
Sinar mentari masuk dalam kamar membangunkan sosok dalam selimut tebal itu titik sosok itu tak lain dan tak bukan adalah Maya yang baru saja terbangun padahal matahari telah tinggi.
"Astaga titik ini jam berapa tanda tanya "Guman Maya yang menatap jam yang berada di dinding.
"Jam 09.00" Pekik Maya
Maya dengan refleks langsung berdiri hingga matanya membulat sempurna saat menyadari Jika dia tidak mengenakan apapun.
"Astaga" Maya yang kembali menyambar selimut.
Wajah Maya langsung memerah saat mengingat apa yang baru saja mereka lakukan tadi malam antara dia dan Dirga.
"Aku melakukannya" guman Maya yang tersenyum-senyum sendiri.
"Maaf terlambat Tuan "kata Dirga yang baru masuk dalam ruangan yang memiliki cat berwarna hitam dan abu-abu ruangan itu berada dalam perusahaan Kenzo namun hanya beberapa orang yang mengetahuinya
Ruangan itu disebut ruangan eksekusi karena di ruangan itu para pengkhianat akan dihabisi. Selain sebagai ruangan eksekusi ruangan itu juga bisa menjadi ruangan rapat dadakan sama seperti sekarang di dalam tengah terjadi suasana yang mencekam.
Kenzo hanya menatap datar Dirga lalu memberi kode untuk segera duduk hingga kini mereka duduk semua menatap satu orang yang menjadi pemimpin mereka yaitu Kenzo.
"Ramos katakan!" Kata Kenzo datar yang melirik Ramos dengan ekor mata tajamnya wanita itu menginap di salah satu hotel milik Tuan. Tadi pagi mereka telah cek out dan sekarang mereka sudah menyewa Apartemen yang salah satu juga milik Tuan" ucap begitu jelas.
"Saya sudah menyuruh orang untuk mengawasi pergerakan mereka Tuan "Timpal Alvaro
"Ramos pastikan beberapa anggota kita untuk menjadi pelayan di mansion milikku
"Baik Tuan"
"Dan kamu Dirga" Kenzo menatap Dirga begitu dalam.
"Awasi dia. setelah dia bergerak kita akan bergerak" Kata Kenzo datar.
Sontak ucapan Kenzo barusan membuat semuanya kaget karena selama ini bagaimanapun Kevin membuat pula baik di dunia bahwa ataupun di dunia bisnis tak pernah satu kali pun Kenzo membalas. Namun kali ini mereka yakin Tuan mereka akan segera bertindak.
"Ramos terus pantau pergerakan kedua wanita licik itu dan kamu Dirga, awasi pergerakan Kevin setiap harinya," Perang Kenzo yang dibalas anggukan kepala oleh Dirga dan Ramos.
"Lalu kami bagaimana Tuan?" Alvaro dan Kris yang tak mendapatkan tugas.
"Tugas kalian berdua adalah mengurus markas selagi Ramos sibuk mengurus hal lain" Ucap Kenzo yang melirik kedua orang yang dianggapnya ceroboh itu.
Wajah Kris dan Alvaro langsung murung saat mendengar tugas yang di berikan tidak sesuai harapan keduanya. Namun mereka juga tidak berani untuk protes karena yakin suasana hati Sang Bos dalam keadaan yang buruk. Daripada mendapat masalah lebih baik diam cari aman saja pikir Alvaro dan Kris.
"Sebenarnya aku ingin mengajukan cuti Namun sepertinya ini bukan waktu yang tepat" Kata Dirga dalam hati. "Namun aku juga tidak bisa tinggal diam. Aku harus segera memberi status yang jelas kepada Maya apalagi kami sudah...."
"Ada apa Dirga?" Tanya Kenzo yang tiba-tiba membuat Dirga tersentak kaget.
"Tidak apa-apa Tuan" elak Dirga.
"Katakan saja. Aku tau ada hal yang ingin kamu bicarakan bicaralah!"
Huhhh
Dirga hanya diam menarik nafas dalam dalam lalu mengeluarkannya secara pelan-pelan.
"Aku ingin menikahi Maya Tuan. Aku tahu saat ini waktunya kurang tepat tapi jika bisa, bisakah Tuan memberi ku waktu satu hari saja agar aku bisa menikahi kekasihku walau hanya di Catatan sipil terlebih dahulu tidak apa-apa. Mengenai pesta bisa di undur," Terus terang Dirga yang menatap Kenzo serius.
"Kapan kamu akan menikahinya?"
"Lusa Tuan" Jawab Dirga tegas dan yakin.
"Wow kenapa bro? Buru-buru amat," Goda Ramos yang menaik turunkan alisnya.
"Aku sudah memakannya" Balas Dirga dengan santai.
__ADS_1
"APAA..." Teriak Alvaro dan Kris.
Mereka berdua jelas tahu Dirga sama seperti Kenzo dingin dan tidak suka di dekati wanita.
"Lakukanlah. Aku dan Alisya akan hadir di pernikahan kamu" ucap Kenzo.
"Kamuijuga pasti akan datang menjadi saksi pernikahan dan saksi kamu menjemput kebahagiaan," Ucap Ramos yang merangkul bahu Dirga layaknya saudara.
"Aku iri" Guman Alvaro yang dapat didengar semua orang.
"Makanya buruan ungkapin jangan malah di pendam mulu. kutikung baru tahu rasa kamu," Ejek Kris.
"Aku akan memotong kepalamu sialan!" Teriak Alvaro kesal yang langsung mencekik leher Kris.
"Satu persatu mereka mendapatkan kebahagiaan. lalu aku kapan? Adakah wanita di dunia ini yang mau menerimaku? Menerima segala kekurangan yang ada pada diriku?"
Ramos menatap satu persatu teman temannya dengan bibir yang menyunggikan senyuman lebar. Namun, tidak dengan hatinya dan matanya mengatakan segalanya. Bibirnya tersenyum tapi tidak dengan matanya yang menatap Sendu dan hampa.
"Akhirnya aku sampai. Yona Aku tidak akan membiarkan kamu merusak kebahagiaan orang lain seperti ibumu yang datang menghancurkan kebahagiaan Eomaku," Guman wanita muda yang berpakaian serba hitam.
Wanita itu keluar dari bandara lalu naik Taksi menuju tempat baru yang akan menjadi tempat ia tinggal selama berada di negara itu.
"Ini ongkosnya Paman," Ucap wanita muda itu yang menyodorkan pembayarannya pada sopir taksi.
"Ini kebanyakan Nona" kata sopir taksi itu yang melihat jika uang yang diberikan wanita itu kelebihan.
"Tidak apa-apa Paman, ambil saja anggap saja Paman sedang mendapat rezeki tambahan," Kata wanita muda itu yang segera turun dari taksi.
"Aku harus mencari tahu dulu Siapa gadis itu?" Guman wanita itu yang memainkan tangannya di atas keyboard hingga beberapa menit kemudian.
"Sial. Semua informasinya di kunci lalu aku harus mencari di mana "
Wanita itu mengajak acak rambutnya hingga berantakan namun wajahnya semakin terlihat cantik dengan wajah khas Korea.
"Internet Clarissa!" Pekik wanita itu yang memiliki nama Clarissa.
"Dasar dungu"
Clarissa segera duduk tenang di depan laptopnya. "Wah ternyata dia pewaris salah satu perusahaan besar dan juga istri dari Tuan Kenzo," Guman Clarissa yang membaca informasi tentang Alisa.
"Kim Yoona mungkin Eomaku kalah dari ibumu. Namun aku anaknya tidak akan pernah membuat kamu hidup tenang apalagi menghancurkan rumah tangga orang lain seperti ibumu yang ****** itu "
Tangan Clarissa mengepal sempurna saat mengingat tentang orang yang bernama Yoona itu dan bagaimana perlakuan mereka terhadapnya selama ini.
Tok
Tok
" Masuk "
Ceklek
"Byy"
Kenzo yang menunduk langsung mendongak saat mendengar suara itu masuk dalam gendang telinganya.
"Baby kamu datang?" Kenzo segera berdiri menyambut kedatangan sang istri langsung memeluknya.
"Aku datang membawakan makan siang mu," Kata Alisya yang mengangkat rantang yang berada di tangannya.
"Aku yang masak loh" tambah Alisya dan yang senyum manis.
"APAAA"
__ADS_1
Kenzo menarik tangan sang istri lalu memeriksanya memutar-mutar badan Alisya memastikan jika sang istri tidak terluka.
"Lain kali kamu tidak perlu memasak, aku takut kamu di ciprat minyak panik," Kata Kenzo dengan cemas.
"Aku sudah terbiasa kok byy"
"Tetap saja. Aku tidak mau kamu memasak lagi," Ucap Kenzo datar.
"Baiklah, mari kita makan siang bersama karena setelah ini aku akan menemui Maya," Terus terang Alisya.
"Baiklah"
Kenzo dan Alisya makan siang bersama dengan masakan Alisya yang begitu pas di lidah Kenzo. Namun Kenzo lebih takut jika istrinya itu terluka jadi dia hanya diam saja.
"Byy aku pulang dulu ya," Pamit Alisya yang memperbaiki rantang miliknya.
Cup
"Berhati-hatilah" Pesan Kenzo yang tak lupa mengecup kening dan bibir sang istri singkat.
Alisya hanya tersenyum lalu keluar dari ruangan Kenzo yang langsung berpapasan dengan Maya. Ternyata keduanya telah merencanakan semua itu.
Sampai di lantai bawah Alisa hanya tersenyum miring ke arah meja resepsionis.
"Mereka...."
Maya menatap datar kedua wanita yang ada dalam mobil itu yang tak lain dan tak bukan adalah Alya dan Ariana.
" Sudah nanti kita bahas. Kita harus pergi dari sini dulu," Lerai Alisya yang langsung masuk dalam mobil di ikuti dengan Maya hingga mobil itu pergi meninggalkan area perusahaan.
Ceklek
"Tuan"
Kenzo yang baru duduk di kursi dikagetkan dengan pintu ruangan yang dibuka secara tiba-tiba oleh Dirga.
"Dirga kamu......"
"Gawat tuan" Potong Dirga yang langsung panik.
"Ada apa?" Tanya Kenzo datar.
"Kedua Wanita itu sudah berada di bawah," Ucap Dirga dengan satu kali tarikan nafas.
"Apa...?" Kenzo langsung menggebrak meja dengan keras.
Brak
"Alisya baru saja keluar bagaimana jika..."
"Mereka tidak berpapasan karena Maya juga ikut bersama dengan Nona Alisya"
Mendengar itu Kenzo bisa bernapas lega dan kembali duduk tenang di atas kursinya.
"Biarkan saja mereka naik" Kata Kenzo datar.
"Baik Tuan" Balas Dirga yang langsung pergi dari ruangan Kenzo.
Sedangkan di lantai bawah terlihat dua orang wanita beda usia memasuki lift menuju lantai paling atas.
"Anak bibi sangat kaya rupanya" Kata wanita muda yang begitu terpesona dengan semua yang ada di perusahaan Kenzo.
"Kan bibi sudah bilang kalau dia itu sangat kaya. Jika kamu bisa menikah dengannya maka kamu akan mendapatkan semua yang dia miliki termasuk perusahaan ini," Ucap wanita tua itu dengan senyum licik.
__ADS_1