
Saat ini Hao Chen masih menatap gerbang menuju jalan berikutnya yaitu jalan neraka. Dari namanya saja sudah sangat mengerikan, karena hal ini Hao Chen terkesan ragu untuk melanjutkannya.
Ketika Hao Chen telah melalui empat jalan dicobaan Ashura, dia sedikit memahami tujuan dari enam jalan ini. Bahkan hanya dengan berhasil melewati empat jalan saja, Hao Chen merasakan perubahan besar padanya.
Namun entah mengapa Hao Chen merasakan ada gangguan yang mendalam ketika menatap gerbang jalan Neraka, hatinya segera dipenuhi oleh keraguan, seperti dia sangat takut.
"Baiklah karena sudah sampai sejauh ini ayo kita lanjutkan!!" Hao Chen segera menarik nafas dalam-dalam dan segera membuka gerbang tersebut.
"Woss..."
Hao Chen segera merasakan bulu kuduknya berdiri tegak, sensasi yang begitu mengerikan segera menggerogoti tubuhnya, dan hawa yang sangat dingin membuatnya mematung dalam beberapa saat.
"Gulp*" Hao Chen segera meneguk ludah kering, ketika menatap dunia gelap yang berada didepan matanya.
Ketika Hao Chen menginjak kakinya kedalam gerbang, secara langsung gerbang tersebut segera tertutup. Dia menjadi panik ketika hal tersebut terjadi, secara tiba-tiba ketakutan dihatinya muncul dan dia menjadi panik.
"Aaaaaaaa!!!"
Secara tiba-tiba Hao Chen merasa telah terjatuh kedalam jurang, jantungnya terasa terangkat dan tubuhnya segera kaku.
"Plup..."
Setelah itu Hao Chen merasa telah jatuh kedalam air dan tengelam, awalnya biasa-biasa saja. Namun semakin dalam dia terjatuh, Hao Chen mulai merasakan tekanan yang mengerikan muncul.
Bukan hanya itu api yang sangat panas mulai membakar tubuh bagian dalamnya, dan petir yang begitu kuat menyambar tubuhnya. Rasa sakit yang belum pernah dia rasakan muncul, pikiran Hao Chen segera kacau, sebab organ tubuh dan tubuhnya terasa sedang dihancurkan.
"AAAAAAAA!!!"
Walaupun Hao Chen menahannya dengan keras, pada akhirnya dia segera berteriak keras ketika rasa sakit yang sangat mengerikan menggerogotinya.
Hao Chen merasa jika dirinya dijatuhkan disebuah tungku api yang sangat panas, dengan petir menyambar tubuhnya.
Perlahan Hao Chen mulai kehilangan kesadarannya, tapi bukan dunia gelap yang dia rasakan. Namun sebuah dunia putih yang tidak diisi oleh apapun, setelah itu tidak terjadi apapun selama beberapa saat.
__ADS_1
Kemudian dunia putih tersebut segera berubah dan memperlihatkan sebuah makam yang bertuliskan namanya, dan ada sebuah keluarga yang terdiri dari tiga orang yang menatap kearah makam tersebut.
"Tunggu! buka itu ayah dan ibu? bahkan adikku juga ada?" mata Hao Chen segera melebar melihat hal tersebut, sebab apa yang sedang dia lihat adalah orang tua dan adiknya dikehidupan sebelumnya.
Segera hatinya terguncang dan dia terhuyung dengan ekspresi pucat. Ketika dia melirik batu nisan yang sedang mereka tatapan, Hao Chen menemukan jika itu bertuliskan namanya dulu, sebelum renkarnasi.
"Tidak aku disini ayah! ibu!" secara spontan Hao Chen berteriak keras, namun mereka tidak mendengar sama sekali.
Hatinya terasa sangat sakit, bahkan ia tidak lagi merasakan sakit pada tubuh dan organ dalamnya. Saking sakitnya Hao Chen tidak lagi meneteskan air mata, sekarang dia segera menangis dengan air mata darah.
Emosinya kacau, ingatan demi ingatan yang dia tekan dalam-dalam segera muncul kepermukaan. Memiliki ingatan dua kehidupan bukalah masalah bagi Hao Chen, tapi kenangan yang ada dipikirannya lah yang akan membuatnya sakit.
Kini Hao Chen berfikir jika kehidupan yang sekarang jauh lebih baik dari pada kehidupan sebelumnya, tapi kenangan yang dia simpan dalam-dalam membuatnya terluka, baik itu secara mental maupun emosional.
Kini pemandangan kembali berubah, Hao Chen kembali melihat banyak kenangan indah dikehidupan sebelumnya, kehangatan keluarga yang muncul.
Air mata bercampur darah semakin mengalir deras, emosi Hao Chen semakin kacau. Dia benar-benar ingin kembali dan merasakan kehangatan yang sama, tapi sekeras apapun dia mencoba dia tidak bisa kesana.
"Hentikan...Aku mohon hentikan.." Hao Chen segera memohon tak berdaya, determinasi yang ditunjukkan oleh Hao Chen kini hancur.
Lalu dia segera dikejutkan ketika gambaran tersebut menghilang, Hao Chen seperti sedang memohon untuk tetap bisa melihat kenangan tersebut.
Tapi gambaran berikutnya bukalah sesuatu yang dia harapkan. Hao Chen segera melihat masalah lalunya yang dulunya sangat suram dan menyakitkan, kehangatan yang didapatkan ketika masih kecil dikehidupan sebelumnya hilang, dan menjadi rasa permusuhan dan penindasan terhadapnya.
Penghinaan, ejekan, pembullyan, dan pemukulan. Hao Chen segera melihat dirinya dulu yang sering ditindas, ketakutan yang dia rasakan ketika dia berpergian, dan merupakan akar masalah kenapa dia sering menyendiri.
Hao Chen dikehidupan yang sekarang bisa dikatakan adalah orang yang sangat kuat, dia dapat membunuh siapa saja yang mencari masalah dengannya. Tapi apa yang dia lihat sekarang berbeda, sosok kurus, lemah, dan tertindas muncul didepannya.
Dia merasakan sensasi ketakutan ketika melihat orang-orang yang dulunya pernah menganggunya dikehidupan sebelumnya, dia ingin lari menjauh dari mereka, dan mengunci dirinya sendiri didalam kamar tidurnya.
Tapi sejauh apapun dia melarikan diri, kenangan tersebut terus mengikutinya kemanapun dia melarikan diri.
"Hentikan! aku menyerah! aku mohon hentikan!" Hao Chen berteriak tanpa daya, seperti seseorang yang telah kehilangan segalanya.
__ADS_1
Namun gambaran tersebut segera berganti, dimana kenangan tersebut merupakan kenangan yang tidak pernah ingin dia ingat.
"Tidak aku mohon jangan!" Hao Chen segera berteriak lebih keras dengan nada penuh penderita, dia memohon sangat keras.
Tapi gambaran yang tidak ingin dia lihat segera muncul. Hao Chen segera terhuyung jatuh, ketika melihat kedua orangtuanya menangis. Bukan karena hal lain, tapi karena dirinya sendiri. Dikehidupan sebelumnya Hao Chen secara tidak langsung membuat kedua orangtuanya bertikai, rumah tangga mereka rusak, dan penyebab itu semua adalah dirinya.
Kegagalan dalam hidupnya tidak hanya berakibat pada dirinya sendiri, tapi orang-orang terdekatnya. Karena dirinya sendiri keluarganya segera rusak, dan karena itu dia selalu menyalahkan dirinya sendiri.
Hao Chen terus menangis tiada henti dengan darah segar mengalir mengikuti air matanya, emosinya kacau, pikirannya mulai hancur, dan lagi dia tidak bisa melihat lagi, bisa disimpulkan dia sekarang buta.
Tapi hal tersebut diperparah ketika dunia putih tersebut terus menerus mengulangi kenang kenangan tersebut, Hao Chen merasa sangat tersiksa, bahkan ini merupakan siksaan paling buruk dan menyakitkan sepanjang hidupnya.
"NERAKA! INI ADALAH NERAKA!!" Hao Chen berteriak tak berdaya, perasaannya hancur dan pikirannya menjadi kacau.
Hao Chen terus menangis dan menangis, entah berapa lama Hao Chen merasakan siksaan yang pedih tersebut.
Tapi secara tiba-tiba darah yang menetes dari matanya nampak berbeda. Tidak seperti darah manusia normal yang berwarna merah, namun kini itu benar-benar berwarna emas!
Benar! darah Hao Chen secara tiba-tiba berubah menjadi emas, dan bukan hanya itu saja, matanya yang buta karena telah lama menangis juga ikut berubah. Kini cahaya kebiruan muncul dimatanya.
Pengelihatannya telah kembali, dan darahnya telah berubah menjadi emas. Hao Chen menggenggam tangannya dengan erat, air matanya segera berhenti menetes.
Hao Chen segera berdiri walaupun tubuhnya masih gemetaran, dengan menggunakan seluruh sisa tenaganya Hao Chen kembali bangkit.
"Lawan terkuat ku bukalah Shen Jiu sang dewa iblis terkuat diseluruh Jagat Raya. Dia adalah musuh yang sanggup membuatku tidak berdaya, lawan yang paling sulit dikalahkan..."
Lambang naga dengan pedang dikening Hao Chen segera bersinar terang dengan cahaya dua belas warna yang indah, kulit wajah yang sangat pucat kembali mendapatkan kembali wujud aslinya.
Mata Hao Chen segera semakin terang oleh cahaya biru seperti lautan yang luas, darahnya seperti emas yang sangat berharga dan tak tergantikan. Tekanan yang begitu besar muncul disekitarnya, seolah-olah Kaisar tertinggi sedang turun tangan untuk bertindak.
Hao Chen segera meraih pedangnya yang kini bukan pedang darah. Kini wujud asli dari Martial Soulnya kembali.
"Lawan terkuatku adalah kenangan dan masa laluku!" Hao Chen segera berseru, dan meraih pedangnya yang siap menebas apapun yang menghalanginya.
__ADS_1