
"Kamu dimana selama seminggu ini?" tanya Maya kepada Alisya yang sedang duduk santai di depannya.
"Vila" jawab singkat Alisya.
"Vila mana?" tanya Maya lagi
"Pinggir kota"
Maya yang mendengar jawaban Alisya semakin dongkol karna di jawab begitu singkat dan apa-apaan wajahnya itu bahkan dia tak merasa bersalah sedikitpun setelah membuat semua orang kalang kabut.
"Alisya bisa nggak kamu tuh jawab pertanyaan ku dengan benar jangan jawab hanya satu atau dua kata saja. kamu tau aku tuh dongkol banget pengen nyakar wajah tak berdosa mu itu" ucap Maya dengan greget menatap kesal Alisya.
"Aku memang berada di Vila Maya lebih tepatnya Vila tempat pemakaman Mommy dan Daddy" kata Alisya.
"Kamu pergi disana sendirian?" teriak Maya kaget.
"Jika tidak sendirian sama siapa lagi?" kata Alisya sinis.
"Terus gimana?"
"Apanya yang gimana?"
"Disana kamu ngapain saja Alisya?"
"Tidur, makan, dan jalan-jalan di pegunungan"
"Iiiiih Aku yang sensi atau dia yang emang nyebelin sih. atau mungkin dia lagi PMs kali ya makanya nyebelin atau jangan-jangan......" guman Maya menatap curiga Alisya.
__ADS_1
"Kenapa menatap ku seperti sedang mencurigai seorang pencuri"
"Kamu nggak kerasukan penunggu gunung 'kan Lis?"
Jedarrrr
Kali ini bukan lagi Maya yang kesal tapi Alisya langsung membulatkan mata moodnya yang tadi baik-baik saja kini runtuh sudah di ganti dengan hawa buruk.
"Jadi kamu menganggap aku kesurupan gitu?" Alisya bertanya dengan mata melotot ke arah Maya.
"Habisnya kamu aneh Alisya kamu tuh nyebelin" kata Maya.
"Sudahlah aku mau tidur saja" kata Alisya yang langsung bergegas pergi.
"Woy mau kemana bukan disana pintu keluarnya" teriak Maya.
"Woy aku nggak mau berbagi kamar"
"BODOH AMAT"
"Punya sahabat satu gini amat sifatnya. cuma bisa naikin darah terus bisa-bisa darah tinggi aku mikirin sifat Alisya itu" Guman Maya memijit pelipisnya.
Di kamar Alisya yang memang lelah dan capek langsung melemparkan dirinya di atas ranjang empuk milik sang sahabat.
"Mana mau aku balik ke apartemen pasti tuh pria plin plan ada disana" guman Alisya lalu menutup mata.
Sedangkan di tempat lain lebih tepatnya di apartemen Alisya seperti yang di perkirakan Alisya kini Kenzo berada di apartemen itu bersama Dirga yang duduk di depannya.
__ADS_1
"Jadi bagaimana?" Kenzo bertanya dengan datar dan dingin kepada Dirga.
"Saya sudah bertemu dengan Nona Alisya tadi di tengah jalan tapi kemungkinan besar dia ikut menginap di apartemen Nona Maya" terang Dirga.
"Kamu sudah bertemu dengannya?" tanya Kenzo dengan senyum terbit di bibirnya.
"Sudah Tuan" jawab Dirga.
"Tuan tidak tahu saja jika Nona Alisya bahkan mendoakan Tuan masuk rumah sakit" lanjut Dirga dalam hati.
"Kenapa dia belum datang juga?"
"Sepertinya dia tidak akan datang Tuan Nona Alisya pasti menginap di tepat Nona Maya" kata Dirga.
"Ya sudah tunggu apa lagi ayo kita jemput" ucap Kenzo beranjak berdiri.
"Percuma Tuan Nona Alisya tidak akan mau pasti sekarang sudah tidur lebih baik Tuan juga tidur ini sudah larut" kata Dirga bijak.
"Sebenarnya saya mengantuk Tuan jadi mohon mengertilah sedikit." lanjut Dirga dalam hati.
Kenzo yang mendengar penuturan Dirga langsung lemas dan berjalan gontai masuk ke dalam kamar Alisya karna disana kerinduannya akan sedikit terobati.
Sinar mentari pagi mulai menyinari bumi memamerkan sinarnya yang hangat kepada penghuni bumi.
Sinar mentari hangat membangunkan sosok yang masih terbungkus oleh selimut tebal itu.
"Hoammm sudah pagi ternyata" guman sosok itu yang tak lain adalah Alisya.
__ADS_1
"Maya aku balik dulu ya" pamit Alisya yang langsung beranjak turun dari ranjang.