
Beberapa hari sudah berlalu namun semenjak kematian Bi Ina, Alisya menjadi lebih pendiam dan kerjanya hanya melamun. seperti sekarang Alisya hanya duduk di samping jendela memandang langit malam dengan tatapan kosong.
" Sampai kapan kamu akan seperti ini Alisya? Bi Ina itu meminta untuk membalas dendam bukan malah melamun dan menangisi kepergiannya" teriak Maya yang sudah sangat kesal.
Alisya menceritakan kepada Maya jika Bi Ina meninggal karna hukuman yang di dapat dari Alexa tapi Alisya tidak bercerita jika dia bukan anak kandung Edric dan Reva.
Maya sudah cukup kesal kepada Alisya sudah berapa hari ini Alisya tidak membuka suara makanpun harus di paksa itupun hanya beberapa sendok saja membuat Maya seperti sedang merawat bayi saja.
"Ayo bangkit dan balaskan dendam BI Ina sekarang bukan hanya dendammu tapi ada juga dendam BI Ina" kata Maya yang berhasil mengalihkan tatapan Alisya.
"Lebih tepatnya balas dendam Ayah dan ibuku" batin Alisya yang mengepalkan kedua tangannya lalu bangkit dari duduknya.
Alisya berjalan ke arah meja rias dan mengambil ponselnya lalu mulai mengotak atik bendah itu kemudian dia menyimpan kembali namun ada yang berbeda darinya yaitu sebuah seringaian kejam terlukis indah di sudut bibirnya.
"Syukurlah akhirnya dia mau bergerak nggak kayak patung saja." kata Maya dan hati mengucapkan syukur.
"Keluar sana" usir Alisya.
Maya yang mendengar pengusiran Alisya langsung membelalakkan mata menatap tak percaya kepada Alisya yang hanya berekspresi datar.
"Kamu ngusir aku?" tanya Maya syok namun di balas dengan anggukan kepala oleh Alisya.
"Setelah apa yang aku lakukan selama hampir 1 Minggu ini ha? Merawat mu layaknya mengurus bayi seenak jidat kamu nyuruh aku untuk keluar!" semprot Maya melototkan matanya kepada Alisya.
"Mau bantu aku balas dendam atau tidak?"
"Tentu bantulah kamukan sahabat aku satu-satunya"
"Kalau begitu sekarang keluar! aku mau istirahat untuk mengumpulkan energi untuk menyerang keluarga sampah itu "
"Ah seperti itu, baiklah istirahatlah aku akan keluar"
Maya langsung berjalan keluar dengan cepat jujur walau Alisya masih berwajah datar setidaknya sahabatnya itu punya semangat hidup kembali.
Sedangkan Alisya langsung mengambil kembali ponselnya saat sudah memastikan Maya benar-benar pergi dari kamarnya.
"Hallo Anna"
"No....nona"
"Lanjutkan rencana ke 2"
"Baik Nona"
"Jangan lupa campurkan obat itu dalam setiap minuman pasangan itu tapi ingat sedikit demi sedikit"
"Baik Nona, lalu bagaimana dengan Nona Alexa? "
"Teror lagi jika perlu tingkatkan terornya jangan hanya tikus dan ayam ganti dengan ular"
"Baik Nona"
Tut
Tut
Tut
Alisya langsung mematikan ponselnya lalu membuangnya ke sembarangan arah lalu naik di atas ranjang untuk tidur karna besok perang sesungguhnya akan di mulai.
Sedangkan di tempat lain Kenzo baru saja selesai membersihkan diri lalu duduk di pinggir ranjang dengan pikiran entah kemana.
Dret
Drett
Drett
Lamunan Kenzo di sadarkan dengan getaran ponselnya yang berada di atas kasur. Kenzo mengambil lalu matanya berbinar saat melihat nama Alisya mengirimkannya pesan.
"Ternyata dia sudah siap untuk maju" smirk Kenzo.
__ADS_1
Kenzo naik di atas ranjang king sizenya dengan wajah yang berseri-seri karna mendapat pesan dari kekasihnya yang sudah sangat dia rindukan.
********
Pagi-pagi sekali Alisya datang ke perusahaan sampai di perusahaan Alisya langsung di sambut oleh Galang sekretaris pribadinya.
"Semua sudah lengkap?" tanya Alisya menatap dalam map di atas meja.
"Sudah Nona" jawab Galang tegas.
"Bagus. Bawakan berkas yang harus aku tanda tangani aku tidak punya banyak waktu"
Mendengar perkataan Alisya yang tidak punya banyak waktu Galang dengan segera berlari keluar lalu kembali dengan beberapa berkas di tangannya.
"Ini sudah semua Nona saya sudah membacanya dengan teliti, Nona hanya perlu menanda tangani maka selesai"jelas Galang.
"Hm" Alisya hanya berdehem lalu mengibaskan tangannya tanda menyuruh Galang untuk keluar.
Alisya langsung mengambil satu persatu berkas itu lalu membubuhi tanda tangannya di setiap berkas itu.
2 jam kemudian
"Akhirnya selesai" guman Aliya melihat jam di pergelangan tangannya.
"Sial aku terlambat" umpat Alisya lalu menyambar tasnya dan berjalan cepat keluar ruangan.
"Nona"
"Urus semuanya aku ada urusan" potong Alisya meninggalkan Galang begitu saja.
Alisya mengendarai mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata menuju perusahaan Kenzo. sampai di perusahaan Alisya langsung masuk menuju lift khusus CEO.
Kenapa tidak ada yang menghentikannya? Karna Kenzo 2 hari yang lalu memaksa setiap karyawan harus bisa membedakan mana Alisya dan mana Alexa.
BRAK
Kenzo yang sedang fokus dengan Leptopnya langsung melihat ke arah pintu.
"Baby" Kenzo alnhsung berdiri lalu berjalan ke arah Alisya lalu mendekapnya.
"Aku baik-baik saja"
"Syukurlah" kata Kenzo lalu mengecup kening Alisya.
"Ayo duduk sebentar lagi pengacaranya akan datang"
Kenzo dan Alisya duduk di sofa dengan tangan Kenzo yang tidak melepaskan tangan Alisya dari genggamannya sedangkan Alisya juga nampaknya mulai dingin terbukti dengan dia menyandarkan kepalanya di dadah bidang Kenzo tanpa di minta oleh Kenzo.
"Mungkin besok atau lusa Edric akan datang disini mengajukan kerja sama kamu setujui saja karna propasalnya aku yang buat tapi sebelum itu dia harus menanda tangani ini" kata Alisya yang meletakkan sebuah map coklat di depan Kenzo.
"Tenang saja semua akan berjalan sesuai keinginan mu" kata Kenzo yang terus menghujam ubun-ubun Alisya dengan kecupan-kecupan ringan.
"Bisakah aku bermain dengan mereka juga?" tanya Kenzo karna tangannya sudah sangat gatal setelah mengetahui jika pengasuh wanitanya meninggalkan karna Alexa.
"Tidak! dia mangsaku bukan mangsamu. jika ingin bermain, bermain saja dengan Black Rose bukannya mereka selalu mencari perkara dengan mu?"
Sontak Kenzo langsung kaget dan reflek menjauhkan tubuh Alisya darinya.
"Darimana kamu tahu?" Kenzo mengernyitkan alis melihat Alisya yang tersenyum aneh.
"Jangan lupa jika kemampuanku dalam hal menghacker lebih unggul daripada anak buahmu" kata Alisya tersenyum penuh kemenangan.
"Baby jangan cari tau tentang mereka lagi. mereka berbahaya aku nggak mau kamu sampai bisa menjadi target mereka" kata Kenzo yang langsung panik.
"Hm" Alisya hanya berdehem dan menganggukan kepala sebagai jawaban.
"Kamu tidak tahu saja jika lawanku sekarang adalah mafia terkenal setelah kamu" lanjut Alisya dalam hati.
"Entah aku harus apa baby dengan kemampuan kamu itu. aku bangga namun aku juga takut mereka mengincar kamu apalagi musuh besarnya belum menunjukan diri" batin Kenzo yang seketika khawatir mengingat ia mempunyai seseorang yang sangat membencinya padahal baik Kenzo maupun anggotanya tak pernah mengusik kelompok itu.
Tok
__ADS_1
Tok
Tok
"Masuk" sahut Kenzo.
"Saya membawa Tuan Justin Tuan" kata Dirga melirik Pria yang bersetelan rapi di sampingnya.
"Hm" Kenzo segera mengibaskan tangannya mengusir Dirga.
Tanpa Dirga dan Kenzo sadari tidak ada yang menyadari ekspresi terkejut Alisya melihat pria yang bernama Justin itu begitu juga sebaliknya yang terkejut melihat gadis di depannya yang akan menjadi kliennya.
"Jadi dia orangnya?" tanya Alisya menatap aneh pria di depannya yang sudah bergetar entah karena apa.
"Iya. Dia adalah pengacara hebat yang selalu memenangkan kasusnya tidak peduli salah atau benar" jawab Kenzo datar dengan Seringaian yang menakutkan.
"Baiklah kita langsung berangkat" kata Alisya yang alngsung beranjak namun tangannya di cekal oleh Kenzo.
"Aku ikut" kata Kenzo datar.
"Terserah" jawab Alisya acuh tak acuh.
Akhirnya mereka bertiga keluar dari ruangan Kenzo di luar ruangan Dirga sudah menunggu mereka lalu menuju Lift dan turun menuju lobby.
"Pake mobilku" kata Kenzo lalu menggandengkan tangan Alisya dan membawanya di mobil miliknya.
Tanpa mereka ketahui ada seseorang yang terus mengawasi mereka dari jarak yang nggak terlalu jauh dan sebuah kamera di tangannya.
Cekrek
Cekrek
Cekrek
"Dapat kau" Guman sosok itu dengan senyum miring.
*******
"Buka"
"No...nona Alisya"
"Buka" sentak Alisya membuat penjaga itu kaget lalu membuka pagar dengan cepat.
Prok prok prok
"Sunggu keluarga yang sangat harmonis" kata Alisya yang masuk tiba-tiba.
"Kamu...... untuk apa anak pembawa sial seperti kamu menginjakkan kaki di mensionku ha.......?" teriak Edric.
"Mensionmu? bukankah ini mension milik kakek yang di wariskan padaku tapi kalian merebutnya lalu mengganti nama atas nama anda Tuan Edric yang terhormat." sarkas Alisya tersenyum Sinis.
Sontak membuat Edric dan Reva membulatkan kedua mata mereka lalu saling melirik satu sama lain.
"Darimana anak pembawa sial ini tau tentang semua ini." batin Edric gelisah.
"Darimana kamu dengar tentang hal itu?" tanya Reva membuka suara.
"Bi ina"
"Cih bahkan wanita tua itu sudah mati masih saja merepotkan"
PLAK
"ALEXA....." teriak Edric dan Reva karna Alisya menampar Alexa.
"Dasar anak pembawa sial" teriak Reva mengagungkan tangannya untuk menampar Alisya namun langsung terhenti saat mendengar suara berat nan dingin.
"Jauhkan tangan anda dari wanitaku" kata Kenzo datar menatap tajam Reva.
"Tuan kenzo" guman Reva dan Edric sedangkan Alexa hanya bisa mengumpat karna bibirnya sobek.
__ADS_1
"Langsung saja. kemasi semua barang-barang kalian lalu keluar dari mension ini" kata Alisya dengan senyum penuh kemenangan.
"APA......."