama yaitu mengikuti jalan dewa Pembantaian.
"Sepertinya kita ini akan dipadati oleh banyak orang, namun syukurnya kita menyamar dengan baik." Gumam Su Yao yang masih berjalan, walaupun sudah sedikit jauh dari kota.
"En, seharusnya memang akan selalu dipadati oleh banyak orang, sebab jalan dewa pembantaian hanya terbuka setiap setahun sekali. Seperti waktu itu aku bertemu seorang senior dari akademi yang sama." Ucap Hao Chen tiba-tiba.
Su Yao mengangguk dan berkata, "Kau bertemu seseorang yang berasal dari akademi yang sama? seperti yang dikatakan oleh nenekku, akan ada banyak orang yang berkumpul di wilayah pencerahan."
Setelah merasa cukup aman mereka segera terbang dengan kecepatan tinggi, Hao Chen juga sempat menggunakan sebuah mantra untuk menutupi keberadaan mereka berdua.
__ADS_1
Tapi secara tiba-tiba Su Yao malah bertindak aneh setelah melepaskan kesadaran spiritualnya, dimana ia langsung menambah kecepatannya.
"Eh? ada apa Su Yao!?"
Melihat hal itu Hao Chen segera mempercepat pergerakan, sebab dia sedikit merasakan hawa membunuh dari Su Yao.
"Ada apa dengannya? sepertinya dia memiliki sebuah masalah." Batin Hao Chen sambil menyipitkan matanya.
Sementara itu Su Yao yang berhenti ditengah udara, dimana dia menatap sekelompok orang yang sedang berkumpul didepan sebuah celah dimensi.
Ukurannya tidak terlalu besar dan hanya sebesar ukuran manusia normal, tapi orang-orang yang berkumpul rata-rata adalah para bangsawan dari kerajaan terkenal, dan para pangeran yang memiliki kekuatan yang hebat.
Namun tatap Su Yao segera dipenuhi oleh kebencian yang sangat dalam. Tatapannya tertuju ke seorang wanita yang terlihat bermesraan dengan seorang pria tampan, dilihat dari tingkahnya dapat dipastikan wanita yang ditatap oleh Su Yao adalah seorang lac*r.
"Dia ada disini! aku akan membunuhnya!" ucap Su Yao yang segera menarik tombak naga emasnya.
Aura tirani dari sang Kaisar naga emas menggelora, dipenuhi oleh keinginan menghancurkan segalanya, bahkan mantra yang dipasang oleh Hao Chen segera rusak.
Sehingga Su Yao dibawa pergi dan aura yang dipancarkan olehnya menghilang, tapi banyak orang-orang yang merasakan hal tersebut bingung dan masih takut.
"Aura macam apa itu?" tanya wanita yang ditatap oleh Su Yao dengan keinginan membunuh.
Disisi lain Hao Chen yang saat itu membawa Su Yao pergi, segera menabraknya Kedinding dengan keras.
"Apa yang ingin kau lakukan?!" tanya Hao Chen dengan keras.
"Apakah kau tau banyak sekali orang-orang yang sangat kuat disana, bahkan jumlahnya tidak sedikit!" sambungnya.
"Kau seharusnya tidak menghalangi ku!" ucap Su Yao dengan tatapan mengerikan.
Kali ini Hao Chen tidak gentar atau takut, justru segera mengurung Su Yao dengan kedua lengannya.
__ADS_1
"Sudah seharusnya aku menghalangi tindakan bodoh mu itu! walaupun aku tidak terlalu mengerti apa yang membuatmu mengeluarkan keinginannya membunuh yang mengerikan. Aku sendiri dapat paham jika kau ingin membalas dendam, tapi cara yang kau lakukan sangatlah ceroboh!" Kata Hao Chen yang terlihat sangat marah.
"Apakah kau bisa menyakini jika kau akan berhasil membalas dendam? apakah kau berfikir bagaimana orang-orang yang mencintaimu akan rela, ketika mengetahui kau mati karena membalas dendam?"
"Su Yao entah apa yang kau alami ketika masa kecilmu, tapi aku dapat yakin kita berdua memiliki kesamaan. Namun jika kau ingin membalas dendam, kau harus memikirkannya dengan baik apakah berhasil atau tidak."
"Jangan sampai kau menyia-nyiakan kesempatan hidup yang telah diberikan oleh ibumu, hanya karena keinginan gelap di hatimu, jika kau ingin membalas dendam lakukanlah ketika kau benar-benar yakin dengan kekuatanmu." Ucap Hao Chen yang segera terengah-engah, setelah mengatakan hal tersebut.
Secara perlahan Su Yao mulai tenang dan keinginan membunuhnya menghilang, tapi air mata mulai mengalir deras dari mata indahnya, ekspresi tegas diwajahnya menghilang.
Dimana segera digantikan oleh ekspresi penuh penderitaan, seperti emosi dihatinya akan segera meledakkan.
"Ke-kenapa denganmu?" tanya Hao Chen yang segera bingung.
Namun Su Yao tidak menjawab dan hanya memegang kerah bajunya dengan erat, air mata pun mulai menetas ketanah.
Segera dia memeluk Hao Chen dengan sangat erat, tidak terdengar Isak tangis, hanya terdengar suara tetesan air mata.
Walaupun Su Yao hanya diam, Hao Chen menyadari jika ada beban yang sangat berat dihatinya sama seperti dirinya.
Karena hal itu Hao Chen segera membalas pelukannya dengan erat dan berkata, "Tidak perlu ditahan, aku ada disini, keluarkan saja."
Layaknya seperti sihir yang sangat kuat, Su Yao segera memeluknya lebih erat, dia seperti benar-benar sangat menolak keinginannya untuk menangis.
"Layaknya Air yang bisa memadamkan api. Itulah kenapa saat hatimu terbakar, kamu harus menangis. Biarkan api yang dihatimu padam oleh air mata, aku ada disini jadi tidak perlu untuk ditahan." Ucap Hao Chen dengan lembut.
Sontak Su Yao berhenti melawan keinginan hatinya dan membiarkan segalanya keluar. Tangisnya terdengar sangat keras dan diisi oleh penderita yang mendalam, emosi Su Yao menjadi campur aduk ketika tangisnya keluar.
***
* Akan ada pelangi setelah hujan. Akan ada kebahagiaan setelah air mata.
__ADS_1