
Alisya yang berada di kamar mendengus kesal Karna Kenzo melarangnya untuk keluar tak punya pilihan lain Alisya hanya bisa menyambar ponselnya lalu mengotak atik benda persegi serbah canggih itu.
BRAK....
Sedang duduk tenang entah apa yang di lakukan pada benda yang namanya ponsel itu tiba-tiba pintu di buka secara kasar membuat Alisya yang sedang fokus di ponsel langsung menoleh ke arah pintu.
"Dia....? bukankah dia pelayan waktu itu aku kira dia sudah mati ternyata belum juga" kata Alisya dalam hati menatap sinis pelayan yang sedang menatapnya tajam itu.
"Apa kamu tidak punya sopan santun terhadap majikan kamu?" Alisya bertanya dengan menatap tajam pelayan di depannya itu yang tak lain dan tak bukan adalah Amara.
"Majikan saya Tuan Kenzo" jawab Amara ketus
"Dan jangan lupa saya adalah istri dari Tuan mu itu. jangan memancing amarah ku hingga membunuh mu detik ini juga" ucap Alisya penuh akan aura membunuh.
Deg
Amara bisa merasakan akan tanda adanya bahaya namun karna ego yang tinggi membuatnya mengabaikan rasa takut itu nun apa yang di katakan oleh Alisya berikutnya membuatnya pucat pasi.
"Kamu pikir suamiku akan keberatan jika aku meminta nyawa 1 pelayan di mension ini? jawabannya tentu tidak apa kamu pikir nyawa mu itu berharga disini" ucap Alisya dengan sinis.
"Wanita ini benar-benar...... aku harus segera menyingkirkannya tapi aku harus hati-hati karna bisa-bisa Tuan malah membunuh ku" kata Amara dalam hati.
"Tak perlu takut aku belum akan membunuh mu kok karna sekarang aku nggak punya mainan jadi sementara waktu kamu yang jadi. mainan aku"kata Alisya tersenyum manis ke arah Amara.
"Setelah aku bosan aku akan mencincang habis tubuh buatan pabrik mu itu eh.... buatan pabrik? sepertinya aku harus menyelidiki asal usul wanita ini walau menjadi pelayan dengan gaji yang fantasi tapi nggak mungkin dia bisa melakukan operasi hanya dengan gaji menjadi pelayan itu pun di beberapa tempat." monolog Alisya dalam hati memperhatikan tubuh Amara.
Amara yang melihat tatapan Alisya langsung menegang dia tau Alisya sedang menilainya tapi entah kenapa dia merasakan akan tanda bahaya.
"Maafkan saya Nyonya, saya di perintahkan Tuan untuk membawakan anda cemilan" kata Amara berusaha tersenyum walau paksa.
"Taruh saja di meja lalu keluar" titah Alisya.
Amara segera menyimpan nampan yang berisi beberapa cemilan itu di atas meja dengan menahan sekuat tenaga agar tidak membunuh Alisya sekarang.
Setelah menyimpan nampan itu tanpa kata Amara langsung keluar dari kamar itu dengan wajah memerah menahan amarah.
Alisya yang melihat wajah Amara yang memerah tiba-tiba saja tersenyum miring matanya memancarkan tanda bahaya tapi sayangnya tidak ada yang mengetahui itu.
Alisya langsung mengotak Atik ponselnya menghubungi Bimo untuk membantunya mencari identitas Amara.
__ADS_1
"HALLO kak"
"Ada apa Alisya?" tanya Bimo di sebrang sana.
"Tolong bantu aku cari identitas seseorang fotonya akan aku kirim" ucap Alisya.
"Baiklah" jawab Bimo.
Alisya langsung mematikan sambungan telfonnya lalu mengirim foto Amara yang di ambil secara diam-diam oleh Alisya tadi.
Ting
Bimo yang memang sedang menunggu pesan dari Alisya langsung membuka ponselnya melihat pesan Alisya hingga dahinya mengerut dalam.
"Apa pria kaku itu membuat ulah lagi? jangan sampai dia mengkhianati Adikku lagi akan aku pastikan aku benar-benar akan membunuh b*jingan itu"Guman Bimo dengan kesal.
Bimo dan Kakek XU sekarang sudah berada di mension mereka di China karna setelah acara pernikahan Alisya selesai mereka berdua langsung terbang kembali ke China karna urusan di perusahaan sudah menumpuk di sebabkan Alisya tidak ingin mengambil alih perusahaan itu.
Walau begitu Bimo tak mau mengambil alih bahkan dia hanya mengajukan akan mengurus perusahaan itu dengan baik namun pewaris sesungguhnya tetaplah Alisya.
Bimo tanpa berlama-lama segera beranjak berdiri mengambil Leptop lalu mulai mencari tau identitas orang yang di kirimkan Alisya padanya.
"Cih hanya pejabat kecil berani sekali mengusik adik ku lihat saja apa yang aku lakukan pada tua Bangka ini" kata Bimo menatap kesal sosok pria paruh baya yang sedang duduk di kursi di belakangnya berdiri sosok wanita yang di inginkan Alisya yang tak lain adalah Amara.
Bimo segera menggerakkan Kembali jari-jari tangannya di atas keyboard ternyata sedang mengirimkan data Amara kepada Alisya.
"Cih berani sekali dia mengusik adik ku aku harus memberi peringatan kepada si pria kaku itu" guman Bimo yang langsung mencari ponselnya.
Setelah menemukannya Bimo langsung mengotak atik benda itu lalu menelfon Kenzo.
"Ada apa?" tanya Kenzo yang langsung the to point'.
"Kamu dimana?" tanya Bimo.
"Di jalan menuju mension"
"Kamu meninggalkan Alisya sendirian di mension kamu ha....? jika dia kenapa-kenapa bagaimana bodoh" teriak Bimo yang langsung emosi.
"Aku menempatkan....."
__ADS_1
"Tapi kamu lupa jika musuh mu ada di dalam mension itu s*Alan. wanita sundal itu pasti mengusik adik ku jika tidak mana mungkin Alisya menyuruhku mencari tahu data wanita itu" bentak Bimo menyalah-menyalah.
Tut
"HALLO.... KENZO.....! sial malah di matikan" gerutu Bimo.
Sedangkan di tempat lain Kenzo yang mendengar perkataan Bimo langsung mematikan sambungan telfon sepihak lalu menginjak pegal Gas dengan keras hingga mobil Kenzo melaju seperti angin.
"Maafkan aku baby harusnya aku tidak meninggalkan mu sendirian di mension. wanita sundal itu awas saja jika berani menyentuh istri ku akan aku cincang-cincang tubuhmu menjadi kecil-kecil" ucap Kenzo yang di Landa kekhawatiran.
2 menit kemudian Kenzo sampai di mension mereka Kenzo bahkan memarkirkan mobilnya sembarangan lalu berlari masuk dalam mension yang langsung berlari menaiki tangga menuju lantai 2 bahkan Kenzo lupa jika di mension itu ada lift.
BRAK...
"Sa....sayang hosh...."
Kenzo dengan panik menghampiri Alisya dengan masih napas yang tersengal-sengal karna habis berlari dari lantai bawah sampai kesini.
Sedangkan Alisya yang dari tadi bersantai memakann cemilan dengan memainkan ponselnya hanya bisa menatap bingun Kenzo yang terlihat sangat cemas.
"Kamu tidak apa-apa kan baby?" Kenzo bertanya dengan masih sisa-sisa napasnya yang memburu.
"Aku nggak apa-apa emang ada apa? perasaan tidak ada penyerangan." kata Alisya menatap heran Kenzo.
"Tapi tadi......." Kenzo menjeda kalimatnya memperhatikan Alisya dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Tadi apa byy" tanya Alisya yang ikut penasaran.
"Ah bukan apa-apa tadi aku hanya merasa cemas dan khawatir aku pikir kami dalam bahaya" kata Kenzo bohong.
"Lebih baik aku tidak memberi tahu Alisya jika Bimo tadi menelfon ku" kata kenzo dalam hati.
"Eh byy bisakah kau berikan aku pelayan mu yang bernama Amara itu untuk menjadi mainan ku?"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ayo mampir kesini ceritanya seru dan tak kalah menegangkannya lho😉
__ADS_1