
"Sekali dayung dua pulau terlampau" guman Alisya dengan Smirk menakutkan.
Alisya dengan tenang menikmati makanannya dengan melihat berita tentang Alexa dan Leon.
"Aku yakin dengan berita ini perusahaan Leon akan kena imbasnya dengan itu aku akan lebih fokus pada keluarga pembunuh itu dulu" kata Alisya.
Drett
Drett
Drett
Alisya yang sedang sibuk berpikir untuk menyerang siapa selanjutnya di kagetkan dengan ponselnya yang berdering.
"Maya" gunam Alisya melihat nama Maya terterah di layar ponselnya.
"Hallo" ucap Alisya malas.
"Ini kamu kan pelakunya?" tanya Maya di sebrang sana.
"Yah aku sengaja memberi mereka serangan secara bersamaan dengan itu mereka akan saling menyalahkan" jawab Alisya santai.
"Lalu siapa sasaran kamu selanjutnya?" tanya Maya lagi.
"Hm masih Alexa tapi kamu cari orang yang akan bertugas mendekati Tuan Edric terhormat" kata Alisya dengan senyum di bibirnya.
"Cari saja pastikan ia wanita dan ****** namun harus tunduk di bawah perintahku" kata Alisya lagi.
"What! Kamu mau buat Tuan Edric itu berbaling dari istrinya gitu?"
"Yes. Karna Penghianatan itu rasanya sangat menyakitkan bukankah itu bisa memperburuk keadaan jiwanya di tambah dia emang sudah mau gila sih"
"Oke akan segera aku cari setelah itu aku akan bawah di kantor"
"Hem" jawab acuh Alisya lalu mematikan ponsel sepihak.
Alisya tidak langsung menyimpan ponselnya melainkan mengotak Atik lagi benda itu.
"Hallo"
"Yah Nona''
"Sudah kau temukan keberadaannya?"
"Belum Nona tapi saya mendapat informasi baru lagi"
"Apa itu?"
"Yang menyerang Nona kemarin bukan pemimpin yang sebenarnya melainkan pion yang dia gunakan untuk mengelabui semua orang termasuk Nona dan Tuan Kenzo"
BRAK
"Ternyata dia benar-benar licin seperti belut"
__ADS_1
"Apa tidak ada jejak sama sekali?"
"Em ada Nona. Pria itu di lihat di bandara Italy namun saat kami selusuri kami tidak bisa menembusnya"
"Italy? bukankah itu negara tempat markas utama mereka?"
"Betul Nona"
"Serahkan kepada Maya dia Yanga kan menyelesaikannya."
Tut
Tut
Tut
"Pria tua itu benar-benar licin. aku harus menyiapkan rencana dengan sempurna jika tidak maka aku tidak akan bisa menangkapnya dengan mudah." guman Alisya memijit pelipisnya.
Sudah beberapa hari Alisya menyuruh orang untuk mencari keberadaan Robert pria yang menculik dan menjebaknya dengan obat perangsang namun sampai hari ini orang-orang yang dia suruh tidak menemukan apa-apa.
"Aku harus segera menyelesaikan dendamku kepada keluarga pembunuh itu" tekad Alisya yang akan mempercepat pembalasan dendamnya.
******
PLAK
PLAK
"Apa-apaan kamu ini Alexa ha.......?" bentak Edric murka setelah melayangkan tamparan ke wajah Alexa.
"Maafkan Alexa Dad" cicit Alexa.
Seumur hidup Alexa tidak pernah 1 kalipun Edric meninggikan apalagi membentaknya namun kali ini Edric tidak hanya membentaknya tapi juga menamparnya.
"Maaf kamu bilang? apa dengan maaf mu bisa mengembalikan semuanya ha....?" bentak Edric lagi memijit kepalanya.
"Sudahlah Edric, lagian Alexa dan Leon itu sudah tunangan jadi wajar jika mereka begitu toh mereka juga akan menikah" kata Reva yang membela Alexa.
"Menikah kamu bilang? cih, kau pikir aku bodoh Reva hingga bisa kau kelabui ha.... Leon terutama orang tuanya tidak akan pernah sudi lagi menerima Alexa untuk menjadi menantu mereka karna apa? karna dia bukan pewaris dari semua kekayaan Warisan Beatrix!" sarkas Edric menatap sinis Reva dan Alexa yang kini diam mematung.
"Tapi Alexa dan Leon sudah melakukan itu" ucap Reva pelan yang tiba-tiba merasakan perasaan takut dan cemas.
"Aku mulai bingun sebenarnya yang pembawa sial itu Alisya atau anak kamu itu" kata Edric sinis menunjuk Alexa.
Deg
"Mas'' pekik Reva menatap tajam Edric
Sedangkan Alexa kedua matanya terbelalak mendengar perkataan Edric yang di tujukan padanya.
"Dad? bukankah aku putri kebanggaan Daddy?"
"Cih apa pernah selama ini kamu membanggakan kamu tahunya hanya salon, foya-foya, dan menghabiskan uang saja" jawab Edric berlalu pergi.
__ADS_1
"Ini semua karena kamu Alexa! lihat sekarang suamiku membentakku hanya karna perbuatan kamu. dasar memalukan" ucap Reva tiba-tiba dengan menatap sinis Alexa lalu pergi meninggalkannya begitu saja.
"AAAAAAAA SIAL" umpat Alexa.
"Kenapa bisa aku sampai melakukan itu dengan Leon padahal selama ini aku selalu minum banyak tapi tak pernah mabuk seperti kemarin" kata Alexa dalam hati dengan frutasi.
Hahahaha
"Ini baru permulaan" smirk Alisya menatap video di ponselnya.
Ceklek
"Baby" guman pria yang baru masuk. pria itu tak lain dan tak bukan adalah Kenzo.
Kenzo menatap Alisya penuh dengan kerinduan ingin sekali dia berhambur memeluk kekasihnya itu tapi saat mengingat perkataan Alisya beberapa hari lalu membuatnya emosi seketika.
"Untuk apa kamu datang? aku sudah menyesuaikan rencana yang kamu inginkan." tanya Kenzo datar.
"Duduklah"
Mendengar itu Kenzo hanya bisa mengenyitkan alis lalu mengkode Dirga untuk keluar. setelah itu baru Kenzo berjalan ke arah Alisya dan duduk di depan Alisya.
"Ada apa?" tanya Kenzo masih dengan nada datar walau hatinya begitu memberontak untuk memeluk gadis di depannya itu.
Sedangkan Alisya menatap dalam Kenzo alku menghembuskan napas pelan-pelan. Entah bagaimana tanggapan Kenzo nantinya pikir Alisya.
"Mari bekerja sama" kata Alisya setelah terdiam cukup lama.
"Kerja sama?" beo Kenzo menatap penuh tanda tanya Alisya.
"Black Dragon! aku ingin menghancurkan dan membunuh ketuanya." kata Alisya yang membuat Ke zo menegang di tempat.
"Aku tahu kamu juga sedang mencari dan memburunya jadi mari....."
"Cukup!" sentak Kenzo menatap tajam wanita yang begitu dia puja dan cintai itu.
"Kamu tahu apa yang sedang kamu katakan ha.....? mereka mafia kedua setelah kelompok ku walau aku yakin aku bisa membasmi mereka tapi belum tentu kamu bisa" lanjut Kenzo dengan amarah yang meluap-luap.
"Karna itu aku mengajukan kerja sama padamu" kata Alisya santai walau ia sudah menyadari jika Kenzo sedang mati-matian menahan emosinya.
"Tidak bisa! itu akan membahayakan kamu Alisya" tolak Kenzo mentah-mentah.
"Tapi dia harus mati karna itu janjiku padanya" kata Alisya datar yang langsung menyulut emosi Kenzo.
"Apa kamu benar-benar mau menukarkan nyawa kamu hanya untuk orang itu ha.....?" teriak Kenzo yang langsung berdiri menatap tajam Alisya.
"Kenapa tidak? Kamu tidak akan mengerti apa yang aku rasakan kehilangan kasih sayang orang tua di saat dini. buta akan cinta Ibu dan kasih Ayah hanya dia tempatku pergi setelah semua orang meninggalkanku tanpanya aku tidak akan bertemu kamu dan kamu tidak akan bertemu aku" balas Alisy teriak pula.
"Sepertinya mengajak kamu bekerja sama adalah ide yang salah. Tanpa mu aku masih cukup mampu untuk mwnghancurkannya" lanjut Alisya.
Deg
Kenzo menegang di tempat mendengar penuturan Alisya yang berarti tanpanya sekalipun ia akan tetap maju memulai perang. Kenzo yang sedang larut dalam pikirannya tidak menyadari jika Alisya sudah berjalan pergi meninggalkannya.
__ADS_1
"Ali......sya"
Mata Kenzo melotot saat tidak menemukan keberadaan Alisya di depannya.